Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Mukhtasar Syamsuddin Sebut Iman dan Pemikiran Bukan hal yang Dikotomis

  • Ramadhan di Kampus
  • 29 Maret 2024, 14.00
  • Oleh :

Guru besar Fakultas Filsafat UGM, Prof Drs Mukhtasar Syamsuddin, M. Hum., Ph. D. of Arts mengisi ceramah pada Ramadhan Public Lecture di Masjid Kampus UGM pada (28/3)

 

Mukhtasar mengajak para jamaah untuk bersyukur atas nikmat yang telah Allah Swt. berikan. Beliau menjelaskan bahwa Q.S. Al-Baqarah ayat 183 memanggil orang-orang yang beriman untuk melaksanakan perintah puasa. Pada akhir ayat ini, dijelaskan tujuan berpuasa, yaitu agar menjadi orang yang bertaqwa. Maka dari itu, hendaknya kita menjalankan perintah Allah Swt. dengan menggunakan ilmu sebagai dasarnya, seperti perintah puasa yang manfaatnya telah terbukti secara ilmiah bagi kesehatan tubuh manusia.

 

Iman dan pemikiran bukanlah hal yang dikotomis. Kualitas iman seseorang selaras dengan kemampuan intelektualnya dalam memahami ayat-ayat Allah. Hati (kepercayaan) dan akal juga tidak dapat dipisahkan, keduanya bersatu untuk menguatkan keimanan yang dimiliki oleh manusia.

 

Dalam berislam, kita tidak boleh hanya melihat ritualitasnya saja tetapi juga melihat dimensi sosialnya, contohnya adalah pada pelaksanaan ibadah tarawih. Kita tidak hanya beribadah kepada Allah tetapi juga berinteraksi dengan orang lain untuk mewujudkan solidaritas. Solidaritas telah dijelaskan dalam QS Ali Imran ayat 2, bahwa manusia diperintahkan untuk saling menolong dalam hal kebaikan dan dilarang bekerja sama dalam kejahatan Jadi, harapan untuk mencapai ketaqwaan dapat kita raih contohnya dalam melaksanakan puasa, kita harus memperhatikan hukum-hukumnya baik yang bersifat qauliyah maupun empiris, contohnya penentuan waktu puasa dengan rukyatul hilal maupun hisab Hal ini menunjukkan bahwa terdapat keterpaduan antara akal dan iman.

 

Beliau menjelaskan bahwa Prof Kuntowijoyo telah memberikan contoh terkait interpretasi untuk memahami ayat-ayat Allah menggunakan dimensi historis, empiris dan mewujudkannya dalam bentuk aksi dalam bukunya “Paradigma Aksi pada Interpretasi Menuju Aksi.” 

 

Setiap ayat Al-Qur’an diturunkan dengan asbabun nuzulnya, begitu pula  dalam berislam yang harus melaksanakan sesuai dengan konteksnya. Contohnya, Islam yang dibangun atas pluralisme merupakan interpretasi Islam dari sejarah Indonesia, yaitu keberagaman latar belakang seperti suku bangsa, budaya, dan agama. Kedudukan manusia pada dasarnya sama, yang membedakannya adalah tingkat ketakwaannya. Perwujudan dari ketakwaan dalam pluralisme adalah saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada.

 

Dalam Al-Qur’an, terdapat ayat yang menjelaskan tentang perintah pengambilan sebagian harta yang telah mencapai ukuran tertentu yang kemudian diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan untuk mensucikan jiwa. Ayat ini dapat diinterpretasikan sebagai perintah membayar zakat dan pembayaran pajak. Dalam konteks pembayaran zakat, Kuntowijoyo melarang kita menggunakan pendekatan normatif untuk mewujudkan aksi dalam beragama, tetapi menggunakan pendekatan empiris dengan melihat realita sosial. Hal ini menunjukkan bahwa adanya integrasi antara norma dan aksi dalam mewujudkan Islam yang sukses.

 

Paradigma baru dalam menjalankan ajaran Islam dapat ditemukan dari pendekatan secara historis, ketika ajaran Islam tidak hanya dilihat sebagai ikatan transendental tetapi juga diinterpretasikan berdasarkan fakta sosial empiris, sehingga dapat diwujudkan menjadi aksi dalam kehidupan sehari-hari. 

 

Beliau menambahkan bahwa ilmu yang kita miliki sangatlah sedikit, bagaikan setetes air yang dituangkan ke dalam lautan yang tidak bisa mengubah rasa asin air laut menjadi tawar. Beliau juga berpesan agar kita tidak mendewakan pemikiran dan intelektualitas, karena ilmu yang kita peroleh tidak hanya didapatkan melalui usaha individu, tetapi juga karena adanya kemudahan yang diberikan oleh Allah Swt, pencipta akal dan pikiran manusia. Jadi, kita harus mengintegrasikan iman dan intelektualitas serta menjadikannya paradigma dalam menjalani kehidupan sehari-hari maupun kehidupan berbangsa dalam pluralitas, sehingga pluralitas menjadi rahmat bagi kita semua. (Sayyidah Khalimatussakdiah/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

 

[ux_text font_size=”1.5″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=2aOa4TmfOhY&list=PLVI7o-nN85oVFh1f8aKVFfqYc-BV9J86S&index=18″ height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada