Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Kabar Terkini
  • Kabar JS

Perjalanan Wahyudi Nasution: Dari Sanggar Shalahuddin ke Peduli Petani

  • Kabar JS, Kabar Terkini
  • 16 Juni 2023, 13.58
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Yogyakarta – Jama’ah Shalahuddin berkunjung salah satu alumninya, Wahyudi Nasution, S.S. pada Minggu (11/06). Beliau merupakan pendiri Sanggar Shalahuddin, kelompok seni di bawah Jama’ah Shalahuddin yang sempat menghiasi berita-berita nasional melalui pementasan-pementasan yang dihadirkan.

Sanggar Shalahuddin, yang dipimpin oleh Pak Wahyudi, telah sukses menghadirkan banyak pementasan teater dan pertunjukan seni lainnya di seluruh Indonesia. Salah satu karya legendarisnya adalah pementasan teater bertajuk “Lautan Jilbab”, sebuah teater dakwah yang telah mengukir sejarah penting dalam perjalanan Jama’ah Shalahuddin. Beliau telah berdedikasi selama sembilan tahun untuk mengembangkan kesenian di Universitas Gadjah Mada melalui Jama’ah Shalahuddin.

Saat ini, Pak Wahyudi telah menjalankan bisnis di bidang konveksi dan juga menjabat sebagai Badan Permusyawaratan Desa (BPD).  Tidak hanya aktif di bidang seni dan politik, Pak Wahyudi juga sangat peduli terhadap kesejahteraan petani di Indonesia. Ia bergabung dengan PP Muhammadiyah dan Mas Arya, putra dari Prof. Ali Agus, untuk menginisiasi pendirian Perserikatan Petani Muhammadiyah. Organisasi ini bertujuan untuk melindungi para petani dari permainan politik pasar dan tengkulak yang sering kali memberikan harga jual rendah kepada petani.

Dalam kunjungan kemarin, Jama’ah Shalahuddin berharap warisan dan semangat beliau akan terus membara di hati generasi muda dan menjadi inspirasi bagi mereka dalam menciptakan perubahan positif di masyarakat. Kunjungan ini juga menjadi momen berharga bagi Jama’ah Shalahuddin dan alumni Sanggar Shalahuddin untuk mengenang dan memperkuat ikatan persaudaraan, serta membangun kerjasama yang lebih erat dalam mengembangkan seni dan budaya Indonesia.

Dengan kesuksesan dan dedikasi yang Wahyudi Nasution persembahkan selama ini, tidak diragukan lagi bahwa perjalanan panjang Jama’ah Shalahuddin dan Sanggar Shalahuddin akan terus menginspirasi dan memberi dampak positif dalam dunia seni pertunjukan serta perjuangan kemanusiaan di Indonesia.

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada