Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Ustaz Syatori Menyebutkan Hati yang Kuat Akan Menjadikan Susah dan Senang sebagai Kebaikan

  • Ramadhan di Kampus
  • 27 Maret 2024, 14.22
  • Oleh :

Mimbar subuh yang berlangsung pada hari Rabu, (27/03) atau 17 Ramadhan 1445 H yang bertempat di Masjid Kampus UGM menghadirkan Ustadz Syatori Abdurrauf sebagai pembicara dengan membawa tajuk “Metode Penguatan Hati sebagai Upaya Pengembangan Kualitas Manusia.” Beliau memaparkan bahwa bagi orang yg memiliki hati yang kuat akan menjadikan susah dan senang sebagai kebaikan, kebaikan yang dirahmati Allah.

 

Hati yang kuat merupakan hati yang selalu melihat, menyimpulkan, menerima dan merasakan  apapun yang terjadi dalam hidup ini sebagai rahmat Allah. Rahmat Allah berupa kasih sayang yang mampu menjadikan hal apapun menjadi kebaikan. Hal ini dicontohkan ketika sebagian orang yang hatinya kuat akan menganggap sehat dan sakit merupakan rahmat Allah, karena dengan sehat kita bisa menolong orang, beribadah, dan belajar. Begitupun dengan sakit, karena kita memiliki kesempatan untuk sabar, ikhlas, dan ridho terhadap apa yang allah berikan.

 

Dalam Q.S. al – A’raf: 156 dijelaskan bahwa “rahmat-Ku meliputi segala sesuatu”. Agar kita memiliki hati yang kuat, maka kita harus menguatkan hati dengan amal yang dilakukan karena taat kepada allah. Sebaliknya, jika amal yang dilakukan bukan karena Allah, justru bisa melemahkan hati. Rasulullah saw. mengatakan bahwa, “Orang yang kuat, ialah orang yang mampu menahan nafsunya”. Manusia dapat dikatakan memiliki hati yang kuat, apabila mampu menahan amarahnya, menahan emosinya, karena dapat mengendalikan hawa nafsu ketika sedang dilanda rasa amarah. 

 

Taat tidak bisa secara otomatis menguatkan hati. Banyak orang yang terlihat taat, rajin ibadahnya, gemar berbuat kebaikan, tetapi hatinya tidak taat kepada Allah. Kemudian bagaimana agar hati kita juga ikut taat terhadap Allah? Taat yang dapat menguatkan hati adalah taat yaang dibingkai dalam segitiga rahmat. 

 

Segitiga Rahmat meliputi; Pertama, melakukan ketaatan semata mata karena rahmat Allah Swt. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Quran surah An-nisa, ayat 83 “Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah engkau mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)”. Dalam ayat tersebut sangat jelas, bahwa ketika kita melakukan suatu kebaikan harus mengakui bahwa kebaikan tersebut karena rahmat dari allah.

 

Yang kedua, Hanya mengharapkan rahmat Allah ketika kita melakukan suatu kebaikan. Harapan yang tidak akan membuat kita kecewa adalah harapan kepada Allah, karena apapun hasilnya, kita sudah memasrahkannya kepada Allah. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah” (Q.S Al-Baqarah: 218)

 

Yang ketiga, Bahagia di dalam amal karena rahmat Allah tanpa melihat hasil dari amal. Pujian orang tidak menambah kebahagian kita, dan cacian orang tidak mengurangi kebahagiaan kita, karena yang membuat kita bahagia adalah beramal dengan Allah sebagai tujuannya. “Tanpa segitiga rahmat, sebanyak apapun amal taat, tidak akan membuat hati kita menjadi kuat” tutup Ustadz Syatori. (Dzurrotunnisa/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada