“HIKMAH MULTIDIMENSI ISRA MIS’RAJ”

HIKMAH MULTIDIMENSI ISRA MIS’RAJ

Oleh: Fakhirah Inayaturrobbani (Kajian Strategis JS UGM 1436 H/2015 M)

Peristiwa yang mengiringi Isra’dan Mi’raj.

Raut muka bersih nan bercahaya itu tampak berduka. Senyum yang terukir di wajahnya tak mampu menyembunyikan hatinya yang gundah. Pria dengan cahaya kenabian itu masuk ke dalam rumah mengucap salam, di dalam putrinya menyambut sang ayah dengan mata berkaca-kaca. Di atas kepalanya masih ada sisa-sisa tanah yang ditaburkan oleh orang tak waras di jalanan. Orang itu menghadang jalannya, kemudian menaburkan tanah diatas kepala pria mulia ini.

Melihat kondisi sang ayah, salah seorang putrinya berdiri untuk membersihkan tanah yang ada di kepalanya sambil menangis. Meski kejadian ini bukan yang pertama kali. Sungguh, hati siapa yang tak teriris melihat orang lain memperlakukan orang yang disayangi dengan begitu hina.

Namun, pria itu dengan kemuliaan hatinya berkata kepada sang putri,”Jangan menangis anakku, sesungguhnya Allah senantiasa melindungi ayahmu.” Ia diam sejenak, lalu kembali menambahkan,”Orang-orang Qurays tidak pernah berhasil melakukan sesuatu yang tidak aku sukai kepadaku hingga Abu Thalib meninggal dunia.” (diriwatkan oleh Ibnu Ishaq bahwa Hisyam bin Urwah berkata kepadanya dari ayahnya, Urwah bin Az-Zubair).

Beliau adalah Rasulullah, tiga tahun sebelum hijrah, Ia mengalami sebuah tahun yang menyedihkan karena kedua orang yang paling dikasihinya meninggal dunia. Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Khadijah meninggal dunia dan pada tahun yang sama, Abu Thalib juga meninggal dunia. Rasulullah SAW banyak sekali mendapat musibah pasca kematian keduanya.” Sebab, ketika keduanya meninggal, Kaum Quraisy semakin leluasa mengganggu Rasulullah. Dulu, Abu Thalib bagaikan perisai bagi Rasul, yang dengannya kaum Quraisy tak berani terang-terangan bertindak. Sementara, Khadijah adalah menterinya, yang menyemangati dan mengatur segala urusannya. Tahun ini, kemudian dikenal sebagai tahun kesedihan (Amul Huzni).

Saat Rasulullah merasa kehilangan pelindung, ia teringat sanak-kerabatnya yang menduduki jabatan pemerintahan di Thaif. Rasulullah berharap ada secercah harapan, guna mencari pertolongan dan perlindungan dari Tsaqif atas gangguan kaum Quraisy terhadap dirinya dan pengikutnya. Selain itu, beliau juga memohon agar risalah Islam dapat diterima oleh Bani Tsaqif. Lalu, Rasulullah pergi ke Thaif seorang diri.

Sayangnya Bani Tsaqif bukan hanya menolak apa yang disampaikan Rasul, namun juga mengerahkan orang-orang bodoh dan budak-budak untuk mencaci maki Rasulullah, hingga mereka mengepung Rasul dan beliau terpaksa bersembunyi di kebun Utbah bib Rabiah.[i] Peristiwa ini tentu semakin menambah luka hati beliau.

Dua tahun kemudian, Rasulullah masih diliputi kesedihan yang mendalam. Lalu, dengan rahmatNya, Allah menghadiahi Rasulullah sebuah perjalanan menuju Arsy yang kemudian dikenal dengan istilah Isra’ dan Mi’raj. Dalam kitab Fiqhus Sirah karya Muhammad Al-Ghozaly, Isra’ merupakan perjalanan menakjubkan di malam hari dari Masjidil Haram (Mekkah) menuju ke Masjidil ‘Aqsa. Sementara Mi’raj ialah perjalanan menuju petala langit hingga langit ke tujuh dan tiba di Mustawa, suatu tempat yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Dari kejadian Isra’ dan Mi’raj ini tersimpan berbagai makna multidimensi yang dapat dikupas lebih dalam.

  1. Dimensi Politik

A. Pergeseran Kepemimpinan

Al-Ghozaly dalam sirahnya membuka dengan apik melalui dengan dua buah pertanyaan yang menggelitik, ‘mengapa perjalanan Isra’ itu ke Baitul Maqdis terlebih dahulu, dan mengapa tidak langsung saja ke Sidratul Muntaha?’

Kemudian, dalam pembahasan sirahnya, ia merujuk ke sebuah sejarah lampau.

“…selama masa yang amat panjang, kenabian selalu berada di lingkungan Bani Israil dan Baitul Maqdis. Selalu menjadi tempat turunnya wahyu Ilahi, menjadi sumber cahaya yang menerangi ummat manusia di muka bumi dan menjadi tanah air bagi rakyat pilihan.”

 

Kemudian, dalam analisis Al-Ghozaly, dalam karyanya Fiqhus Sirah, menyediakan pembahasan khusus mengenaai pergeseran kepemimpinan tersebut. Hal ini menunjukkan adanya pencabutan tonggak kepemimpinan dari Bani Israil kepada kaum Quraisy. Sebab, Bani Israil pengikut Musa dan Yahudi pengikut Isa senantiasa ingkar kepada wahyu yang diturunkan. Hal ini juga ditandai dengan peristiwa Rasulullah mengimami para Nabi yang membawa agama samawi sebelumnya. Padahal, dalam adab sholat, tuan rumahlah (Para Nabi yang diutus di Baitul Maqdis) yang seharusnya menjadi Imam. Selain itu, pilihan Rasulullah saat ditawarkan dua buah jenis minuman yaitu khomr dan susu, beliau memilih susu. Lalu berkatalah Jibril, “Kamu telah membimbing menuju fitrah, kamu telah membimbing ummatmu,”

Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Prof Dr. Rawwas Qol’ahji, disebutkan bahwa kepemimpinan secara simbolis telah berpindah pundak. Rasulullah lah yang kelak akan memimpin dunia dengan Islam. Perubahan tonggak kepemimpinan ini merupakan perubahan konstitusional (masyru’ at-taghyiir), sebab yang melakukan penyerahannya tidak lain ialah para Nabi, yang notabene merupakan para wakil ummat.

B. Seleksi Alam

Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi setahun sebelum pendirian Negara Islam (Dawlah Islam) di Madinah atau satu tahun sebelum peristiwa besar, yaitu hijrahnya kaum muslimin ke Madinah. Peristiwa-peristiwa besar membutuhkan pemain-pemain terpilih guna menerapkan syariat Islam secara kaffah baik lahir maupun batin. Sungguh setelah melalui perjalanan yang menakjubkan. Keesokan harinya Rasulullah menceritakan perihal kisahnya, dan berbondong-bondonglah kaum Quraisy datang ingin mendengar kisah aneh itu. Namun, setelah mendengar kisah itu, malah semakin memperolok-olok dan semakin ingkar, tidak beriman.

Kemudian, datanglah Abu Bakar yang membenarkan, sehingga sejak saat itu ia dijuluki Ash-Shiddiq. Sebaliknya, akibat peritiwa itu pula, sekelompok kaum muslimin menjadi ragu hatinya dan murtad.[ii] Hal ini dikutip oleh Al-Ghozaly dalam kitab Al-Masnad karya Imam Ahmad bin Hanbal no.4546 dari hadist Ibnu Abbas yang mengatakan, “setelah nabi SAW diisra’kan ke Baitul Maqdis, keesokan harinya beliau menceritakan perjalanannya itu kepada mereka,…mereka lalu berbalik menjadi kafir kembali,” riwayat hadist ini isnadnya baik. Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa hadist itu diriwayatkan oleh An-Nasyai dan isnadnya shahih.

Ibnu Hisyam mengatakan bahwa pada peristiwa Isra; terdapat ujian, seleksi, dan salah satu bukti kekuasaan Allah. Selain itu, terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal, petunjuk, rahmat dan pengokohan bagi orang yang beriman dan membenarkannya.

Melalui peristiwa ini kemudian menjadi jelaslah siapa-siapa yang yakin dan beriman, dan siapa yang hatinya tidak setia pada keimanan. Serta, menjadi terang benderang siapa yang siap untuk memanggul amanah dakwah yang lebih berat lagi, yaitu menerapkan Islam secara sempurna di Madinah dan menyebarkannya ke seluruh pelosok dunia.

  1. Dimensi Sosial

Al-Ghozaly juga menyatakan adanya peletakkan dasar transformasi sosial yang dicontohkan Rasul bahwa risalah yang dibawanya akan menyatukan berbagai jenis masyarakat, darimanapun asalnya dan bagaimanapun warna kulit dan bahasanya. Peristiwa sholatnya beliau bersama para Nabi tidak hanya menunjukkan pengakuan para nabi lainnya, namun juga mengindikasikan ideologi Islam akan menaungi semua warna kulit. Menunjukkan keuniversalan Islam.

Ibnu Hisyam dalam sirahnya merujuk pada perkataan Ibnu Ishaq, terkait ciri-ciri para Nabi yang beliau lihat. Az-Zuhri berkata dari Sa’id bin Al-Musaiyyib bahwa Rasulullah SAW bercerita tentang ciri-ciri Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa yang beliau lihat pada malam Isra’. Rasulullah bersabda, “Adapun Nabi Ibrahim, aku tidak pernah melihat orang yang amat mirip dengan kalian (beliau sendiri) melainkan dia (Nabi Ibrahim) dan sahabat kalian (beliau sendiri) tidak mirip dengan siapapun, melainkan mirip dengan dia (Ibrahim). Adapun Nabi Musa, beliau berwarna sawo matang, tinggi, ceking, rambutnya lebat, hidungnya mancung dan beliau seperti orang dari kabilah Syanu’ah. Sedang Nabi Isa, beliau kulitnya berwarna merah-kemerahan, sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), rambutnya lurus, di wajahnya terdapat banyak tahi lalat, sepertinya beliau keluar dari kamar mandi dan engkau bayangkan kepalanya meneteskan air, padahal di kepalanya tidak ada air dan orang kalian yang paling mirip dengannya ialah Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi.”

 

  1. Dimensi Psikologis

“Wahai Muhammad, jika bumi terasa sempit bagimu, maka langit itu sangat luas bagimu. Jika penduduk bumi memusuhimu, maka penduduk langit menyambut dengan baik kedatanganmu. Dan jika penduduk bumi menghinakanmu, maka kedudukanmu di sisi Allah.”(dikutip dari Sirah Nabawiyyah karya Prof. DR. Muhammad Rawwas Qol’ahji).

Rasulullah yang tengah dilanda kesedihan luar biasa, dihadiahi oleh Allah sebuah peritiwa yang membangkitkan semangatnya. Allah menghibur Rasul dengan menunjukkan bukti kebenaran firmanNya. Prof. Dr. Rawwas Qol’ahji menyebutkan peristiwa ini juga menguatkan Rasul dalam dakwahnya, sebab merupakan mukjizat kedua setelah Al-Quran.

Sejatinya, peristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah satu bukti kekuasaan Allah bahwa Allah Maha Agung dan segala firmanNya merupakan kebenaran. Allah memperlihatkan ayat-ayatnya sepeti yang Dia kehendaki. Hingga Rasul dapat menyaksikan bukti-bukti kekuasannya dan kemampuannya mengerjakan apa saja yang diinginkan-Nya. Setelah kejadian ini semakin giatlah Rasulullah berdakwah. Al-Ghozaly menggambarkan, seusai peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah semakin rajin menyampaikan Islam di musim haji kepada kabilah-kabilah yang berkunjung.

 

  1. Dimensi Spiritual

Tak dapat dipungkiri bahwa, peristiwa Isra’ dan Mi’raj meletakkak pondasi besar pada pilar agama Islam. Sebab, kewajiban sholat lima waktu diturunkan pada peristiwa ini, melalui riwayat Abdullah bin Mas’ud, digambarkan bagaimana Rasulullah mendapatkan perintah sholat lima waktu. Hal ini juga menunjukkan betapa krusialnya sholat. Dalam kitab Riyadhus-sholihin dan berbagai kita lainnya, sholat merupakan hal pertama kali yang akan ditanya di yaumil akhir kelak. Peristiwa Isra’ dan Miraj ini pula menggambarkan bagaimana balasan bagi orang-orang yang lalai dan ingkar terhadap syariat yang telah Allah turunkan. Rasulullah menceritakan bagaimana siksa neraka bagi orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, memakan harta riba, dan laki-laki serta wanita pezina.

  1. Dimensi Ilmu Pengetahuan

Dalam banyak studi mengenai Isra’ Mi’raj, banyak cendekiawan Islam menarik hikmah melalui sudut pandang ilmu pengetahuan. Dimana kejadian perpindahan Buraq yang pada saat itu dianggap mustahil, hari ini mulai terjelaskan. Terlepas dari berbagai perdebatan bagaimana wujud Buraq itu sebenarnya. Para cendekiawan juga banyak yang mengambil hikmah bahwa Isra’ Mi’raj mendorong agar kaum muslimin terus belajar terkait kemajuan teknologi.

 

Berbagai dimensi hikmah yang dapat diurai melalui peristiwa ini selayaknya menjadi perenungan.Namun, dimensi yang paling sering dilupakan adalah sisi politis dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sesungguhnya, peristiwa ini terjadi setahun sebelum diproklamirkan sebuah institusi legal pemerintahan Islam. Sehingga, menyingkap berbagai sisi hikmah Isra’ Mi’raj menjadi penting dilakukan dari segi mengetahui unsur-unsur yang dapat dijadikan sandaran perjuangan mewujudkan kehidupan madani di Madinah. Rasulullah menjadi semakin yakin, Allah Maha Benar, sekaligus mengetahui siapa saja yang ikhlas dan pantas diserahi tugas pertama, tugas kedua, yang terpercaya, yang tahan banting menghadapi kondisi perjuangan sekalipun terlihat mustahil. Lalu, diukir dengan tinta emas sejarah siapa saja orang-orang terpilih yang senantiasa bertaqwa sebagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Selain itu, tidak banyak disingkap bahwa pasca peristiwa ini Mush’ab bin Umair dipercaya Rasul untuk berangkat membuka jalan ke Madinah. Walaupun dengan peristiwa ini pengikut Rasulullah semakin sedikit karena terseleksi dengan sendirinya. Namun, melalui peristiwa ini pula semakin murni dan kokohlah barisan perjuangan Rasul. Sebab, akhirnya tersisa mereka yang yakin dan bertaqwa atas segala firman Allah dan sunnah Rasulullah.

Wallahu a’lam bishshowab.

Daftar Bacaan

Abu Fuad Isma’il Ibnu Katsir. Al-Fhusuulu fi Ikhtshaarihi siirah ar-Rasul(u) Shallahu ‘Alaihi Wassallam. Al-Isra(u) wal Mi’raaju wa ‘Irdhu an-Nabiyyi ‘ala al-Qabaaili.

 

Ibnu Hisyam. 2013. Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam. Bekasi: PT. Darul Falah.

Muhammad Rawwas Qol’ahji. 2010. Sirah Nabawiyyah. Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw. Bogor: Al-Azhar Press.

Muhammad Al-Ghozaliy. Tt. Fiqhus Sirah, Bandung: PT. Al-Ma’arif.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X