Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Rizal Mustansyir: Dampak Pembangunan Islam Pasca Positivisme

  • Ramadhan di Kampus
  • 11 Maret 2024, 19.03
  • Oleh :

Dalam perjalanan sejarah peradaban manusia, pada zaman Renaisans, abad ke 14-16, ilmu terpisah dengan agama karena agama pada masa itu dianggap terlalu intervensi terhadap ilmu pengetahuan. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Dr. Rizal Mustansyir, M. Hum. dalam ceramah tarawih Ramadan Public Lecture 1445 H, Senin (11/3) di Masjid Kampus UGM. 

 

Dr. Rizal mengutip qur’an surah fāṭir ayat 28 “…Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah orang-orang berilmu, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” Beberapa mufassir (orang yang melakukan tafsir), seperti Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa kata ilmu (ulama) menunjukkan setiap yang takut kepada Allah maka dialah orang yang ‘alim atau berilmu. Selanjutnya, Ibnu Katsir menafsirkan bahwa sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah adalah para ulama yang betul-betul paham tentang hakikat Allah. “Ketika pengetahuan kepada Allah sudah sempurna, maka konsekuensinya perasaan takut kepada Allah semakin besar”, jelas Dr. Rizal. 

 

Mufassir yang ketiga, yakni Hasan al-Bashri mengatakan bahwa yang dimaksudkan orang alim yang takut kepada Allah adalah mereka yang menyukai apa yang disukai oleh Allah dan menjauhi apapun yang mendatangkan kemurkaan Allah.

 

Ada empat ciri-ciri positivisme: pertama, mereka yang meyakini paham ini menolak dalil teologis atau dalil-dalil yang terkait dengan agama, terutama tentang keberadaan Tuhan, surga-neraka, kematian, dsb. Karena mereka menganggap tidak memberikan efek apapun kepada ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan. “Bagi mereka ilmu ya ilmu, tidak harus dicampur-baurkan dengan agama, dsb.” ujar Dr. Rizal. Kedua, mereka meletakkan basis dasar keilmuannya didasarkan pada data (empiris). Ketiga, naturalisme, yakni realitas alam yang tunduk pada hukum alam yang sifatnya konstan. Ciri yang keempat, mereka hanya mengakui metodologi tunggal dalam mencapai kebenaran.

 

Beliau menyebutkan lima dampak positif dari positivisme: pertama, kemajuan pesat saintek dalam kehidupan manusia. Kedua, gerak linear kemajuan saintek terus berkembang seakan-akan tidak ada titik berhentinya. Ketiga, berbagai temuan dan inovasi ilmuwan melahirkan semangat optimistik dikalangan masyarakat. Keempat, munculnya berbagai teknologi yang membantu kerja manusia, misalnya robot. Kelima, adanya Artificial Intelligence yang kini sudah mengambil peran fungsi manusia hampir disetiap seni kehidupan manusia.

 

Selanjutnya beliau juga membahas mengenai tiga dampak negatif dari positivisme: pertama, manusia mulai kehilangan jati diri ketika perannya diambil alih oleh robot atau Artificial Intelligence. Kedua, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan saintek sehingga menghasilkan positivisme, terutama yang termarjinalkan pada kemajuan iptek. Ketiga, semangat sekularisme yang terbelah menjadi dua kutub, antara sains dengan agama seolah-olah menjadi dikotomi yang tidak bisa dipadukan.

 

Dr. Rizal pada akhir ceramahnya menyampaikan bahwa melahirkan kasih sayang atau manifestasi Ar-Rahman diperlukan untuk semangat berbagi empati, tolong menolong. Selanjutnya, yang lebih penting dalam kehidupan ini adalah menjaga semangat keseimbangan atau tawazun. (Fatiya Auliya/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

 

Simak videonya berikut ini:

[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=CsLlOfnFjbY” height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada