Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Kabar Terkini
  • Kabar UGM

Palestina Berencana Tingkatkan Pengiriman Mahasiswa ke UGM

  • Kabar UGM
  • 7 Februari 2010, 10.10
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

UGM

Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., menerima kunjungan Duta Besar (Dubes) Palestina untuk Indonesia, Fariz N. Mehdawi, Senin (8/2) di Ruang Rektor. Dalam kunjungan tersebut Dubes Palestina menegaskan Palestina akan terus menambah dan mengirim mahasiswanya untuk berkuliah di UGM.

“Dubes Palestina akan mengirim mahasiswa ke Indonesia. Menurutnya, banyak pilihan tempat kuliah, seperti Jakarta dan Bandung, tapi dia tetap memilih UGM. Menurutnya, nilai yang dikembangkan UGM sama dengan di Palestina,” kata Sekretaris Eksekutif UGM, Drs. Djoko Moerdiyanto, M.A., kepada wartawan usai mendampingi Rektor menerima Dubes Palestina.

Disampaikan Djoko, pengiriman mahasiswa Palestina ke Indonesia banyak mendapat dukungan beasiswa dari Departemen Pendidikan Nasional. Di UGM, saat ini terdapat tiga orang mahasiswa asal Palestina yang mengambil program pascasarjana. “Dubes mengaku alumni kita sangat loyal dengan universitas. Nama universitas (UGM) ini sudah menjadi nama yang tidak asing lagi bagi penduduk Palestina,” kata Djoko menirukan ucapan Dubes.

Dalam kesempatan tersebut, Dubes Palestina juga sempat menyinggung kondisi Palestina saat ini yang justru lebih aman dari sebelumnya kendati masih ada beberapa wilayah yang masih terjadi konflik. “Kondisi sekarang jauh lebih aman. Memang ada daerah masih terlibat perang. Turis juga semakin banyak,” katanya.

Saat ini, penduduk Palestina yang tinggal di negaranya berjumlah 4 juta jiwa, sedangkan yang berdomisili di luar wilayah negaranya diperkirakan lebih dari 5 juta orang. “Mereka yang di luar negara, bekerja di sektor informal dan industri masih memikirkan keadaan di Palestina, bahkan sering mengirim bantuan dan biaya untuk belajar,” tambahnya.

Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., menyambut itikad baik Dubes Palestina. Sudjarwadi menuturkan nilai-nilai yang dibangun oleh UGM sejak berdirinya, yakni nilai kesejahteraan, keadaban, dan kebahagiaan. “Sejak berdirinya, kampus ini ternyata tidak pernah berubah, yakni senantiasa demi kemaslahatan rakyat dan bangsa Indonesia,” kata Rektor. Usai bertemu dengan Rektor, Dubes Palestina menyampaikan kuliah umum di hadapan mahasiswa di Ruang Sidang I Kantor Pusat UGM. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada