Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Uncategorized

Konsep Otomatis

  • Uncategorized
  • 4 November 2024, 20.45
  • Oleh : lennyaureliaamilia

Ringkasan Kajian Ahad Pagi Ahad, 6 Oktober 2024

Al-Baqarah ayat 261-263: Pahala Berinfak di Jalan Allah dan Etikanya

Pembicara : Ustadz Abu Abdirrahman, S. Pd. I., M. Pd. I.

 

Al-Baqarah 261

 

 مَثَلُ الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَهُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِىۡ كُلِّ سُنۡۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ​ؕ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنۡ يَّشَآءُ​ ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ‏

 

Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

 

Pertama, perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya seperti sebuah biji yang menumbuhkan 7 tangkai, tiap tangkai ada 100 biji. Perumpamaan ini berkaitan dengan sifat atau gambaran. Yang dimaksud disini adalah orang yang berinfak/bersedekah. Antara orang yang berbuat adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Ada suatu kalimat/kata yang ditutup/tidak ditampakkan, yakni: 1) shadaqah 2) seperti orang yang menanam sebuah biji permasalahan orang yang bersedekah yang mengingatkan hartanya di jalan Allah SWT. seperti orang yang menanam sebuah biji.

 

Kedua, perumpamaan menjadi satu metode pembelajaran dalam Alquran. Tujuan perumpamaan adalah agar manusia dapat lebih memahami dengan akalnya sehingga hal tersebut dapat tergambarkan dengan konkret. Gambaran seperti itu cenderung lebih mudah dipahami. Dalam hal ini, sesuatu yang bukan bersifat mustahil, maka diperbolehkan untuk dibentuk perumpamaan. 

 

Ketiga, Allah juga memberikan motivasi untuk berinfaq fii sabilillah. Sebagian berpendapat mengenau berjihad yang merujuk pada praktik peperangan, dalam hal maka jihad harta lebih dahulu dibandingkan dengan jiwa karena perbekalan dalam peperangan. Lalu selanjutnya baru orang yang berperang di jalan Allah SWT. Infak sering dikaitkan dengan fii sabilillah. Sedekah itu untuk orang lain. Memenuhi hak Allah dengan mengucapkan kalimat-kalimat pujian, termasuk sedekah. Memenuhi hak orang lain dengan berbuat baik, juga termasuk sedekah, termasuk dalam suami-istri. Kemudian sahabat bertanya terkait hal itu, Rasulullah pun memberi perumpamaan.

 

Berbeda dengan infak, infak ialah sesuatu yang dibelanjakan, bisa untuk diri sendiri atau orang lain. Termasuk ke dalam fii sabilillah. Kata sabil artinya fi syar’illah (dalam syariat Allah SWT). Atau dalam pintu-pintu kebaikan. Penafsiran lebih umum lebih diutamakan dibandingkan dengan yang bersifat khusus. Allah memberi perumpamaan seperti orang yang menanam habba, biji bijian yang tumbuh menjadi bahan makanan pokok, utamanya dalam konteks ini merujuk perumpmaan seperti gandum. Hibb bukan berkaitan biji bahan makanan pokok, seperti sayuran. Habb, berkaitan biji bahan makanan pokok atau al hubb yang dapat pula diartikan cinta. Dari 7 tangkai menjadi 700 biji, artinya dilipatgandakan dari 7 sampai dengan 700 kali. Allah akan melipatgandakan sesuai yang dikehendaki-Nya. 

 

Lalu, kepada siapa kita berinfak? Berinfak dapat ditujukkan kepada kerabat. Selain berbuat kebaikan kepada mereka, praktik tersebut juga dapat dilakukan melalui cara silaturahmi. Beinfak dapat dilakukan kepada orang yang menyembunyikan keadaannya (kondisi kehidupan sebenarnya) atau dapat diikatakan tidak meminta-minta. Lalu, bisa juga dilakukan kepada orang yang tidak melihat dari siapa yang memberi, maka si penerima menunaikan kewajiban dari si pemberi dengan menerimanya. Ucapan kalimat jazakallah merupakan sebuah doa. Namun, tidak hanya cukup sampai di sana, tetapi bisa ditambahkan pula dengan terus mendoakan orang tersebut hingga terasa bahwa telah membalas kebaikan si pemberi.

 

Kemudia, Allah mengakhiri surah dengan berfirman bahwa Allah Maha Luas. Allah akan memberikan kekayaan dengan memberikan keluasannya. Allah tidak membutuhkan harta dari kita tetapi Allah akan melipatgandakan harta yang telah diinfakkan.

 

اَلَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَهُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ ثُمَّ لَا يُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّلَاۤ اَذًى​ۙ لَّهُمۡ اَجۡرُهُمۡ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ​ۚ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُوۡنَ‏

 

Artinya: “Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

 

Allah SWT memberikan kabar gembira kepada orang yang berinfak di jalannya dan menjaga akhlak/adabnya dalam berinfak. Menjaga akhlak/adab ini dapat berupa tidak mengungkit-ungkit pemberian dan tidak menyakiti orang yang diberi. Menyakiti orang yang diberi dapat berupa dengan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan terhadap penerima dan menceritakan orang yang diberi tersebut kepada orang lain. Dalam haal ini, praktik menyakiti dalam berinfak ini termasuk ke dalam dosa besar. Allah tidak akan melihat mereka, tidak akan mensucikan mereka, dan akan memberi pembalasan baik di dunia maupun di akhirat. 

 

Allah dapat menumbuhkan perasaan tidak takut pada mereka karena merasa sudah berkecukupan. Termasuk suatu kefakiran, setan cenderung akan menakut-nakuti, membuat seseorang merasa banyak yang belum tercukupi di dalam hidupnya. Padahal, di dalam salah satu ayat pada QS Ar-Rahman Allah menjelaskan bahwa: “Bagi orang berinfak, Allah akan menghilangkan rasa takut dan kesedihan tentang masa yang akan datang, dan akan Allah ganti perasaan tersebut dengan perasaan aman dan gembira.”

 

Al-Baqarah 263

 

قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّمَغۡفِرَةٌ خَيۡرٌ مِّنۡ صَدَقَةٍ يَّتۡبَعُهَاۤ اَذًى​ؕ وَاللّٰهُ غَنِىٌّ حَلِيۡمٌ‏

 

Artinya: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun.”

 

Adab yang harus dilakukan oleh orang yang berinfak yakni berkata dengan kalimat-kalimat yang baik sehingga membuat hati mereka menjadi lapang. Lebih lanjut, salah satu contoh adab yang tidak patut, yakni meminta terus-menerus sehingga dapat membuat orang yang memberi kesal yang berimbas pada kalimat-kalimat yang tidak baik.

 

Allah menutup ayat dengan Allah Maha Kaya, yang artinya Allah tidak membutuhkan harta. Allah tidak terburu buru memberikan hukuman terhadap orang yang menyelisihi aturan. Ketidaksabaran dapat memunculkan adab/akhlak yang tidak baik. Ada 3 (tiga) petunjuk ayat dari 261-263: 1) keutamaan jihad di jalan Allah adalah berinfak 2) keutamaan sedekah 3) keharaman mengungkit-ungkit pemberian 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada