Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Kajian
  • Kajian Kamis Sore

Mendadak Ngaji 24 Oktober 2024 | Meneladani Kepemimpinan : Shalahuddin Al-Ayyubi Membangun Karakter Pemimpin yang Amanah dan Berintegritas bagi Generasi Muda Indonesia

  • Kajian Kamis Sore
  • 24 Oktober 2024, 18.00
  • Oleh : nastitimoorya2006

Belajar dari Kemenangan Generasi Shalahuddin

Belajar dari kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi, generasi muda Indonesia dapat mengambil banyak pelajaran tentang bagaimana membangun karakter pemimpin yang amanah dan berintegritas. Umat Islam pada masa menjelang Perang Salib menghadapi tantangan besar, di mana Palestina/Yerusalem dikuasai oleh Dinasti Fatimiyah yang beraliran Syiah, dan Mesir serta Suriah yang tidak memberikan pembelaan. Pada saat itu, umat Islam mengalami perpecahan politik dan madzhab, bahkan sering meminta bantuan musuh untuk memerangi saudara sesama Muslim. Kondisi sosial ekonomi pun memburuk, ditandai oleh ketidakadilan para pejabat, kelaparan, serta wabah yang melanda berbagai wilayah. Dunia keilmuan juga mengalami kemunduran dengan banyaknya karya taklid dan kemujudan.

Pasukan Salib pertama tiba pada tahun 1096, terdiri dari rakyat jelata yang dipimpin oleh Peter the Hermit. Gelombang pasukan profesional menyusul pada tahun 1097 dan berhasil menaklukkan berbagai wilayah yang dikuasai Turki Seljuk, termasuk Nicaea, Edessa, dan Antioch. Yerusalem akhirnya jatuh ke tangan Pasukan Salib pada 15 Juli 1099. Dinasti Fatimiyah turut berperan dalam jatuhnya Al-Quds, karena pemimpin mereka, Al-Afdhal, menggunakan Pasukan Salib untuk merebut Yerusalem dari penguasa Turki Seljuk.

Namun, di balik tantangan besar tersebut, ada peran penting ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Abdul Qadir Al-Jilani yang memperbaiki orientasi pendidikan Islam. Mereka menyiapkan ulama yang bukan hanya mengejar jabatan, tetapi juga berperan aktif dalam misi amar ma’ruf nahi munkar. Murid-murid mereka inilah yang nantinya mendukung perjuangan Shalahuddin dalam mempersatukan umat Islam.

Kunci kemenangan Shalahuddin terletak pada kepemimpinan unggulnya. Sebagai pribadi yang saleh dan cerdas, Shalahuddin menunjukkan kesalehannya melalui pendidikan tasawuf dan kecintaannya terhadap Al-Qur’an. Selain itu, ia juga menjauhi arogansi dan bersedia mendengarkan saran dari orang-orang di sekitarnya. Shalahuddin berhasil mempersatukan umat Islam melalui kolaborasi antara ulama dan pemimpin, serta menyatukan faksi-faksi yang bertikai dengan mengedepankan solidaritas sosial (ashabiyah). Dukungan dari tokoh-tokoh hebat seperti Al-Qadhi Al-Fadhil dan Zainuddin Al-Hakkari turut memperkuat posisinya.

Dalam aspek pemerintahan, Shalahuddin menerapkan manajemen negara yang baik dengan menghapuskan pajak, membangun infrastruktur, memperkuat militer, mengembangkan ekonomi, dan menjaga stabilitas politik. Akhirnya, berkat perjuangan Shalahuddin dan umat Islam, Baitul Maqdis kembali ke pangkuan Islam pada tahun 1187.

Sebagai mahasiswa, tujuan utama kita dalam menuntut ilmu seharusnya adalah mengenal Allah dan lebih dekat dengan-Nya, bukan semata-mata mengejar gelar atau nilai pragmatis seperti IPK. Pandangan ini sesuai dengan pandangan para ulama yang menyatakan bahwa aktivitas belajar pada hakikatnya adalah untuk memperkuat hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Pertanyaan : 

  1. Bagaimana cara menumbuhkan semangat optimisme bagi anak muda terutama generasi sekarang? Pendidikan apa yang paling tepat untuk diterapkan di Indonesia saat ini?

Jawab : 

Kita harus meyakini apa yang kita punya/potensi yang kita punya. Caranya Mengeksplor diri kita  dan memaksimalkan hal-hal yang kita punya.

  1. Bagaimana cara kita sebagai generasi muda untuk berdampak diperbaikan sistem pendidikan dan cara agar berdampak pada masyarakat

Jawab : 

Kita harus mendorong diri kita sampai batas kemampuan kita, dorong dan gali potensi secara maksimal. Kemuudian kita berikan kontribusi terbaik bagi orang lain.

  1. Bagaimana pendapat ustadz tentang kita sebagai negara muslim tetapi tidak bisa mencontoh keteladanan Shalahuddin Al-Ayubi dalam menyelesaikan masalah terkait pertikaian antar/sesama agama?

Jawab : 

Pentingnya kesadaran semua umat sehingga lambat laun maka akan mendapatkan hasil yang diinginkan.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada