Ibn Sina: Bagaimana Ia Menjadi Luar Biasa

source: Wikipedia Ibnu Sina

source: Gambar wikipedia Ibnu Sina


Ibn Sina: Bagaimana Ia Menjadi Luar Biasa

Oleh : Amrina Rosyada (Staf Media Center Jama’ah Shalahuddin)

Meminjam istilah Malcolm Gladwell pada salah satu karyanya, Outlier, istilah outlier digunakan untuk orang-orang yang mungkin bisa dibilang sangat spesial, luar biasa, memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata. Para outliers inilah yang sering kita sebut “jenius”.  Jika outliers adalah orang-orang yang paling hebat, paling terkenal, paling berkilau namanya, maka pantaslah kiranya apabila kita sebut Ibn Sina sebagai outlier.

Ibn Sina adalah seseorang yang ahli di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Salah satu cabang ilmu yang melejitkan namanya adalah ilmu kedokteran dengan salah satu karyanya yang luar biasa, The Canon of Medicine (dalam judul aslinya Al-Qanun fi Ath-Thiib) yang sampai saat ini masih menjadi salah satu rujukan dalam mempelajari ilmu kedokteran. Di samping ilmu kedokteran, Ibn Sina juga ahli di bidang ilmu yang lain, misalnya psikologi. Ia menulis beberapa karya yang membahas psikologi, seperti kitab An-Najat. Karya ini, lagi-lagi, menjadi bahan dan rujukan sejak dahulu untuk mempelajari ilmu yang terkait. Tak hanya itu, kitab ini juga diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa lain seperti bahasa latin dan bahasa Inggris.

Menurut Gladwell (2011), outlier pada akhirnya bukanlah outlier. Mereka tidak lahir dari ketiadaan. Para outlier muncul dalam kombinasi waktu dan kesempatan-kesempatan yang tepat. Misalnya, sebut saja salah satu tokoh yang paling terkenal, Bill Gates. Dia adalah pendiri salah satu perusahaan paling besar sedunia, Microsoft, dan menjadi salah satu tokoh paling kaya di dunia. Nyatanya, Bill Gates lahir di saat yang tepat dan memiliki kesempatan-kesempatan yang dapat menjadi batu loncatan besar bagi kesuksesannya. Dia lahir dari keluarga kaya yang dapat memberiya fasilitas pendidikan berupa komputer di saat komputer masih merupakan benda yang sangat langka di dunia dan hanya kalangan tertentu yang dapat mengaksesnya. Dia mempelajari dan bereksperimen dengan komputer serta pemograman selama masa remajanya dan di bangku kuliah. Saat ia dewasa, komputer mulai berkembang dan dia menjadi salah satu dari sedikit orang yang ahli di bidang komputer. Kesempatan-kesempatan terbuka lebar untuknya, dan ketika saatnya datang, jadilah ia seperti Bill Gates yang kita tahu saat ini : jenius komputer.

Kisah Ibn Sina agaknya memiliki beberapa kesamaan dengan Bill Gates. Kisah ini dapat kita baca dalam autobiografi yang ditulisnya sendiri dengan judul Al-Qifti (diejawantahkan dalam The Life of Ibn Sina: A Critical Edition and Annotated Translation karya William E. Gohlman). Dalam karyanya ini, Ibn Sina menjelaskan tentang dirinya sendiri, mulai dari latar belakang keluarganya, pendidikannya, hingga berbagai pengalaman hidupnya.

Ayah Ibn Sina berasal dari sebuah dusun bernama Balkh. Dari sana, beliau ditunjuk oleh Nuh ibn Mansur, pemimpin Dinasti Samaniyyah, untuk menjadi pemimpin di salah satu area di kawasan elit kota Bukhara. Area ini bernama Kharmaytan yang merupakan salah satu area penting di wilayah Bukhara. Di dekat desa itu, terdapat desa bernama Afshana. Di situlah ayah Ibn Sina menikah dan menetap. Ibn Sina sendiri kemudian berpindah ke Bukhara.

Pendidikan Ibn Sina menjadi perhatian serius ayahnya. Pada masa itu, pendidikan untuk anak sangat berbeda dengan saat ini. Pendidikan merupakan sesuatu yang mahal dan hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu saja, misalnya para bangsawan dan hartawan. Memiliki orang tua yang merupakan pejabat pemerintah, Ibn Sina mendapatkan kesempatan untuk belajar dari banyak guru. Pola pendidikan yang diterima Ibn Sina pun sangat berbeda dengan pola pendidikan kita saat ini. Ayah Ibn Sina memanggil guru yang ahli di bidangnya untuk mengajari Ibn Sina dan sudaranya berbagai ilmu pengetahuan. Pertama-tama, Ibn Sina belajar tentang Al-Qur’an dan adab. Kemudian, ia mempelajari filsafat, geometri, dan matematika. Dalam mempelajari filsafat, ayah Ibn Sina memanggil seorang guru bernama Abu Abdillah An-Natili dan mempelajari buku Isagoge. Ibn Sina adalah pelajar yang cerdas sehingga dapat menguasai suatu ilmu dengan cepat. Saat An-Natili merasa telah kehabisan bahan untuk diajarkan kepada Ibn Sina, mulailah Ibn Sina membaca Isagoge secara mandiri dan menyelesaikannya. Tidak berhenti di situ, ia membaca pula buku Almagest. Kemudian, Ibn Sina mempelajari sains dan metafisika, dilanjutkan dengan mempelajari kedokteran.

Ibn Sina ternyata sangat tertarik dengan bidang kedokteran dan mulai fokus untuk mempelajarinya. Ia membaca berbagai buku kedokteran dan berpendapat bahwa kedokteran bukanlah suatu ilmu yang sulit. Ia dengan cepat menguasai apa yang dipelajarinya, bahkan kemudian para tenaga medis belajar darinya. Tidak cukup dengan mempelajari ilmunya, Ibn Sina juga melakukan praktik dan menangani pasien. Dari situlah beliau menemukan inovasi-inovasi di dunia kedokteran. Hebat sekali, bukan? Padahal ketika itu usianya tidak lebih dari 16 tahun. Setelah itu, Ibn Sina menyibukkan dirinya dengan belajar. Sehari-harinya ia belajar, belajar, belajar, dan belajar. Ibn Sina melakukan ini kira-kira selama satu setengah tahun. Cara belajarnya pun tidak hanya membaca, namun juga dengan membuat catatan-catatan yang rapi dan terstruktur.

Suatu ketika, sultan Nuh ibn Mansur jatuh sakit. Dokter-dokter yang mencoba mengobatinya tidak bisa menyembuhkannya. Para dokter ini kemudian menyarankan kepadanya untuk memanggil Ibn Sina yang telah terkenal di kalangan dokter dan tenaga medis akan kecakapan dan penguasaannya terhadap ilmu kedokteran. Dengan izin Allah, ternyata sembuhlah sang Sultan. Lewat perjumpaannya dengan Nuh ibn Mansur, Ibn Sina mendapat kesempatan untuk mengakses perpustakaan istana. Di sana ia menemukan buku-buku belum pernah sama sekali ia jumpai sebelumnya maupun sesudahnya di tempat lain. Ia mempelajari buku-buku itu dan dengan cepat menguasai isinya. Semua hal ini ia capai ketika usianya 18 tahun.

Mungkin banyak dari kita bertanya-tanya bagaimana Ibn Sina dapat mencapai segala pencapaian cemerlang dalam hidupnya dan melahirkan karya-karya yang luar biasa. Kembali ke teori Gladwell tentang outlier bahwa outlier dapat muncul dari waktu dan serangkaian kesempatan yang tepat, ternyata hal ini muncul pula dalam kisah Ibn Sina. Ibn Sina lahir sekitar 400 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW. Pada saat itu, peradaban umat Islam berada di bawah kesultanan Bani Umayyah dan di Khurasan terdapat Dinasi Sumayyah. Keduanya sama-sama berada di abad pertengahan di mana ilmu pengetahuan dan kebudayaan berkembang dengan sangat pesat dengan semangat . Hal ini ditunjang pula dengan adanya proyek penerjemahan buku dalam bahasa asing ke bahasa Arab sehingga semakin kayalah ilmu pengetahuan umat islam. Bisa dibilang, Ibn Sina lahir di saat yang tepat yaitu saat umat islam sedang giat-giatnya membaca, menulis, serta berdiskusi tentang ilmu pengetahuan.

Ibn Sina pun memiliki serangkaian kesempatan yang tidak semua orang mendapatkannya, terutama di bidang pendidikan. Orang tuanya yang termasuk kalangan berada mampu memfasilitasinya dengan mendatangkan guru serta memberinya buku-buku, padahal pada saat itu belum ada sekolah seperti sekarang dan buku adalah benda yang sangat mahal. Ibn Sina juga hidup di wilayah Bukhara di dekat jalur sutera (silk road) yang merupakan jalur yang cukup ramai sehingga dapat bertemu dengan banyak orang hebat dengan konsentrasi ilmu masing-masing. Ia pun memiliki kecerdasan yang luar biasa sehingga dapat dengan mudah menerima dan memahami berbagai ilmu baru. Dengan segala kesempatan yang ia miliki, rasanya memang pantas apabila ia bisa mencapai banyak hal di usianya yang masih belia.

Setelah mengetahui latar belakang Ibn Sina, mungkin kita justru berfikir bahwa diri kita ini tidak memiliki kesempatan yang sama dengan Ibn Sina sehingga tidak heran apabila pencapaian kita hari ini sangat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Ibn Sina. Tentang hal ini, ada satu hal utama yang agaknya dapat membedakan cara Ibn Sina belajar dan cara kita belajar. Ibn Sina adalah seorang pelajar yang sungguh-sungguh. Kesungguhannya ini terlihat sejak masih belia. Misalnya pada saat belajar dari An-Natili dengan kitab Almagest, Ibn Sina tidak berhenti belajar walau pun An-Natili sudah kehabisan ilmu untuk diajarkan. Ibn Sina justru mencari-cari dan membaca buku-buku yang sulit secara mandiri hingga dapat menyaingi keilmuan An-Natili, bahkan kemudian dapat menjelaskan ilmu-ilmu baru yang belum dipahami oleh An-Natili.

Hal kedua yang mungkin membedakan cara Ibn Sina belajar dan cara kita belajar dapat dilihat saat menemui kesulitan untuk memahami suatu ilmu. Ibn Sina, seperti kita, selama masa belajarnya, terkadang menemui kesulitan. Di suatu saat, ia tidak bisa memahami suatu konteks dengan mudah. Apabila kita menemui hal demikian, apa yang akan kita lakukan? Mungkin sebagian dari kita memutuskan untuk beristirahat sejenak dan melakukan hal-hal lain untuk melepas penat, kemudian kembali belajar. Lain halnya dengan Ibn Sina, apabila menemui kesulitan selama belajar, Ibn Sina akan pergi ke masjid, shalat sunnah 2 rakaat, kemudian berdoa kepada Allah. Suatu ketika, Ibn Sina sedang berusaha mempelajari metafisika dan membaca buku tentang metafisika. Meski telah berulang kali membaca habis buku tersebut, a benar-benar tidak dapat memahami isi buku tersebut. Setelah selesai membaca, ia ulangi kembali membaca buku itu dari awal hingga 40 kali bahkan tanpa sadar telah hafal isi buku tersebut—dan belum juga faham. Jika kita menemui kesulitan yang sama, apa mungkin hati kita demikian teguh dan mampu terus berusaha hingga faham?

Ibn Sina memang seorang tokoh yang tiada duanya. Darinya lahir karya-karya besar dan darinya pula kita dapat mengambil hikmah keteladanan. Wawasannya begitu luas di saat arus perputaran informasi belum semudah saat ini. Mungkin kita tidak bisa menjadi Ibn Sina yang kedua, ketiga, atau seterusnya, namun kita bisa menyalakan semangatnya untuk terus menimba ilmu dengan segala kesempatan yang terbuka lebar di depan kita. Pertanyaannya kemudian bukan lagi tentang apakah kita mampu atau tidak, tapi apakah kita mau untuk bersungguh-sungguh memanfaatkan akal yang telah dikaruniakan Allah kepada kita?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.