Sisi Humanitas dari Pandemi COVID-19

Sebagaimana yang kita ketahui kasus pandemi COVID-19 telah menyentak warga dunia. Self Quarantiee (karantina mandiri), social distancing bahkan lockdown merupakan bentuk kebijakan masing-masing pemerintah dipakai untuk menyikapi laju penyebaran virus Corona. Sudah pasti kebijakan ini berdampak langsung terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Selama masa tanggap darurat, setiap orang harus mengisolasi diri di rumahnya. Area bisnis, industri, pendidikan, dan hiburan juga menerima dampak yang sama. Kegiatan-kegiatan publik diundur dan bahkan dibatalkan demi keselamatan jiwa. Bagi masyarakat modern, kebiasaan berdiam diri di rumah (rebahan) merupakan pekerjaan pemalas, kini menjadi upaya menyelamatkan dunia saat pandemi muncul. Kini orang tidak bekerja tentu berdampak terhadap kebutuhan logistik keluarga. Akibatnya tidak sedikit orang melakukan panic buying, mengkritik pemerintah tanpa solusi, dan tetap melakukan rutinitas walau harus terpapar virus Corona.

Namun, masih ada sisi humanitas dibalik itu semua. Salah satunya ialah share suffer (berbagi penderitaan). Dunia pasti sudah kenyang mendengar blokade Gaza, kekerasan terhadap etnis Uighur, bom bunuh diri Afganistan, dan masih banyak lainnya. Sebagian besar kasus tersebut di tujukan kepada umat Islam yang hidup tanpa pemimpin (khilafah). Aneka fitnah tersebut terus berlanjut dan tanpa berkesudahan. Namun, dunia seakan-akan menutup mata dan malah mementingkan urusan duniawi ketimbang urusan kemanusiaan. Namun, semuanya berubah karena virus Corona merajai dunia.

Secara tidak langsung, kita harus berterima kasih kepada virus Corona karena telah mengajarkan banyak hal. Namun, maksud ini bukan berarti mengapresiasi virus ini membunuh banyak orang. Kita dituntut untuk belajar peka dan empati kepada siapapun. Kita harus membantu tenaga medis, pemerintah, dan bahkan saudara muslim yang dirudung banyak fitnah. Dari sini sikap mawas diri kita tumbuh selama masa lockdown berlaku. Di sini lah ungkapan berlaku “Corona bertindak, pembelajaran mutlak dilakukan.”

Author: Abang Adek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.