Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Infografis

Kuchisabishii – When you’re not hungry but you eat because your mouth is lonely

  • Infografis, JS Menulis
  • 1 Juli 2021, 14.01
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Pernahkah kalian merasa ingin makan, padahal sebenarnya tidak lapar sama sekali? Bisa jadi karena tertarik suatu promom makanan, bisa juga hanya karena ingin mengunyah sesuatu. Yang seperti itu bisa disebut dengan kuchisabishii.

Selain mengancam kesehatan dompet kita, kebiasaan seperti itu juga bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh kita. Tubuh kita memerlukan makanan dengan kandungan gizi yang seimbang dalam jumlah yang cukup setiap harinya. Kebiasaan kuchisabishii membuat kita makin bermudah-mudahan dalam makan. Kita menjadi lebih sering makan tanpa ada kebutuhan dan kurang memperhatikan kandungan gizi dari makanan tersebut 🍢🥧🍔🥘🍨

Jika tidak hati-hati, kita bisa mengalami obesitas. Pada tahun 2014 saja, 1 dari 3 orang dewasa di Indonesia dalam keadaan overweight dan mengalami obesitas. Jumlah itu dapat meningkat seiring berjalannya waktu. Keadaan itu dapat menimbulkan penyakit berbahaya seperti jantung koroner, kolesterol, dan diabetes.

Islam sendiri menganjurkan kita untuk makan dan minum dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan. Salah satu yang menunjukan ajaran tersebut adalah firman Allah Ta’ala dalam surah Al-A’raf:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوٓا

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” (Al-A’raf: 31)

Maka, kita perlu berhati-hati dalam mengatur jumlah makanan yang masuk ke tubuh kita. Selain untuk menjaga kesehatan finansial dan tubuh kita, makan dengan tidak berlebihan juga merupakan bagian dari menjalankan perintah Allah Ta’ala. 

[ux_slider style=”shadow” slide_width=”360px” freescroll=”true” hide_nav=”true”]

[ux_image id=”5913″ link=”https://www.instagram.com/p/CQxm2TRMBkJ/?utm_source=ig_web_copy_link” target=”_blank”]

[ux_image id=”5931″ link=”https://www.instagram.com/p/CQxm2TRMBkJ/?utm_source=ig_web_copy_link” target=”_blank”]

[ux_image id=”5932″ link=”https://www.instagram.com/p/CQxm2TRMBkJ/?utm_source=ig_web_copy_link” target=”_blank”]

[ux_image id=”5935″ link=”https://www.instagram.com/p/CQxm2TRMBkJ/?utm_source=ig_web_copy_link” target=”_blank”]

[ux_image id=”5936″ link=”https://www.instagram.com/p/CQxm2TRMBkJ/?utm_source=ig_web_copy_link” target=”_blank”]

[ux_image id=”5934″ link=”https://www.instagram.com/p/CQxm2TRMBkJ/?utm_source=ig_web_copy_link” target=”_blank”]

[ux_image id=”5911″ link=”https://www.instagram.com/p/CQxm2TRMBkJ/?utm_source=ig_web_copy_link” target=”_blank”]

[/ux_slider]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada