Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis

Sisi Humanitas dari Pandemi COVID-19

  • JS Menulis, Kabar Terkini, Opini
  • 29 Maret 2020, 15.57
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Sebagaimana yang kita ketahui kasus pandemi COVID-19 telah menyentak warga dunia. Self Quarantiee (karantina mandiri), social distancing bahkan lockdown merupakan bentuk kebijakan masing-masing pemerintah dipakai untuk menyikapi laju penyebaran virus Corona. Sudah pasti kebijakan ini berdampak langsung terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Selama masa tanggap darurat, setiap orang harus mengisolasi diri di rumahnya. Area bisnis, industri, pendidikan, dan hiburan juga menerima dampak yang sama. Kegiatan-kegiatan publik diundur dan bahkan dibatalkan demi keselamatan jiwa. Bagi masyarakat modern, kebiasaan berdiam diri di rumah (rebahan) merupakan pekerjaan pemalas, kini menjadi upaya menyelamatkan dunia saat pandemi muncul. Kini orang tidak bekerja tentu berdampak terhadap kebutuhan logistik keluarga. Akibatnya tidak sedikit orang melakukan panic buying, mengkritik pemerintah tanpa solusi, dan tetap melakukan rutinitas walau harus terpapar virus Corona.

Namun, masih ada sisi humanitas dibalik itu semua. Salah satunya ialah share suffer (berbagi penderitaan). Dunia pasti sudah kenyang mendengar blokade Gaza, kekerasan terhadap etnis Uighur, bom bunuh diri Afganistan, dan masih banyak lainnya. Sebagian besar kasus tersebut di tujukan kepada umat Islam yang hidup tanpa pemimpin (khilafah). Aneka fitnah tersebut terus berlanjut dan tanpa berkesudahan. Namun, dunia seakan-akan menutup mata dan malah mementingkan urusan duniawi ketimbang urusan kemanusiaan. Namun, semuanya berubah karena virus Corona merajai dunia.

Secara tidak langsung, kita harus berterima kasih kepada virus Corona karena telah mengajarkan banyak hal. Namun, maksud ini bukan berarti mengapresiasi virus ini membunuh banyak orang. Kita dituntut untuk belajar peka dan empati kepada siapapun. Kita harus membantu tenaga medis, pemerintah, dan bahkan saudara muslim yang dirudung banyak fitnah. Dari sini sikap mawas diri kita tumbuh selama masa lockdown berlaku. Di sini lah ungkapan berlaku “Corona bertindak, pembelajaran mutlak dilakukan.”

Author: Abang Adek

Tags: #covid19 #lockdown #motivasi

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada