Apa yang Saya Temukan di Media Sosial mengenai Konflik Rusia dan Ukraina

Oleh: Rayhan Ilham Firmansyah

Pendahuluan

Di minggu yang lalu, Rusia melakukan intervensi militer dengan tujuan denazifikasi dan demiliterisasi ke Ukraina.[1] Saya, sebagai seseorang yang tertarik dengan sejarah, geopolitik, dan lainnya yang serumpun, begitu khawatir dan was-was dengan peristiwa itu[2]. Bukan tanpa sebab, intervensi militer yang dilakukan oleh Rusia bisa saja memicu perang yang lebih besar antara negara pemilik Senjata Nuklir terbesar dan terbanyak, yaitu NATO dan Rusia. Kenapa Saya bisa berkata seperti itu? Beberapa hari setelah Rusia melakukan intervensi ke Ukraina, Vladimir Putin mengerahkan persenjataan nuklirnya dalam keadaan siap.[3] Beberapa ahli mengatakan bahwa ini hanya gertakan saja.[4] Mereka membandingkannya dengan Perang Krimea tahun 2014 dimana Rusia juga mengancam akan menggunakan nuklir, tetapi sekarang terlihat berbeda. Operasi intervensi militer yang dilakukan Rusia sekarang sepertinya tidak sesuai ekspektasi Putin dan mereka terlihat semakin terdesak.[5] Rusia sepenuhnya berada pada perang penting yang menentukan eksistensi Rusia sebagai negara.[6] Dan, melihat doktrin negara Uni Soviet (yang dipakai selanjutnya oleh Rusia) dalam perang, mereka dapat menggunakan Non-Strategic Nuclear dalam serangan taktisnya.[7]

Di tengah was-was ini, terdapat gelombang yang cukup mudah untuk diprediksi. Setiap orang mulai menyatakan dukungannya kepada salah satu pihak. Ada yang mendukung Ukraina dan mendorong adanya intervensi NATO ke perang ini, seakan-akan perang ini tidak berdampak sama sekali pada psikis mereka (tidak ada perasaan untuk merasakan krisis eksistensial dan seakan-akan semua ini hanyalah persaingan senda gurau untuk mencari siapa yang Ubermansch dan siapa yang Untermansch). Kelompok ini terdiri dari mereka para SJW (Social Justice Warrior) yang diisi oleh orang-orang yang simpati dengan ideologi kiri[8]. Di sisi lain, ada yang mendukung dan memaklumi Rusia melakukan intervensi ke Ukraina karena merupakan pertahanan diri dari sederet rentetan peristiwa yang mengancam eksistensi keberadaan negara Rusia, yang dimulai semenjak Revolusi Oranye tahun 2004.

Saya, yang sangat tidak suka dan sangat tidak setuju dengan SJW[9], entah mengapa lebih condong untuk mendukung intervensi militer ini. Namun begitu, jika saya mendukung Rusia, berarti saya juga mendukung intervensi Tiongkok untuk menguasai Laut China Selatan karena alasan historis. Akan tetapi, bukan itu yang ingin saya bahas. Yang ingin saya bahas adalah ide-ide “dalam kegelapan” yang menjadi dasar bertindak dari negara Rusia.

Alexander Dugin

Untuk membuat diri saya tenang karena memihak pihak yang “dicap salah” oleh masyarakat maupun media barat di internet, saya menemukan banyak akun yang membahas keadaan politik negara Rusia hingga ke dasar pemikiran negara tersebut. Yang pertama saya temui adalah Alexander Dugin. Dia adalah salah satu filsuf terkemuka yang berasal dari Rusia dan juga bisa dibilang sebagai “Russia’s Chief Ideological Mastermind[10]. Ide menarik yang dia bawa adalah bagaimana Rusia harus mempertahankan peradabannya, peradaban di dataran Eurasia yang berlawanan dengan ide-ide barat yang dibawa oleh peradaban di sebrang atlantik (peradaban barat Amerika)[11]. Dia berdalih bahwa dunia ini adalah dunia yang multipolar, dunia yang mempunyai berbagai macam peradaban yang mengembangkan tradisi dan pemikiran yang organik dan berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga pemaksaan suatu pemikiran alien dari peradaban yang berbeda sangat patut untuk dilawan. Contoh peradaban di dunia ini yang dia sebut dalam artikel yang dia kirim di salah satu media sosial adalah Peradaban Rusia (Orthodox-Eurasian), Peradaban Islam, Peradaban Anglo Saxon, Peradaban Eropa Kontinental, Peradaban Afrika, Peradaban Cina, dan lainnya. Peradaban yang sudah ada selama ribuan tahun tersebut, dengan berbagai tempat suci milik mereka, ide dan filsafat yang berkembang dari pengalaman dasein[12] sesuai keadaan geografi dan kultural mereka.

Apa yang dilakukan Amerika beserta negara-negara vassalnya selama ini adalah ingin membentuk dunia yang unipolar, dunia yang sesuai dengan peradaban barat (atlantisme) yang mengedepankan “rasionalitas a la barat”[13] dan merepresi hal-hal yang berbau agama dan kultural. Mereka menganggap bahwa ide yang mereka bawa adalah ide universal dan semua negara di dunia ini yang memiliki paham tradisional inferior dan tidak mengikuti paham atlantisme harus tunduk dan menerima ideologi, yang diklaim secara sepihak, universal tersebut. Caranya bagaimana? Contohnya dengan paksaan oleh PBB, paksaan oleh WTO, paksaan oleh IMF, dan sebagainya[14]. Padahal, di negara lain tidak semuanya setuju dengan ide-ide yang dibawa oleh mereka. Tetapi, banyak yang tunduk dengan dictate peradaban atlantik. Apa yang mereka bicarakan selama ini saat melihat negara di luar peradabannya adalah “bagaimana indeks demokrasi negara itu? Apakah negara itu negara yang liberal? Apakah negara itu negara yang mengedepankan individualisme? Apakah negara itu melindungi hak-hak LGBTQ+? Wah, peradaban mereka tidak rasional karena tidak sesuai dengan standar-standar barat yang universal” dan propaganda lainnya yang sering digaungkan oleh mereka. Bukankah itu termasuk, jika meminjam kalimat Dugin, Deep Western Racism (ethnocentrism)[15]?

Saya setuju dengan analisis Dugin. Jika saya mencoba menganalisis keadaan di Indonesia pada era reformasi melalui pandangan mereka, ternyata sejarah kemunculan era reformasi, sistem dan lembaga di dalamnya, konflik masyarakat yang berkembang, hingga semua argumen yang dibawakan oleh para islamophobic dan pendukung liberal semakin mengonfirmasi teori Dugin. Apakah berarti mereka-mereka yang terlibat di dalamnya dapat dikatakan sebagai “agen atlantis”? Entahlah.

Leo Strauss

Selanjutnya, setelah saya mencari tahu tentang Dugin melalui ahli terkemuka yang mempelajari pemikiran Dugin, yaitu Michael Millerman, saya menemukan seseorang tokoh lainnya bernama Leo Strauss. Pemikiran beliau dapat kita pahami dengan analisis beliau mengenai politik di Amerika. Strauss mengatakan bahwa Liberal dan Konservatif di Amerika pada dasarnya 2 hal yang sama yang lahir dari rahim demokrasi liberal. Walaupun begitu, jika dihadapkan dengan Komunisme, 2 hal ini berlainan. Liberal mempunyai tujuan yang sama dengan komunisme, yaitu globalisme yang egalitarian tanpa ada penghalang antarnegara, tanpa kelas[16], tetapi dengan cara yang berbeda.[17] Sedangkan Konservatif mencoba untuk mempertahankan keragaman yang fundamental , seperti keragaman budaya, bahasa, dan sebagainya.[18] Anehnya, Liberal malah lebih ke “Progresif” yang anti dengan perubahan sedangkan Konservatif (walaupun pada era sekarang, Konservatif di Amerika Serikat sangat pro terhadap pasar bebas dan anti-intervensi pemerintah yang dimana hal itu merupakan ide-ide Liberal Klasik).[19] Pada akhirnya, sama seperti analisis Dugin, 2 hal ini tetap termasuk dalam ideologi liberal modern. Untuk menghindari ideologi liberal, kita perlu kembali ke ide dasar teori yang sangat klasik yang berlawanan dengan teori-teori modern. Pada Strauss saya belajar bahwa jangan sampai kita terjebak dalam pola pikir Liberal/Progresif yang mengikuti hal modern karena itu “modern”.[20]

 

Contoh analisis memakai pemikiran Strauss adalah “Pembunuhan Tuhan”. “Pembunuhan Tuhan” oleh Intelektual Modern Pencerahan Barat bukan berarti berlaku surut pada menghilangnya “Rasa ingin menghamba kepada Tuhan”. Pada akhirnya di abad 20, bisa kita lihat dampak dari “Pembunuhan Tuhan” itu adalah orang-orang mulai mencari sesuatu untuk menjadi “Tuhan” mereka. Strauss mengatakan bahayanya ide-ide Liberal karena ide tersebut memberikan kepada setiap individu untuk mempertanyakan segala hal, mulai dari nilai-nilai, moral, agama, dan lain sebagainya yang sejak ribuan tahun sudah mengakar di masyarakat. Masalahnya, hal-hal itu termasuk suatu hal yang menyatukan masyarakat semenjak dahulu kala. Saat semuanya sudah hancur didekonstruksi, habislah struktur masyarakat hancur seperti rumah kartu.

Strauss, seperti Machiavelli yang juga seorang realis politik, berusaha mengembangkan “alat” dari realitas yang “sudah terlanjur ada” dengan mengatakan bahwa negara dan nasionalisme yang dibentuk sekarang adalah sebuah Will yang diberikan masyarakat[23] untuk menjadi penuntun mereka, yang suci dan sakral. Strauss mengambil pemikiran Socrates dan Plato (para teoris klasik) dengan mengatakan bahwa kebohongan yang mulia sangat diperbolehkan untuk menyatukan masyarakat, menghindari perpecahan, dan menimbulkan rasa bangga yang luar biasa pada diri masyarakat, yang pada akhirnya menghindarkan masyarakat dari mudharat yang lebih besar. Contoh aplikasi kebohongan ini, yang dilakukan oleh pengikut Strauss[24], adalah Perang Irak. [25]

Pemikiran Strauss tersebut banyak digunakan oleh negara Tiongkok. Hal ini bisa dibuktikan dari mendalamnya penelitian mengenai Strauss di Tiongkok, banyaknya ahli politik yang mempelajari Strauss, hubungan yang dekat antara ahli politik Straussian Tiongkok dengan Partai Komunis China, hingga kebijakan-kebijakan Tiongkok yang seakan sejalan dengan pemikiran Strauss.[21] Para peneliti politik di Tiongkok mencoba untuk menggabungkan analisis Strauss dengan kebudayaan di Tiongkok, terutama pada ajaran Konfusianisme atau Konghucu. Oleh karena itu, ajaran Konfusianisme di Tiongkok mulai berkembang lagi karena disponsori langsung oleh Pemerintahan Tiongkok.[22]

Pelajaran yang dapat diambil

  1. Negara Indonesia harus berhati-hati dalam bertindak dan mengambil sikap. Jangan membuat Indonesia lengah dan semakin terintegrasi dengan peradaban barat. Jangan mengurangi anggaran pertahanan untuk alutista, pengembangan ideologi, pengamanan finansial negara. Menjadi kuat bukan berarti sebuah dosa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wassallam bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan seandainya dapat membuka pintu setan.”
  2. Mahasiswa Muslim perlu mengembangkan ideologi yang murni, jauh dari peradaban barat. Kembangkan lebih jauh pemikiran teologi islam yang mempunyai potensial, seperti pemikiran Ibnu Taymiyyah yang berusaha merasionalkan agama Islam tetapi tetap mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Perjuangkan agama Islam dengan akal pikiran kita. Jangan takut untuk berbeda dengan Cathedral[26] liberal yang sudah mengakar dalam. Jangan takut untuk mengembangkan agama Islam yang murni, jauh dari pemikiran barat. Allah berfirman, Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Al Hajj: 40); Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri(QS Ar Ra’du: 11)
  3. Taati pemimpin negara kita! Taati mereka, “selama mereka tidak melarang kita Sholat”. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian …” (QS An-Nisa: 59). Bisa kita lihat hikmah dari taat kepada pemimpin dapat mencegah daripada mudarat yang besar.

_________________________________________________

Catatan Kaki

[1] Para ahli meragukan alasan ini, walaupun cukup jelas kehadiran ideologi Nazi (atau kanan jauh) di Ukraina (Lihat: Azov Battallion). Beberapa ahli berpendapat bahwa perang ini disebabkan karena Rusia merasa semakin terancam dan terpojok oleh NATO (Lihat: The University of Chicago, “Why is Ukraine the West’s Fault? Featuring John Mearsheimer”, September 26, 2015; dan YaleUniversity, “Vladimir Pozner: How the United States Created Vladimir Putin”, September 27, 2018). (Untuk penjelasan lebih singkat, lihat: CaspianReport, “What a Russian assault on Ukraine would look like”, January 29, 2022).

[2] Semoga Allah mengampuni Saya. Seorang Muslim yang mempunyai aqidah dan pemahaman tauhid yang kuat seharusnya tidak boleh menampakkan rasa was-was dan ketakutan (Cermati: QS. Al Imran: 191; QS. Az Zariyat: 20-21). Demikian karena was-was itu berasal dari setan (Lihat: QS. An Nas: 1-5)

[3] (Lihat: Aljazeera, “Putin puts Russia’s Nuclear Deterrent Forces on Alert”, February 27, 2022)

[4] (Lihat: Aljazeera, “How Realistic is Vladimir Putin’s Nuclear Threat?”, March 3, 2022)

[5] Seminggu awal semenjak hari pertama intervensi, Rusia banyak kehilangan prajurit dan alat-alat perang lainnya (Lihat: ABC News, “US Intelligence Reports Putin has Lost 20% of His Forces”, March 12, 2022). Hal ini dikarenakan Rusia menahan diri dari doktrin perang Rusia yang sesungguhnya, yang bisa meluluhlantakkan Eropa, sama seperti saat Perang Krimea tahun 2014 (yang sukses dimenangkan Rusia) (Lihat: CaspianReport, “Russia’s War is Not Going to Plan”, March 14, 2022). Lalu, berbagai boikot yang dilakukan oleh Barat juga menyebabkan perekonomian Rusia diambang kehancuran. Sekarang, Rusia adalah negara yang paling diboikot di dunia, melebih Iran dan Korea Utara

[6] Kalimat tersebut disampaikan oleh Alexander Dugin langsung melalui akun sosial media-nya. (Lihat: Alexander Dugin | Z, https://t.me/Dugin_Aleksandr)

[7] (Lihat: Congressional Research Service, “Nonstrategic Nuclear Weapons”, March 7, 2022)

[8] Hal ini cukup aneh karena intervensi militer Rusia dilakukan untuk denazifikasi. Akan tetapi, perilaku janggal ini sering sekali terlihat oleh mereka para Social Justice Warrior (SJW) yang notabene mengklaim diri mereka berideologi kiri (Lihat: Theodore Kaczynski, “Industrial Society and Its Future”, September 19, 1995, hlm. 1-4).

[9] Betul, Based and Redpilled

[10] Istilah ini disematkan oleh salah satu peneliti yang secara khusus meneliti pemikiran Dugin (Lihat: The Agenda with Steven Paikin, “Michael Millerman: Who is Alexander Dugin?”, December 6, 2014)

[11] Perlu diingat bahwa yang dimaksud ideologi yang berasal dari peradaban barat yang dibenci oleh Dugin bukan hanya ideologi liberal, tetapi juga fasisme, dan komunisme. Karena fasisme dan komunisme sudah “runtuh”, maka hanya tersisa ideologi liberal (Lihat: Alexander Dugin, “The Fourth Political Theory”, 2009).

[12] Dugin sangat terpengaruh oleh Heidegger. Ahli lain yang saya temui selanjutnya juga terpengaruh oleh Heidegger, yaitu Leo Strauss.

[13] Rasionalitas disini bukan berarti bahwa peradaban lain tidak berpikir secara rasional. Jika melihat sejarah peradaban barat, mereka selalu mengatakan bahwa agama adalah sesuatu yang sudah usang (outdated, antiquated) dan tidak sesuai dengan metode saintifik, sehingga mereka ingin mengganti agama dengan Powerful Force of Reason yang berbasis Free Will (Lihat: The Agenda with Steven Paikin, ibid.). Bandingkan dengan Peradaban Islam yang memakai metode saintifik untuk merasionalisasikan agama Islam sehingga menghasilkan berbagai pemahaman teologi yang dirasionalisasikan, contohnya Asyariah, Maturidiyah, dan Athariyah Taymiyyah, atau perkembangan teologi Kristen yang memakai teori-teori logika Yunani di bawah naungan peradaban Helenisme di Suriah sebelum penaklukan oleh Kekhalifahan Rashidun, atau teologi agama Budha bernama Sumaniyya (Lihat: Carl Sharif El-Tobgui, “Ibn Taymiyya on Reason and Reveletion: A Study of Dar’ ta’arud al-‘aql wa-l-naql”, 2020).

[14] Berdasarkan pada apa yang diajarkan kepada saya di mata kuliah Hukum Organisasi Internasional, saya setuju dengan pandangan ini. Praktek semacam ini dapat diperhatikan dari praktek-praktek yang mereka lakukan selama organisasi internasional tersebut berdiri. Pada dasarnya, hukum perdata berbasis pada kepercayaan. Di wilayah Internasional, jika suatu negara sudah mengikatkan diri kepada perjanjian antar-satu negara atau lebih, maka asas Pacta Sunt Servanda harus dilaksanakan. Jika suatu negara mengingkari perjanjian yang sudah ditandatangani oleh negara tersebut, maka kepercayaan negara lainnya terhadap negara tersebut akan berkurang dan tidak lagi mempercayai negara tersebut. Negara kaya yang merupakan vassal dari Amerika Serikat akan melihat negara mana yang ikut dalam perjanjian yang “esensial” menurut mereka dan negara mana yang tidak, seakan-akan negara lain harus melaksanakan asas Pacta Sunt Servanda pada hukum “tak tertulis” Amerika Serikat. Penjelasan mengenai praktek hukum perdata internasional dijelaskan secara singkat oleh Jan Klabbers pada bukunya (Lihat: Jan Klabbers, “An Introduction to International Institutional Law”, 2002, hlm. 3-7)

[15] (Lihat: Alexander Dugin, “Nationalism: Criminal Fiction and Ideological Impasse”, March 9, 2022)

[16] (Lihat: Leo Strauss, “Liberalism Ancient and Modern”, 1968)

[17] Liberal mencapainya dengan cara, sesuai penafsiran Millerman, “Economic and Technological Progress” (Lihat: Michael Millerman, “Liberalism Ancient and Modern (Millerman PRO Reading Group)”, July 14, 2019)

[18] (Lihat: Leo Strauss, ibid.)

[19] Sama seperti keanehan SJW, keadaan ini ditemukan juga oleh Kaczynski dalam observasinya (Lihat, Theodore Kaczynski, Ibid., hlm. 6)

[20] (Lihat: Leo Strauss, ibid.)

[21] (Lihat: Matthew Dean, “Reading Leo Strauss in China”, February 1, 2022; Tao Wang, “Leo Strauss in China”, Spring 2012)

[22] Perbedaan 180 derajat dibanding saat masa-masa Revolusi Kultural Mao Zedong dimana kebudayaan lama Tiongkok berusaha dihancurkan dan digantikan dengan ide modern Maoisme. (Lihat: Cultural Revolution in China)

[23] Seperti pada kontrak sosial Thomas Hobbes

[24] Strauss mempunyai sekumpulan murid yang menamai dirinya Straussian. Mereka adalah sekelompok orang yang di masa sekarang disebut Neokonservatis. Kelompok ini mengkritik berbagai macam kebijakan liberal, mulai dari ide program kesejahteraan Great Society hingga penyebaran pengaruh ke Maois Tiongkok yang bertujuan untuk dunia yang Unipolar. Millerman berpendapat bahwa Straussian sudah menyimpang dari pemikiran dasar Leo Strauss. (Lihat: Michael Millerman, “Millerman Talks #2: Leo Strauss, Neoconservatism, and Noble Lies”, December 17, 2018)

[25] Perlu diingat bahwa kemunculan pertama Straussian di pemerintahan Amerika adalah saat kepemimpinan Ford, saat mereka melakukan kebohongan dengan mengatakan bahwa Uni Soviet masih merupakan ancaman Amerika setelah adanya perjanjian pengurangan hulu ledak nuklir antar benua (ICBM) antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet (Strategic Arms Limitation Agreement I, 1972). Pada era G. W. Bush II, mereka melakukan kebohongan dengan menyatakan bahwa Irak mempunyai senjata pemusnah massal dan kita harus menyingkirkan Saddam Hussein, melumpuhkan mereka, serta mendirikan negara demokratis sesuai value liberal (Lihat: Adam Curtis, “The Power of Nightmares”, 2004)

[26] Curtis Yarvin pertama kali mengenalkan istilah ini. The Cathedral adalah institusi besar yang memiliki “self-organizing consensus” untuk mengatur diskusi kita, menegakkan seperangkat norma tentang gagasan macam apa yang dapat diterima dan bagaimana kita memandang sejarah

 


Disusun oleh: Rayhan Ilham Firmansyah

Essay Opini

Jama’ah Shalahuddin, Universitas Gadjah Mada

Jakarta, 2022

2 thoughts on “Apa yang Saya Temukan di Media Sosial mengenai Konflik Rusia dan Ukraina

  1. PTS Terbaik ASEAN says:

    Thank you, I have just been looking for information approximately this subject for ages and yours
    is the greatest I’ve discovered so far. However, what
    in regards to the conclusion? Are you positive about the source?

  2. Adam Muiz says:

    Bagaimanapun juga,
    Konflik ini memberikan dampak buruk bagi ekonomi dunia.
    Ada perang yang lebih penting dan perlu manusia untuk hadapi.
    Mulai dari rusaknya lingkungan alam, pemanasan global, kebodohan, kemiskinan, kesehatan.
    Semoga saja konflik ini segera bisa berakhir.

    Btw thanks, tulisannya sangat membuka wawasan.

Tinggalkan Balasan ke PTS Terbaik ASEAN Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.