Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • GMMQ

Menjaga Ayat Cinta-Nya

  • GMMQ
  • 29 November 2018, 14.10
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Oleh: Sri Mawar Aprilyanti & Juli Fathonah (staf BSO Gadjah Mada Menghafal Qur’an)

“Shodaqallahul adhim…”

Alhamdulillah pekan ini Aku dan Rara telah menyetorkan hafalan kepada kak Anin. Kegiatan pekanan yang selalu kami tunggu-tunggu di tengah kesibukan yang kian padat, namun kebutuhan ruhiyah harus tetap perlu diisi. Ibarat sebuah wadah, untuk mengisi kembali setelah terpakai perlu dibersihkan terlebih dahulu. Begitu pula dengan hati. Dengan hati yang dibersihkan, jiwa akan terasa baru untuk menyemai segala aktivitas.

**

Setelah selesai menyetorkan hafalan, kami membentuk sebuah lingkaran kebersamaan yang menguatkan ikatan ruhiyah satu sama lain. Ikatan yang mengantarkan untuk selalu mencintai kalam-Nya.
Rara mengawali perbincangan di kala senja yang dingin itu,
“Kak, katanya kalau udah selesai 30 juz, menjaganya susah ya kak?” tanya Rara.
Kak Anin tersenyum kemudian menjawab pertanyaan Rara dengan sangat lembut.

“Semua orang punya cara tersendiri dalam menjaga hafalan. Ada yang menjaga dari pola makannya, ada yang menjaga tingkah lakunya, ada juga yang berkeyakinan bahwa sebenarnya kalau kita yakin hafalan kita tidak hilang, maka hafalan kita tidak akan hilang,” kata kak Anin.

Aku yang mendengar jawaban kak Anin tersenyum sumringah, dan memegang doktrin bahwa kalau kita yakin hafalan kita tidak hilang , maka dia tidak akan hilang.
“Sepertinya ini alasannya kenapa aku mudah saja menghafal dan hafalanku tidak hilang, mungkin karena Aku yakin,” ucapku dalam hati mantap sambil tersenyum.

*

Saat sedang asyik-asyiknya berbincang, tiba-tiba ada seorang pemuda yang tak sengaja lewat dengan perawakannya yang santun dan tanpa sengaja aku melihatnya,
sampai Aku merasa sebuah tepukan di pahaku.
“Pandangannya dijaga..” kata Rara yang mengingatkanku.

“Eh.. Aku kan tidak sengaja melihatnya” jawabku sambil mengalihkan pandanganku ke Rara.

“Walaupun tidak sengaja tapi kan mandangnya lama, hati-hati nanti hafalannya hilang” ingat Rara lagi.

“Kata kak Anin kalau kita yakin hafalan kita tidak hilang, dia tidak akan hilang. Dan, aku yakin,” ucapku sambil tersenyum bangga.

“Sudah.. sudah.. jangan berdebat,” lerai kak Anin dengan lembut sambil tersenyum.
“Kita boleh berpegang teguh dengan doktrin tadi, tapi ingatlah ada istidraj” jelas kak Anin sedikit serius. Aku dan Rara mengerutkan kening.

“Istidraj apa kak?” Tanya ku.

“Istidraj itu, tahap ketika Allah seperti mengabaikan kita. Ketika kita melakukan maksiat baik kecil atau besar tapi tidak berpengaruh kepada kita, termasuk kepada hafalan kita, atau bahkan kepada hidup kita,” jawab kak Anin diakhiri dengan senyum.

“Boommmm….”
Aku benar-benar merasa seperti tercambuk saat ini. Aku menundukkan kepalaku sambil merenung dan mengingat betapa banyak maksiat-maksiat kecil yang aku lakukan tapi tidak berpengaruh apapun kepada hidupku.

Hmm.. Batinku menjadi bergejolak, pikiranku menjadi tak karuan, pertanyaan yang kini membuat jiwa ini tidak tenang lagi.
“Apakah aku termasuk ke dalam kategori istidraj?,” pertanyaan yang terus terngiang difikiran dan menohok di dalam hati. Sedih dan takut kian menyelimuti, takut kalau ternyata Allah tidak lagi memedulikanku.

“Kita boleh berpegang teguh pada doktrin itu, tapi kita juga harus hati-hati untuk menjaga hubungan kita kepada Allah.” Ucap kak Anin dengan lembut sambil menepuk lembut bahuku.

Aku tak kuasa menahan air mataku. Air mata penuh ketakutan bahwa Allah telah mengabaikanku terus mengalir deras. Dan aku merasakan sebuah pelukan. Ya. Rara memelukku…

**

Betapa pentingnya menjaga hubungan dengan-Nya, hubungan dengan kalam-Nya, dan hubungan dengan sesama insan-Nya.
Menjaga memang sulit, tapi jauh lebih sulit jika Allah telah mengangkat keistiqomahan kita dalam menjaga.
Allahummarhamnaa bil Qur’an….

 

~Dua insan-Nya yang ada dalam barisan Halaqah Qur’an di Masjid Kampus Kerakyatan. (Juli dan Mawar)~

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin