Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis

Mengintai Pagi

  • JS Menulis, Karya Seni
  • 19 Juli 2010, 11.11
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

pagi

Aku telah lama merindukan suasana seperti ini, menikmati dingin kabut putih yang terus memberikan kesejukan tersendiri dalam dekapan pagi. Celotehan jangkrik yang malam tadi memenuhi seisi desa sekarang sudah tak terdengar lagi. Cahaya redup bidadari malam dan rangkaian menakjubkan dari bintang bintang tergantikan oleh cahaya putih pangeran matahari.Beningnya embun menandakan betapa sucinya ia. Menghiasi tiap helai dedaunan tuk memberikan efek warna pelangi indah kala mentari menerpa. Kusadari keindahan itu hanya sesaat, mentari  harus kembali mengantarnya kelangit dan menjadi awan putih berlapis harapan para petani tuk mengubahnya menjadi hujan suatu hari nanti.

Kedatangan mentari disambut meriah oleh nyanyian burung burung kecil yang telah bersiap tuk berburu rizki dari Sang Maha Pemurah. Burung-burung yang selalu yakin akan rizkinya yang telah diberi kadar masing-masing oleh Tuhan mereka, tak kurang, dan tak lebih. Ia yakin Tuhannya kan memberikan apa yang selama ini dia butuhkan, bebepa butir biji-bijian sebagai sumber energi tuk mempertahankan nafas di hari ini. Mereka mulai mengembangkan sayap dan terbang riang dengan diiringi kicauan merdu tuk menyanyikan melodi pagi yang tertulis dalam lirik-lirik syair alam gubahan penghuni bumi. Berkejar-kejaran diantara deras panas mentari dan desahan angin pagi.

Tawa renyah anak-anak berseragam putih merah terdengar begitu bebas tanpa beban. Begitu ceria, tak nampak di wajahnya guratan pikiran akan nasibnya sekarang. menggendong tas ransel kecil yang sudah mulai lusuh berisikan buku-buku pelajaran yang sampulnya sudah agak sobek dan lembarannya banyak yang terlepas. Tapi aku melihat luapan semangat yang begitu tinggi dari mereka tuk belajar dan menjadi pemimpin dari bangsa ini suatu saat nanti.

Lelaki setengah baya yang memanggul cangkul di pundaknya dan sabit terselip di celananya berkjalan beriringan dengan beberapa ekor sapi telah dipersiapkan sebelumnya untuk membajak sawah. Senyum khas penduduk desa terlintas di bibirnya saat dia menoleh kearahku. Warna kulit yang sudah menghitam akibat setiap hari bermandikan panas matahari. Dia tak peduli tentang apa yang diperdebatkan oleh orang yang mengaku sebagai “wakil” mereka di sana. Harapan mereka sederhana, mereka hanya ingin agar bisa tetap makan hari ini.

Mimpi indah yang terputus seolah tergantikan oleh indahnya hari ini. Tinggal kita sendiri yang memutuskan tuk menulis kisah apa hari ini. Karena hidup kita adalah sebuah buku, tidak peduli seburuk apa cerita di halaman yang lalu karena kan selalu ada halaman baru yang masih putih tuk kita berikan goresan indah cerita tentang kehidupan yang penuh dengan makna dan perbaikan.

Selamat menikmati hari ini.

Dalam kedamaian suasana pedesaan,  juli 2010

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada