Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis

Harmoni Kehidupan : Islam, Cinta, IPTEK, dan Indonesia

  • JS Menulis, Kirim Tulisan
  • 24 April 2019, 19.42
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Oleh : Muhammad Miftah Jauhar

Rumah tidak akan berdiri kokoh jika salah satu penyangga rumah tersebut rapuh. Peradaban Islam tidak akan lahir jika komponen-komponen yang menopangnya tidak sempurna, Bahkan laptop yang digunakan untuk menulis sedikit kisah ini pun tidak akan bisa menyelesaikan tugasnya jika kehilangan salah satu tombolnya. Jika merujuk kepada fenomena remaja, tentu kisah Dilan tidak akan sempurna jika tidak ada Milea. Begitulah Allah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini saling melengkapi, saling mendukung, dan saling berkontribusi dalam pelaksanaan kehidupan sesuai dengan perintahNya.

Harmoni selalu berada dalam sebuah keselarasan dari masing-masing komponen yang ada. Setiap keharmonisan yang tercipta, begitu banyak makna yang dapat di dapat, karena dari harmoni itulah masing-masing komponen menyingkap tabir yang jarang dapat dilihat. Analogi yang digunakan pada paragraf pertama merupakan analogi logis yang tentu kita dapat memahaminya. Namun sebelum kita berbicara rumah, laptop, bahkan sebuah peradaban, tentu kita harus berbicara dahulu mengenai pemain yang dapat menghasilkan produk-produk tersebut. Siapa kah itu? Tentu tidak lain dan tidak bukan adalah manusia itu sendiri, sebagai makhluk sempurna yang diciptakan oleh Allah, sebagai makhluk yang menerima tugas sebagai khalifah di bumi, bahkan buruknya, sebagai makhluk yang dengan tidak tahu dirinya, dapat menantang sang pencipta alam semesta.

Manusia diprediksi sebagai penyebab kepunahan massal berbagai organisme di dunia ini, setelah sebelum-sebelumnya, kepunahan massal organisme terjadi akibat berbagai fenomena alam seperti pergeseran benua, letusan Gunung Toba, atau akibat hujan meteor dahulu kala. Lantas apakah manusia dengan kapabilitas berpikir yang canggih kekurangan prinsip kehidupan yang bisa membuat mereka menunjukkan sebuah karya besar dari harmoni kehidupan? Tentu tidak. Prinsip dasar manusia senantiasa berkembang dari awal hingga masa ini. Yang ada justru semakin banyak dan kompleks prinsip tersebut dan saling bertubrukan satu dengan lainnya. Namun mari kita berpikir dan mulai dari hal-hal dasar apa saja yang mewarnai pribadi dari sesosok manusia ini.

Islam, salah satu agama resmi di dunia ini. Di dalam Islam, penciptaan manusia dijelaskan dari mana mereka berasal, dan yang paling utama, tujuan mereka hadir di muka bumi ini untuk apa. Dalam Surat Az-Zariyat ayat 56 dijelaskan bahwa manusia dan jin diciptakan oleh Allah dalam rangka beribadah kepadaNya. Makna ibadah memiliki 2 bentuk besar, yaitu ibadah yang diproyeksikan dalam bentuk hubungan manusia dengan Allah, dan ibadah yang diproyeksikan dalam bentuk hubungan sesama manusia. Dalam hubungan manusia dengan Allah, porsi ibadah yang bersifat individu/privasi lebih besar. Namun pada intinya dari sini kita memahami bahwa segala bentuk aktivitas kehidupan tidak akan lepas dari kedua bentuk ibadah tersebut, artinya adalah setiap langkah kehidupan kita akan senantiasa dipertanggung jawabkan nanti di sisi Allah. Oleh karena itu implikasi yang kita dapatkan adalah melakukan segala sesuatu dalam kehidupan kita sesuai dengan kacamata Islam. Karena dengan begitu, kita memiliki 2 keuntungan besar. Di satu sisi kehidupan kita akan berjalan lancar, di sisi lain kita akan mendapat balasan baik dari Allah di akhirat nanti, dengan balasan baik tertinggi adalah surga.

Cinta, kata terbaik yang diharapkan dari sepasang kekasih, namun sejatinya makna cinta tidak sesempit dunia lawan jenis saja. Adanya cinta berawal dari rasa kenal terhadap sesuatu, rasa bahagia terhadap sesuatu, atau bahkan karena rasa iba terhadap sesuatu. Cinta selalu menghadirkan suasana tenang dan nyaman dari segenap pihak yang ada di dalamnya. Rasa ini pula dapat mengubah suatu tuduhan sembarang menjadi perilaku yang lebih bijak karena lebih matang dalam mempertimbangkan. Dalam sebuah proses perubahan baik revolusi dan reformasi, adanya cinta merupakan salah satu hal yang paling penting karena dapat menyatukan segenap komponen yang berbeda sekalipun. Cinta merupakan sebuah kekuatan yang dahsyat yang bisa menggerakkan seluruh badan, bahkan saat hal ini menjadi terlalu besar, dapat menjadi musuh sengit yang berhadapan dengan logika/rasionalitas manusia.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan produk nyata dari hadirnya manusia di muka bumi ini. Menurut BJ Habibie, proses interaksi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan melahirkan IPTEK yang terintegrasi dengan alur kehidupan. Mereka yang menguasai ketiga landasan tersebut dengan sendirinya akan mampu lebih meningkatkan dan menyempurnakan nilai peradabannya. IPTEK sangat dipengaruhi oleh nilai yang dijunjung oleh manusia sebagai pihak yang melahirkan IPTEK tersebut. Oleh karena itu lah pondasi agama dan cinta menjadi sangat mempengaruhi perkembangan IPTEK. Karena pada prinsipnya kedua nilai tersebut berada pada ranah pembentukan pola pikir. Saat pola pikir seseorang telah matang dalam berlandaskan agama dan cinta, maka seluruh perilaku orang tersebut akan sesuai dengan kedua nilai tadi, yang mana perilaku manusai akan menghasilkan IPTEK.

Indonesia, bangsa yang memiliki identitas nasional berupa wilayah yang luas dari daratan dan lautan hingga beragamnya suku, budaya, dan agama. Dalam wawasan nusantara, Indonesia memiliki asta gatra yang menjadi basis pengenalan potensi Indonesia. Asta gatra tersebut dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu asta yang bersifat alami seperti kewilayahan atau potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan asta yang bersifat sosial, seperti ideologi, budaya, dan politik. Wawasan nusantara tersebut merupakan narasi besar dari bangsa ini, betapa penuh potensi yang dimiliki oleh Nusantara. Pada umumnya, pengenalan sesuatu dengan baik oleh seseorang, maka orang tesebut semakin memiliki kepahaman yang dalam dan memiliki rasa kepemilikan serta kepedulian yan tinggi akan objek yang dikenalnya. Oleh karena itu, tingkatan harmoni kehidupan tertinggi adalah saat kita menggapai sebuah makna menuju puncak manfaat. Puncak kebermanfaatan diri kita merupakan kontribusi besar terhadap bangsa, jika kita memandang sebagai seorang yang berjiwa nasionalis. Puncak dari pemaknaan agama, cinta, dan IPTEK menjadi sebuah aksi konkrit nyata bagi bangsa kita masing-masing. Tentunya aksi konkrit disini memiliki tujuan yang mulai, menjadi sebuah realisasi manusia sebagai khalifah di bumi, yaitu menciptakan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia di bumi dan tentunya peduli dengan lingkungan pula.

Oleh karena itu, manusia yang matang adalah manusia yang memiliki keseimbangan dari berbagai prinsip dasar yang menjadi penggerak setiap aktivitas kita, manusia yang dapat memandang dunia ini dengan menyeluruh. Pemaknaan terkait 4 poin yang menjadi judul utama tulisan ini menjadi sangat penting untuk membentuk generasi intelektual muslim yang tentu berkontribusi terhadap kemajuan bangsa, dan peradaban yang di motori oleh generasi Islam tentunya.

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada