Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Fatma Zuhrotun Nisa: Penduduk Madinah Makan Sebelum Lapar dan Berhenti Sebelum Kenyang

  • Ramadhan di Kampus
  • 21 Maret 2024, 14.16
  • Oleh :

Orang-orang di bulan Ramadhan selalu menjadikan perihal makanan menjadi pembicaraan hangat. Itupun juga termasuk dengan perihal kesehatan seseorang, apalagi terhadap bentuk tubuh beserta berat badan. Tidak jarang melihat orang-orang mengejar sebuah bayangan akan badan yang ideal dan menggunakan ibadah puasa ini sebagai kesempatan untuk mengejar bayangan tersebut. Dr. Fatma Zuhrotun Nisa pada Samudra kemarin tanggal 20 Maret 2024. Beliau adalah seorang dosen UGM di Departemen Gizi Kesehatan yang datang ke Maskam sore lalu untuk membahas lebih dalam mengenai sunnah-sunnah Rasulullah Saw mengenai tata cara makan yang dapat dijadikan penerapan diet sehat untuk mewujudkan badan ideal. 

 

Pertama-tama, harus didefinisikan dulu apa itu badan ideal. Badan ideal adalah badan yang relatif proporsional dengan tinggi badan. Para pakar gizi menggunakan Body Mass Index (BMI) untuk menentukan proporsi pantasnya badan seseorang. BMI menggunakan angka penilaian standar perbandingan tinggi badan dengan berat badan. Angka yang diperoleh akan nantinya dijadikan indikasi proporsi tubuh seseorang itu sudah standar, kurang, atau lebih. Indikasi angka-angka tersebut lebih dapat diandalkan dibanding persepsi mata telanjang. Apa yang sepasang mata anggap satu hal bisa jadi salah dan akan mengakibatkan salah strategi dalam menjaga kualitas dan kesehatan badan. 

 

Kondisi yang tidak diinginkan adalah obesitas. Obesitas adalah kondisi dimana berat badan seseorang melebihi batas normal karena terjadi penumpukan lemak yang terlalu banyak. Penyakit ini dikarenakan asupan kalori lebih banyak dibanding kalori pengeluaran. Yang membuatnya lebih berbahaya adalah penyakit-penyakit lainnya yang bisa terjangkit karena obesitas ini. Penyakit-penyakit seperti insomnia, diabetes, serangan jantung, stroke, hipertenso, dan lain sebagainya ditemukan di kalangan pengidap obesitas dengan ikatan yang kuat pada penyakit tersebut. 

 

Pada zaman Rasulullah Saw, penyakit-penyakit tersebut tidak pernah ada. Disebutkan di sejarah, ada seorang dokter dari Mesir yang pergi bertugas di Madinah tetapi tidak mendapatkan pasien satupun. Beliau pergi menemui Rasulullah dan bertanya bagaimana demikian. Rasul pun menjawab bahwa tidak pernah ada yang sakit disini karena penduduk Madinah memegang prinsip makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Bahkan Rasul sendiri tidak pernah sakit. Beliau hanya pernah sakit menjelang wafat dan penduduk Madinah lebih sering terkena penyakit sepeninggalan Rasul. Di Al-Quran pun mendeskripsikan Rasul sebagai tidak gemuk dan tidak kurus. Rasulullah pun dapat diklasifikasikan memiliki badan yang ideal. 

 

Bagaimana cara meniru hidup sehat seperti Rasulullah? Hal tersebut sudah dijelaskan di hadits-hadits Rasul, bisa juga dibilang sebagai adab makan Rasul. Pertama adalah adab sebelum makan. Adab yang dimaksud seperti memastikan bahwa makanannya halal dan thoyib, memastikan makanan akan memperkuat kekuatan dan ibadah, mendahulukan buah-buahan sebelum makanan utama, selalu duduk tanpa bersandar, tidak mencela makanan, mengajak untuk makan bersama, dan membaca bismillah. Adab selagi makan mencakupi beberapa hal adalah menggunakan tiga jari tangan kanan untuk makan, makan tidak tergesa-gesa, minum per tiga tegukan, menutup makan dan minuman, tidak memasukan makan dan minuman, tidak mencampur banyak makanan, dan tidak meniup makanan atau minuman. Alasan dibalik penggunaan tiga jari adalah supaya menyuap makanannya dalam jumlah sedikit. Untuk ketentuan tidak memasukan makan dan minuman bermaksud tidak mengembalikan makanan atau minuman yang sudah diambil dengan tangan. Ketentuan-ketentuan terakhir setelah makan mencakupi selalu menghabiskan makanan, menjilat yang tersisa di tangan, mengambil dan membersihkan yang terjatuh, jangan kenyang berlebihan, tidak tidur setelah makan, dan mengucapkan alhamdulillah setelah kelar makan. 

 

Banyak dari hadits Rasulullah Saw terbukti membantu menjaga kesehatannya oleh para pakar kesehatan. Seperti sebagai contohnya penelitian kecepatan makanan. Peneliti membagi dua kelompok, dimana kelompok pertama mengunyah dengan jumlah lebih banyak dan yang kedua lebih sedikit. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang mengunyah dalam jumlah lebih banyak mendapatkan dampak positif pada kesehatan mereka. Seperti pada contohnya nafsu makan mereka dapat dikendalikan dan kadar glukosa dalam darah menurun. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa banyak mengunyah di rahang juga mengurangi pergerakan lambung dan usus yang berlebihan. Penelitian ini hanya satu dari penelitian lainnya yang menunjukkan keefektifan adab makan Rasul. Selagi bulan puasa juga menjadi waktu yang tepat untuk menerapkan adab makan baru ini dan Insya Allah tubuh ideal yang diidamkan semua orang akan tercapai.  (Raissa Serafina Rayendra/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

[ux_text font_size=”1.5″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=C5U2ueUosME” height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada