Oleh Fakhirah Inayaturrobbani

Departemen Kajian Strategis Jamaah Shalahuddin UGM

“Khairu jaliisin fii al-zamaani kitabun”

Indonesia merupakan negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia [1]. Ironisnya, riset yang dilakukan Unesco pada tahun 2014 lalu mengungkapkan bahwa hanya satu dari seribu orang Indonesia gemar membaca [2]. Hal ini menunjukkan mayoritas orang Indonesia, mau tidak mau termasuk muslimnya, jarang membaca. Selaras dengan hal itu, riset bertajuk The Worlds Most Literate Nations yang dilansir oleh Central Connecticut State University 2016 juga menempatkan Indonesia pada posisi ke-60 dari 61 negara [3]. Posisi yang lagi-lagi kurang membanggakan.

Lalu bagaimana dengan minat baca mahasiswa? Sosok yang ‘dianggap’ menempati strata tertinggi jenjang belajar pada institusi pendidikan negeri ini? Serta dianggap menjadi representasi kaum intelektual muda di Indonesia? Hasilnya tak kalah memilukan. Balairung Press UGM melansir riset bahwa hanya 41,7 % mahasiswa menyelesaikan satu-dua buku dalam sebulan, sementara sisanya, 38% responden menyatakan tidak menyelesaikan satu buku pun dalam sebulan atau tidak sama sekali [4]. Kemudian, waktu baca harian 51% mahasiswa hanya berkisar 1-2 jam saja, bahkan sisanya kurang dari 1 jam perhari. Riset NOP world culture score ™ Index menyurvei durasi baca rata-rata negara-negara di dunia. Hasilnya, India mengalahkan Indonesia dengan lama jam membaca hingga 1,5 jam per hari. Sementara, rata-rata orang Indonesia (termasuk mahasiswanya) hanya membaca 51 menit perhari.

Ironis bukan?

Muslim dan Membaca

Lalu, bagaimana kita sebagai mahasiswa muslim. Bagaimana jam baca sehari-hari kita? Sudahkah kita membaca Alquran hari ini? Membaca buku-buku tentang tsaqofah Islam? Atau terkait dunia perkuliahan dari sekian referensi buku yang disarankan oleh dosen untuk dibaca satu semester itu. Sudahkah kita membacanya hingga tuntas? Atau hanya menjadi hiasan indah di sudut-sudut kamar, bahkan hingga wisuda pun mungkin terdapat buku-buku yang tidak pernah tamat dibaca sama sekali oleh pemiliknya. Lalu, buku-buku tersebut akhirnya diloakkan atau diberikan kepada orang lain tanpa sempat dibaca.

Padahal, sebagai seorang muslim, membaca sangat dekat dengan agama kita. Bahkan, perintah membaca direpresentasikan dalam prioritas pemberian wahyu. Sebab di antara 6666 jumlah ayat AlQuran, kata Iqra (bacalah) yang akhirnya dipilih oleh Allah sebagai wahyu pertama dibandingkan dengan ayat-ayat lain.

Membaca mempunyai nadi yang sangat dekat dengan ajaran Islam. Baik membaca secara harfiah maupun maknawi. Secara harfiah misalnya membaca Alquran, berbagai buku bacaan, dan sebagainya. Sementara membaca maknawi bisa bermakna membaca tanda-tanda ke-Esaan Allah seperti men-tadabbur-i alam, membaca ayat-ayat kauniyyahnya, menuntut ilmu dan lain sebagainya.

Budaya Ulama Muslim: Membaca, Menulis dan Mengajar

Sungguh tak kurang-kurang sosok panutan bagi umat Muslim dari masa ke masa. Banyak ulama lahir dan memberikan keteladanan bagi umat-umat selanjutnya. Ulama-ulama ini tentu tak lepas dari budaya menuntut ilmu, yaitu membaca, menulis, dan mengajar. Berikut beberapa ulama yang senantiasa dekat dengan ilmu dan tentu saja buku:

1. Imam Syafii

Siapa yang tidak kenal Imam Syafi’i, sang ahli fikih yang jenius. Pada usia 9 tahun ia telah menghapal seluruh ayat Alquran. Tentu aktivitas ini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas membaca. Bahkan, setelah itu Imam Syafii mampu menghapal 1.720 buah hadist dalam Kitab Al-Muwatha’, karya Imam Malik [5]. Bagaimana jika ia tidak gemar membaca, apakah ia mampu merumuskan berbagai kaidah fiqih yang hingga hari ini masih terus dipakai di berbagai belahan dunia.

2. Imam Ghazali

Khairu jaliisin fi (al)zamaani kitaabun, sebaik-baik teman dalam setiap zaman adalah buku, begitulah kata Imam Ghazali [6]. Tak heran jika Imam Ghazali menghabiskan masa kecilnya untuk membaca buku. Etos ini tentu didorong dengan semangat menuntut ilmu yang Allah telah janjikan pahala besar bagi penuntutnya. “Man kharaja fi (al)thaalabul ‘ilmi fahuwa fi (al)sabilillah hattaa yarji’a” (HR. Bazaar) [7]. Barangsiapa yang keluar rumah dan ia dalam rangka menuntut ilmu, maka sesungguhnya ia di jalan Allah hingga ia kembali. Tak kurang lebih dari 100 judul buku lahir dari buah pemikirannya yang mendalam. Tak mungkin semua aktivitas dan karyanya lahir tanpa aktivitas membaca yang produktif, bukan?[8].

3. Imam Bukhari

Tak jauh berbeda dengan al-Ghazali, Imam Bukhari adalah ulama mumpuni yang sangat gemar belajar dan membaca. Tak heran, pada usia 10 tahun ia telah mempelajari ilmu-ilmu hadist yang rumit. Lalu, pada usia 18 tahun Imam Bukhari telah menerbitkan kitab pertamanya, Qudhaya ash-Shabat wa at-Tabi’in. Selain itu, beliau bersama gurunya, pernah melakukan mega proyek dengan mengumpulkan 80.000 ribu hadist dari berbagai belahan dunia lalu menyortirnya menjadi hanya 7.275 hadist yang shahih.

4. Imam Hambali

Imam Hambali atau biasa disebut sebagai Imam Ahmad. Ia merupakan orang yang sangat mencintai ilmu dan mempunyai kegemaran yang tinggi untuk membaca, terutama dalam bidang Ilmu Hadist. Hingga ia tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk beristirahat. Bahkan beliau berkata, tamasya (rekreasi) bukanlah aktivitas para Nabi dan orang-orang shalih. Karena itu seorang murid hendaknya tidak melakukan safar kecuali untuk ilmu dan menyaksikan kehidupan para ulama agar ia bisa mencontoh perjalanan hidup mereka [9].

5. Sufyan Ats-Tsauri

Sufyan Ats-Tsauri adalah ahli hadist di masanya. Ia telah belajar hadist sejak usia enam tahun. Ia juga merupakan ulama’ yang sangat bersemangat untuk menuntut ilmu. Ia berkata, “Aku akan terus menuntut ilmu selama ada orang yang mengajariku, Jika para ahli hadist tidak datang mengjar, aku akan bergegas mengunjungi mereka.” Kecintaannya terhadap ilmu ditunjukkannya dalam manajamen malam-malamnya. Ia membagi waktu malam menjadi dua, yaitu, sholat dan membaca Alquran, sementara sisanya ia gunakan untuk membaca dan menghapal hadist hingga datang waktu shubuh [10].

Kesimpulan

Tentu banyak ulama lainnya yang menunjukkan kecintaan mereka terhadap aktivitas membaca dan menuntut ilmu. Sungguh motivasi terbaik kita bahwa membaca adalah aktivitas menuntut ilmu. Dan orang-orang yang menuntut ilmu sungguh mulia di hadapan Allah SWT. Selamat membaca dan berbagi serta selamat Hari Aksara Nasional, 8 September 2016!

Referensi :

[1] Pew Research Center. 2015. www.pewforum.org/2015/04/02/muslims

[2] Riset Unesco, http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/02/27/nkf7k917-minat-membaca

[3] World Literacy, How Countries Rank and Why It Matters, (2016), Routledge.

[4] Dwiky. Juli 2016. Jajak Pendapat: Rendahnya Minat Baca Mahasiswa Yogyakarta. Balkon. Yogyakarta. Hal 16.

[5] Kerja Keras, Ibrah, Majalah Al-Waie, 29 November 2011.

[6] Kerja Keras, Ibrah, Majalah Al-Waie, 29 November 2011.

[7] Bulughul Maram, Ibnu Hajar Al-Asqalani.

[8] Kerja Keras, Ibrah, Majalah Al-Waie, 29 November 2011.

[9] Najmuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin Abdurrahman bin Al-Qudamah al-Maqdisi, Mukhtasar Minhaj al-Qashidin, 1/211)

[10] Sufyan Ats-Tsauri, Ibrah, Majalah Alwaie, No. 184 Tahun XVI, 1-31 Desember 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *