Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis

Hai Kawan! Aku datang!

  • JS Menulis
  • 23 April 2020, 13.04
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Oleh: Afifah Rosyida

Source: Pixabay_Ramadhan

Bulan yang penuh keberkahan telah datang menghampiri, mengetuk pintu-pintu yang semula sunyi. Satu bulan yang sangat dinanti bagi umat muslim. Suatu momen yang terjadi hanya satu tahun sekali. Ketika seluruh umat muslim serentak bersama melakukan puasa, terkecuali bagi mereka yang berhalangan sesuai syariat yang sudah Islam ajarkan. Bagaimana tidak terlihat begitu indah, setiap orang bersama-sama menahan lapar dan dahaga mulai dari terbitnya matahari hingga tenggelamnya di ufuk barat. Pemandangan yang khas tidak akan terlewat oleh mata kala sore hari, hiruk pikuk para pencari menu buka puasa. Berjajar para pedagang dengan tawaran takjil yang beragam, kumandang adzan maghrib sangatlah dinanti. Tak cukup sampai disitu, ibadah sholat tarawih dan tadarus bersama di surau tiap daerah terlihat begitu menyejukkan mata. Keseluruhan insan manusia saling berburu amalan—amalan kebaikan. Kesyahduan terasa semakin dalam ketika para umat muslim telah menyelesaikan kewajiban berpuasa di bulan ini, Idul Fitri. Bagian yang tidak akan pernah dilupa, takbir dikumandangkan lantang disetiap sudut pengeras suara entah itu dimasjid, jalan kampung, gedung, ataupun tanah lapang terbuka. Setelah itu, rangkaian kegiatan lebaran akan berjalan selama beberapa hari. Berkunjung dirumah sanak saudara, mengantri pembagian angpau dari para tetua, berebut makanan dimeja tamu, makan ketupat ditiap rumah tetangga sampai kenyang, bermain bunga api, membuat petasan dari bambu, dan masih banyak lagi. Bukankah itu sangat indah? Apakah kamu tidak merindukannya?

Bulan Ramadhan tidak hanya spesial dalam hal yang kasat oleh mata, dibalik semua itu Allah SWT. pun melimpahkan kebaikan yang tiada terkira. Pahala berlipat ganda, para syaithan dibelenggu di neraka, dan sejuta kebaikan lain yang tiada akan cukup disebut dalam kata.

Ditengah kondisi dunia yang sedang tidak baik, tentunya kita sebagai umat muslim harus yakin bahwa yang terjadi didunia bukan tanpa sebab dan tetap berada dibawah kendali sang Kuasa. Semua ini hanya perihal waktu. Bersabar, berusaha, dan melakukan perbaikan ibadah adalah tindakan yang saat ini bisa kita lakukan. Kembali kepada bulan Ramadhan, kesempatan yang baik belum tentu akan datang untuk yang kedua kalinya. Bersyukur jika saat ini kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara secara gratis, tapi bagaimana dengan hari esok? Seperti yang terdapat pada kutipan surah Ali Imran/3, ayat 185. Disana disebutkan “bahwa tia-tiap yang bernyawa akan merasakan mati”, ayat ini turun bukan untuk menakut nakuti manusia, akan tetapi sebagai pengingat bahwa dunia tak lain hanyalah sementara.

Sobat, mari bersama mengingat kembali betapa luar biasanya keberkahan yang ada di bulan Ramadhan, kesalahan dan kelalaian apa yang sudah kita lakukan diramadhan yang lalu. Waktu akan terus berputar hingga batas yang Dia tentukan. Begitu pula kehidupan ini, semua tidak akan luput dari apa yang sudah ditetapkan. Lakukan yang terbaik selama kita masih diberi kesempatan oleh sang Mahakuasa, mari bersama sejenak menutup mata dari kesibukan dunia. Hirup perlahan udara yang ada, dan rasakan betapa nikmatnya karunia yang Allah berikan dengan segala iman yang ada dalam diri kita. Ramadhan masih membuka pintu untuk kita, lantas tunggu apalagi? Perbaiki diri semaksimal mungkin di bulan suci Ramadhan tahun ini. Semangat mempersiapkan perbekalan dengan semakin menjadikan diri manusia yang bertaqwa. Jangan menunggu hingga sesal menghampiri.

Tags: #Ramadhan #Iman #Ngaji #Al-Quran #Tarawih #Tahajud #Berbuka #Puasa #Sahur

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada