Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • JS Menulis
  • Catatan Shalahuddin

​2 Mei dan Segala yang Tak Lagi Seru

  • Catatan Shalahuddin, JS Menulis, Kabar JS, Kabar Terkini, Kabar UGM, Kajian, Karya Seni, Opini, Politik, Uncategorized
  • 2 Mei 2017, 12.45
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Oleh: Ahmad Naufal Azizi
Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM
2 Mei akan tetap seperti ini.

Ia datang sebentar, membeberkan wacana pendidikan yang lebih baik, boleh jadi muncul aksi di satu-dua tempat, lantas kemudian pergi -hilang tanpa ada pemaknaan berarti.
Tahun depan?

2 Mei boleh jadi datang lagi. Ya tentu dengan rutinitas sama seperti hari ini. Bahkan, ketika dunia hendak kiamat sekalipun, 2 Mei akan tetap jadi hiburan simbolik belaka. Sampai kapanpun, ketika kepentingan pendidikan masih berdasar sekat almamater dan kepentingan organisasi masing-masing, sampai saat itu pula perjuangan akan pendidikan yang lebih baik akan berakhir mengecewakan.
2 Mei akan tetap seperti ini.

Sampai kapanpun, sampai akhirnya yang mendaku aktivis kampus tidak lagi mengkooptasi kepentingan pendidikan untuk meninggikan marwah organisasinya dengan kepedulian simbolik. Hingga mereka yang mendaku aktivis benar-benar sadar dan insaf, bahwa kepedulian haruslah didasari atas dasar pemahaman atas masalah yang terjadi, bukan pada pengharapan atas penghargaan yang akan diraih.
Urusan pendidikan harus diletakkan sebagai permasahalan dasar bagi siapa saja yang pernah mengenyam bangku sekolah.
Urusan pendidikan tidak bicara tentang batas usia, warna almamater, gelar pendidikan, maupun organisasi apa yang membuat kita bergerak peduli.
Urusan pendidikan, juga tidak berbicara tentang profit apa yang akan kita dapatkan setelah berjuang melawan ketidakadilan.
Urusan pendidikan adalah urusan anak cucu kita nanti. Pendidikan yang akan mereka dapatkan besok hari, kemudahan dalam mengakses ilmu pengetahuan, kesempatan pendidikan yang merata, hilangnya beban tanggungan berat orang tua, dan seulas simpul senyum bahagia mereka adalah kita yang menentukan hari ini. Bukankah Tuhan bersama mereka yang berusaha?
Halo kawan, mungkin kita tidak pernah bertemu dalam dunia nyata, tapi maukah kamu, untuk urusan ini saja. Untuk besok dan hari-hari seterusnya, mencoba meletakkan ego kita masing-masing, meletakkan embel-embel organisasi kita masing-masing, bahkan, meletakkan almamater sekolah kita masing-masing.
Urusan ini akan sangat panjang, bahkan aku tak tau akan berakhir sampai kapan. Tapi, setelah ini, maukah kita peduli? karena #resahmu juga #resahku

Untuk Tuhan, Negara, dan Pendidikan yang Berkeadilan
#resahmuresahku 

#resahkuresahmu 

#2mei

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada