Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Kajian

Mendadak Ngaji 19 September 2024 | Ayat-Ayat Ketatanegaraan: Mengurai Konsep Etika Politik di Dalam Al-Qur’an 

  • Kajian, Kajian Kamis Sore
  • 19 September 2024, 18.38
  • Oleh : nastitimoorya2006

 

Ayat-Ayat Ketatanegaraan: Mengurai Konsep Etika Politik di Dalam Al-Qur’an 

Narasumber: Ustadz Talqis Nurdiyanto

Kamis, 19 September 2024

 

          “Etika politik dalam Al-quran merupakan salah satu aspek penting dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, apabila dihiraukan maka akan rusak dan hancur dengan sendirinya.”

 

            Pedoman politikus muslim: Al-qur’an sebagai sumber utama ajaran islam memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana seorang pemimpin harus berperilaku dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Ketaqwaan menjadi perisai bagi seorang muslim, yang akan melindunginya dari perbuatan-perbuatan buruk. “Setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dia pimpin.” Setiap kita adalah politikus di kampus, bahkan dalam keluarga pun ada politik.

 

           Politik adalah siapa yang mendapatkan kekuasaan, kapan, dan bagaimana memperoleh kekuasaan. Tidak dibenarkan untuk mencaci-maki pemimpin, bukan berarti seseorang ketika menjadi pemimpin akan terlepas dari perbuatan salah. Bahkan rasulullah seorang pemimpin umat yang maksum saja Allah tegur dengan “abasa watawalla” apalagi kita yang hanya manusia biasa. 

 

            Ketika pemimpin melakukan kesalahan bukan lantas hal tersebut menjadi pembenar kita untuk mencaci-maki pemimpin. Hal ini pernah terjadi di masa Ali bin Abi Thalib ra. Ada seorang dari kaumnya yang menyampaikan, Wahai Ali, mengapa pemerintahan mu tidak sebaik pemerintahan khalifah sebelumnya?. Kemudian Ali menjawab, “Karena dahulu di saat Utsman menjadi khalifah orang yang beliau pimpin adalah orang seperti saya, maka tidak ada masalah yang berarti, sedangkan sekarang saya memimpin orang seperti kamu.”

 

            Berpolitik dengan moral, berpolitik dengan etika dan berpolitik dengan keadaban.  Etika politik dalam al-qur’an tidak hanya terfokus pada kekuasaan formal, tetapi juga pada nila-nilai moral dan keadilan yang harus dijunjung tinggi dalam tindakan politik.

 

Politik untuk kemaslahatan umum:

  1. Politik harus diarahkan untuk memajukan kepentingan umum, bukan kepentingan pribadi atau golongan tertentu 
  2. Mewujudkan kestabilan politik dan melahirkan kebijakan-kebijakan atas dasar kepentingan umum 

7 Etika dalam berpolitik:

  • Politik dengan Kejujuran

Q.S Al-Ahzab: 70, jangan sampai menimbulkan multi interpretasi, apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. 

Q.S Al-Fath: 18, bagaimana Al-Qur’an memperlihatkan terkait sumpah/janji setia. 

  • Berjanji setia 

Menjaga integritas dan janji setia, berusaha untuk memenuhi/melaksanakan sumpah jabatan. 

  • Musyawarah

Q.S Ali-Imran: 159, “Bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan yang penting”. Rasulullah sering mengajak para shahabat untuk bermusyawarah dalam mengambil keputusan. Seperti dalam perang khandaq, yang mana strategi Salman Al-Farisi yang digunakan. 

  • Kekuasaan (Titipan) Allah SWT

Q.S Ali-Imran: 26, “Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki). Allah berhak memberikan maupun mengambil kekuasaan dari siapapun. 

  • Keadilan

Q.S An-Nisa’, “Menyampaikan amanah kepada pemiliknya”. Seorang pemimpin harus menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. 

  • Taat dalam kebaikan

Q.S An-Nisa: 59 , “Taatilah Allah, taatilah rasul (Nabi Muhammad) serta ululammri (pemegang kekuasaan) diantara kamu”. Taat kepada pemimpin dalam hal-hal yang baik dan tidak bertentangan dengan syari’at. Maka penting para fuqaha untuk berada disamping para pemimpin agar dapat menghasilkan kebijakan yang adil dan membawa kebaikan. 

  • Demokrasi 

Q.S Al-Fath: 10, “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), (pada hakikatnya) mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Oleh sebab itu, siapa yang melanggar janji (setia itu), maka sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu hanya akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan menganugerahinya pahala yang besar.”

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada