Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Feri Amsari: Politik Gentong Babi Telah Merusak Demokrasi

  • Ramadhan di Kampus
  • 31 Maret 2024, 16.43
  • Oleh :

Jamaah Maskam pada RPL kemarin, Sabtu (30/03), diajak untuk merenungkan reorientasi prioritas kebijakan nasional setelah melewati pemilu 2024. Tidak jarang melihat pembicara pada mimbar masjid membawa topik berbau politik yang begitu hangat di negara ini, tetapi Feri Amsari S.H., M.H., LL.H. tidak terintimidasi dengan anomali ini. Beliau ingin menumbuhkan kesadaran jemaah Maskam untuk menghadiri pembicaraan politik secara aktif untuk menyongsong suksesi kepemimpinan pasca pemilu 2024. 

 

Beliau memulai dakwahnya dengan sebuah filosofi dari Minangkabau yang sering disebut rapat tikus. Ketika sebuah rapat terjadi di antara para tikus untuk membicarakan mengenai cara untuk menghentikan brutalitas rezim kucing. Para tikus setuju bahwa untuk mengetahui brutalitas rezim kucing yang akan datang, mereka harus tahu secara mendetail mengenai setiap langkah para kucing. Setelah beberapa lama kemudian, sebuah ide cemerlang muncul untuk mengalungi tiap kucing dengan sebuah lonceng. Dengan itu, setiap gerak-gerik yang dilakukan para kucing akan terdengar dengan suara lonceng tersebut. Pertanyaan selanjutnya pun muncul: siapa yang akan memasang lonceng pada leher para kucing? Karena tidak ada tikus yang berani mengacungkan tangan, rapat langsung dibubarkan dan masalah mereka tidak terselesaikan. 

 

Rapat tikus ini mengingatkan para penggiat dunia politik mengenai DPR negara ini. Pasca pemilu 2024, para politikus setuju untuk mengajukan hak angket tetapi tidak ada satupun yang berani untuk mengajukannya. Agama berkata bahwa untuk meraih kebenaran maka dibutuhkan keberanian. Jika tidak bisa dilakukan dengan tangan, maka dengan mulut. Jika tidak bisa dengan mulut, maka dengan hati. Para anggota DPR, sayangnya, hanya bisa melakukannya dengan tingkatan yang terlemah, yaitu dengan hati. 

 

Suasana Ramadhan ini seperti suasana perjuangan, karena seorang muslim tidak hanya menikmati ibadah mereka secara pribadi tetapi untuk juga berbagi ibadah tersebut kepada orang lain. Itu sebabnya ada kewajiban untuk membayar zakat, supaya kenikmatan ibadah seorang muslim dapat dibagi-bagi kenikmatannya. Karena pada akhirnya, kebahagiaan orang lain akan terimbas kepada diri sendiri. Sebagaimana yang terjadi pada seluruh masyarakat Indonesia yang memantau pemilu 2024 kemarin. Jika dipikir-pikir, mungkin ada sebagian dari masyarakat yang tidak akan merasakan efek banyak dengan siapapun yang terpilih menjadi pemimpin Indonesia selanjutnya. Tetapi ada juga sebagian besar masyarakat yang akan merasakan seluruh efeknya jika pemimpin yang terpilih adalah pilihan yang salah. 

 

Jika dilihat dari gambaran besarnya, pemilu 2024 bisa saja dibilang sudah direncanakan. Mengapa pemilu 2024 dilaksanakan di waktu yang berdekatan dengan bulan Ramadhan 2024? Karena para pemainnya tahu bahwa begitu konflik muncul, semua orang dengan mudah melupakan semuanya menjelang menjalankan ibada puasa dan mudik. 

 

Kesadaran dalam diri harus dibangunkan, terutama bagi umat Islam yang tengah menjalankan ibada puasa. Seperti cerita perang badar, ketika kemenangan diraih Islam, Rasulullah memperingatkan para sahabatnya bahwa masih ada perang yang lebih besar yang akan datang yaitu perang melawan nafsu diri sendiri. Problematika yang sama sedang terjadi di demokrasi Indonesia, nafsu yang mengelabui isi hati yang murni dan kekuasaan absolut yang akan selalu menggoda para pemegang kekuasaan tersebut. 

 

Feri Amsari menjelaskan bahwa saat ini, Indonesia membutuhkan pengawasan ketat dari publik. Para pemegang kuasa hukum harus diawasi, terutama pada aksi-aksi mereka. Sebagai contoh, problematika bansos. Tidak ada larangan untuk membagi-bagikan bansos, yang dipermasalahkan adalah penggunaannya untuk mempengaruhi pilihan publik. Ini yang bisa disebut sebagai politik gentong babi, dimana sebuah kebaikan yang sangat kecil digunakan sebagai alat persuasi publik. 

 

Di akhir kajian beliau menjelaskan, kekalahan Ramadhan datang jika seseorang tidak merasa penting untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi Indonesia saat ini. Sudah sepatutnya perbaikan dilakukan terlebih dahulu pada diri sendiri. Tetapi jika seseorang enggan untuk memperbaiki keadaan sekitarnya, maka ia telah mengabaikan agamanya sendiri. (Raissa Serafina/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

 

[ux_text font_size=”1.55″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=XRAMkwmK_hc&list=PLVI7o-nN85oVFh1f8aKVFfqYc-BV9J86S&index=20″ height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada