Diskursus ISIS di Era Demokrasi

Oleh: Yusufshid

Ada WNI yang gabung ISIS. Mereka membakar paspornya. Tapi kemudian mereka bertaubat. Mereka ingin kembali ke Indonesia. Negara bukan tuhan yang bisa mengetahui isi hati manusia. Yang Negara harus lakukan adalah berusaha memastikan (pertaubatan)-nya. Kemudian memberikan hak-hak warga negara seadil-adilnya.

Seharusnya, sikap Negara kepada Rakyat itu sama seperti sikap Ibu kepada Anaknya. Menyayangi semuanya, tanpa membeda-bedakan.Namun, wajar jika ada sebagian warga Indonesia menolak pemulangan WNI Eks ISIS ke tanah airnya. Hal itu sebagaimana seorang anak protes ke Ibunya, menolak saudaranya yang nakal pulang ke rumah. Anak itu menolak saudaranya pulang karena, pertama dia takut dinakali oleh saudaranya, kedua karena dia ingin Ibunya memberikan reward kepada dirinya yang taat, dan menghukum saudaranya yang nakal.Namun, wajarnya seorang Ibu, ia tetap ingin seluruh anaknya berkumpul di rumah. Ibu yang bijak pasti akan memulangkan anaknya, membinanya agar menjadi baik dan menyayangi saudaranya. Ibu yang bijak juga pasti berusaha memahamkan anaknya yang penurut. Bahwa orang yang nakal itu juga saudaranya. Ibu sayang semuanya. Ibunya hanya mau berusaha bersikap adil.  Tidak membedakan satu sama lain. read more

Tantangan CSR Di Era 4.0 : Tidak Hanya Fokus Pada Dampak Fisik, Juga Pada Dampak Sosial Berupa Behavior

Oleh. Risyad Muhammad Rahmas | Mahasiswa Fisipol UGM

Perkembangan kepedulian terhadap aspek lingkungan dan tanggung jawab sosial terus terangkat selama sepuluh tahun terakhir. Perusahaan yang peduli kepada aspek lingkungan dan tanggung jawab sosial terus menerus mendapat apresiasi dari masyarakat. Selain itu, perusahan harus terus menerus didorong untuk membuat pelaporan non keuangan yang salah satunya adalah sustainability report.

Corporate Social Responsibility (yang selanjutnya disebut CSR), adalah bentuk dari  tanggung   jawab   dan   niat baik   korporat / perusahaan,   sekaligus   interaksi sukarela  perusahaan  dengan  para  pemegang  kepentingan perusahaan,  CSR  juga  memiliki tanggung  jawab  untuk  mengintegrasikan  konsep  Triple  Bottom  Line  (TBL) yaitu  ekonomi,  sosial  dan  lingkungan. John Elkington mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growthenvironmental protection, dan social equity, yang digagas juga The World Commission on Environment and Development (WCED) dalam Brundtland Report (1987). Implementasi CSR ini sebenarnya sudah banyak diusahakan dalam banyak perusahaan BUMN maupun non BUMN. Penerapan yang tentunya diperkuat oleh perundang-undangan mengenai tata kelola perusahaan, yang mana harus mempertimbangkan dampak secara sosial maupun lingkungan. read more

(Masih) Melawan Ketakutan yang Berlebihan

Oleh : Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin

Kronologi Penolakan UAS di UGM

Seperti yang telah tersebar di jagad maya dan bahkan menjadi tren di twitter, penolakan atas kedatangan Ustaz Abdul Somad (UAS) dari UGM disampaikan melalui Warek Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan bersama dengan Warek bidang SDM dan Aset kepada pihak Takmir Maskam UGM pada Rabu (9/10) pagi. Pelobian pertama dilakukan oleh Rektor yang saat itu sedang berada di Kairo kepada Sekretaris Maskam UGM, Prof. Edy Meiyanto via telepon. Negosiasi ini berujung pada permintaaan kepada Takmir Maskam untuk menemui Warek Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan (Prof. Djagal) bersama dengan Warek bidang SDM dan Aset (Prof. Bambang). Pihak Maskam diwakili oleh Ketua Takmir (Pak Mashuri) dan Wakil Ketua Takmir (Prof. Zufrizal). read more

Menafsirkan Kehendak Tuhan dan Persoalan Perbedaan Pendapat dalam Agama

Pendahuluan

Islam dalam konsepnya yang paling dasar adalah sebuah agama yang menekankan pokok ajarannya sebagai kepatuhan total manusia kepada tuhan. Konsep ini amatlah penting sehingga dikatakan bahwa tidaklah suatu orang benar-benar beriman jika ia belum memiliki sikap pasrah kepada tuhan.[1] Muhammad Asad seorang mufassir Al-Quran dalam komentarnya terhadap ayat (Innaddina ‘inda llahil Islam)“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam[2]  menerjemahkan kata Islam di ayat ini dengan merujuk kepada makna generik dari kata-kata Islam, yaitu sebagai sikap kepasrahan dan ketundukan, bukan sebagai institusi keagamaan formal. Sehingga apabila dibaca ulang maka ayat tersebut akan berbunyi “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah sikap pasrah (Kepada-Nya [Islam])” (Dalam Bahasa Inggris, “Behold, The only true religion in the sight of god is [man’s] self-surrender unto Him”.[3] Maka dari itu, bagi seorang muslim wujud paling hakiki dari suatu iman terhadap agamanya adalah sikap tawakkal dan ikhlas dalam mengikuti segala kehendak tuhan yang bersifat ilahiah (Divine Will) dalam menjalani keseharian hidupnya, baik dalam hal ibadah maupun dalam hal muamalah. read more

Ke(tidak)siapan Kalimantan Menyambut Warga Kosmopolitan Jakarta

Oleh : Rizky Wisuda Wardani – pembelajar yang masih belajar

Jakarta, kota metropolitan dengan begitu banyak cerita yang tersimpan didalamnya. Jakarta, tempat dimana orang-orang memikirkan pekerjaan yang terus mengejar seakan tidak boleh berhenti walau sampai di rumah. Jakarta, terkadang menjadi tujuan utama para kaum urban dalam mengadu nasib karena “katanya” kalau kerja di Jakarta pasti bisa sukses. Tapi, nanti itu hanya akan menjadi cerita bagi kaum yang sudah menikmati Jakarta, kaum-kaum yang sedari dulu sudah hidup di Jakarta dan merasakan kerasnya Ibu kota. Nanti, Jakarta bukan lagi Ibu kota yang di incar oleh para kaum urban, bukan lagi tempat para petinggi-petinggi negara, dan bukan lagi tempat yang layak untuk menjadi tempat singgah. Pemindahan Ibu kota, menjadi sebab utama orang-orang memikirkan apakah semua akan lepas dari Jakarta? Apakah berlomba-lomba ke pulau seberang untuk segera mendirikan perusahaan akan menjadi pilihan para pebisnis muda? Lalu, apakah Jakarta akan menjadi kota dan bergabung dengan Jawa Barat? Karena itu, pembahasan ini akan menarik. read more