Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Heri Santoso: Ramadhan Ibarat Perkuliahan

  • Ramadhan di Kampus
  • 9 April 2024, 17.19
  • Oleh :

Pada Ramadhan Public Lecture, 8 April 2024, RDK menghadirkan Dr. Heri Santoso, S.S., M.Hum. sebagai pembicara di malam terakhir kajian RPL yang bertempat di Masjid Kampus UGM. Pada kesempatan ini, beliau menyampaikan kajian dengan tajuk, “Refleksi Akhir Ramadhan: Transformasi Diri untuk Mewujudkan Baldatun Toyyibatun Wa Rabbun Ghafur.”

 

Heri Santoso mengibaratkan ramadhan seperti perkuliahan, di dalamnya terdapat RPKPS yang memuat metode, learning outcome, kurikulum, tujuan jangka panjang-pendek, bahan, ujian dan  ditutup dengan predikat kelulusan. “Kalau kita lihat dari Al-Qur’an dan hadits, kita renungkan hari-hari terakhir ini, apakah learning outcome, objektif pembelajaran dari Allah dan Rasul-Nya tercapai?” ujar Santoso. 

 

Learning outcome dalam ramadhan tentunya memiliki indikator tersendiri. Bukan hanya bagi orang-orang muslim, tetapi dispesifikkan keterangannya dengan menambahkan “golongan orang-orang yang beriman.”  Beliau membahkan, seorang muslim yang tidak beriman, belum tentu akan menjalankan ibadah puasa sebagaimana orang beriman menjalankannya. Dengan berpuasa,kita berharap untuk menjadi orang yang bertakwa. 

 

Allah Swt. telah merincikan indikator orang-orang yang bertakwa di dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 2 dan 3, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (2) (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (3)” 

 

Indikator pertama menjelaskan bahwa orang yang berpuasa pasti percaya pada hal gaib. Maksudnya adalah meyakini bahwa tidak ada satu kegiatan pun yang luput dari pengawasan Allah dan 2 malaikat pencatatan amal perbuatan. Sehingga berpuasa selama satu bulan ramadhan penuh menjadi ajang pelatihan bagi kita untuk meninggalkan hal-hal yang negatif. “Kalau digembleng selama satu bulan, kok gak ngaruh, itu ya agak aneh.” tambah beliau. 

 

Indikator kedua dari orang yang bertakwa adalah “mendirikan salat.” Jika di bulan biasa kita sulit untuk melakukan salat berjamaah di masjid, maka di bulan ramadhan ini Allah ringankan langkah kita untuk mengerjakannya. Heri Santoso menambahkan, hal yang sangat disayangkan adalah kebanyakan dari kita menjadikan momen lebaran sebagai ajang untuk membalaskan dendam. Dari yang sedikit-sedikit membaca Al-Qur’an menjadi baca Al-Qur’an sedikit, dari yang sedikit-sedikit shalat sunnah manjadi sedikit shalat, dari ‘ngamal’ menjadi nge-mall. “Mudah-mudahan di bulan syawal, kebiasaan-kebiasaan itu meningkat menjadi sedikit-sedikit shalat, sedikit-sedikit sedekah,”

 

Heri Santoso juga menjelaskan, berpuasa tidak hanya meringankan kita untuk melakukan ibadah, tetapi juga memaksa kita untuk menjadi lebih sabar. Hebatnya, kita bukan hanya sabar terhadap dalam hal yang diharamkan saja, tetapi juga bahkan sabar untuk menahan diri dari sesuatu yang dihalalkan. 

 

Beliau menambahkan, selain melatih kita untuk menjadi orang yang lebih bertakwa dan beriman, puasa juga melatih kita untuk menjadi orang yang lebih bersyukur, sebagaimana dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 185. Menurut beliau, rasa syukur itu lah yang akan menghasilkan masyarakat yang peka. “Puasa melatih kita untuk menjadi orang yang peka, bukan peko terhadap orang lain.” imbuhnya.

 

Di akhir kajian beliau menerangkan bahwa jika nilai dari puasa terus dilanjutkan bahkan setelah usainya ramadhan, maka baldatun toyyibatun wa rabbun gafur, negeri yang baik, yang ideal serta aman akan dapat kita wujudkan. Beliau juga mengajak seluruh jamaah Masjid Kampus untuk merefleksikan diri, apakah pesan dan nilai yang terkandung dalam puasa sudah kita dapati atau justru kita luput dari dua hal tersebut. “Mudah-mudahan dengan pesantren ramadhan, dengan madrasah ramadhan, kita benar-benar bisa melakukan transformasi diri dan kesalihan individual yang pada akhirnya mempengaruhi masyarakat sekitar menjadi kesalihan sosial yang mengantarkan negara ini keluar dari azab Allah dan mendapatkan keberkahan dari Allah menjadi negeri Indonesia yang baldatun toyyibatun wa rabbun gafur.” tutup beliau. (Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif)

 

 

 

[ux_text font_size=”1.55″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=o3PC7pM-c6o” height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada