Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Uncategorized

Konsep Otomatis

  • Uncategorized
  • 3 November 2024, 08.41
  • Oleh : lennyaureliaamilia

Ringkasan Kajian Ahad Pagi Ahad, 13 Oktober 2024

Al-Baqarah ayat 261-264: Pahala Berinfak di Jalan Allah dan Etikanya Part 2

Pembicara : Ustadz Abu Abdirrahman, S. Pd. I., M. Pd. I. Notulis : Anisa Dwi

 

Al-Baqarah 264

 

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًاۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْاۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah membatalkan pahala dari sedekah-sedekah kalian dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti yg penerimanya, itu sebagaimana sama dengan berinfak yg ingin dipandang oleh orang, sebagaimana sedekahnya orang-orang yang tidak beriman di hari akhir, hal itu sama seperti batu yang halus yang di permukaannya ada debunya, maka akan tertimpa hujan yg deras, maka tidak tersisa debu itu, mereka tidak mampu mengambil manfaat sedikit pun, dan amal yg mereka dapatkan, dan Allah SWT tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

 

Sedekah yg baik akan melahirkan kebaikan yang terus menerus. Sementara itu, sedekah yang dilakukan dengan cara tidak benar, seperti sering mengungkit-ungkit dan sering menyakiti (terlihat terpaksa, memberi dgn melempar) cenderung akan membatalkan pahala. Sedekah merupakan sebuah hujjah atau bukti dari orang yg menginfakkan hartanya sebagai orang yg beriman kepada Allah. Orang yang mampu bersedekah adalah orang yg mampu pula untuk mengalahkan hawa nafsunya, seperti nafsu dalam mengumpulkan harta (menyimpan). Suatu harta yang diinfakkan di jalan Allah SWT, akan menghasilkan amal yg lebih besar. Bersedekah akan memberikan kenikmatan yang lebih di dalama hidup. Ketika seseorang berbuat kebajikan, maka kebajikan tersebut akan berbalik kepada diri sendiri. Begitupun sebaliknya.

 

Jika kita bergeser mengontemplasikan kembali mengapa ibadah sholat terdapat rukun-rukun di dalamnya, kita tidak mengetahui apa yang dimaksud Allah mengenai aturan tersebut. Namun, dalam hal ini keimanan kita dikondisikan dalam dua posisi persimpangan, yakni untuk patuh atau tidak. Hal ini dikarenakan sebagai seorang muslim tidak dituntut untuk mengetahui akan hal tersebut, melainkan kita dituntut untuk ridha atau tidak ketika melaksanakannya. Muslim dituntut untuk ikhlas sesuai dengan tuntunan agama. Sedekah paling afdhol adalah dilakukan ketika dalam keadaan susah dan lebih bersemangat melakukannya ketika dalam kondisi yang berkecukupan. Seorang muslim harus meyakini bahwa orang-orang yang diberi sedekah merupakan orang-orang yang mendatangkan kebaikan kepada kita. Hal ini merupakan cara pandang qur’ani yang sesuai dengan syari’at islam.

 

Harta yang diinfakkan tidak boleh diungkit karena itu termasuk golongan orang yang bahlil. Orang-orang yang kerap kali mengungkit bersedekah adalah orang yg merasa paling berjasa. Padahal, hal yg paling luar biasa dari praktik  bersedekah atau amal apapun adalah ketika praktik tersebut dirahasiakan (orang yg bersedekah dengan tangan kanan, tangan kirinya tidak boleh tau). Oleh karena itu “jangan seperti orang-orang yg ria’ (ingin dipandang dan didengar oleh orang lain).

 

Tanya Jawab:

 

Tanya: “Apabila seseorang bersedekah yang awal itu ria’ dan akhirnya menjadi orang yang ikhlas. Apakah dilakukan dulu bisa diterima oleh Allah SWT atau tidak?”

 

Jawab: “Munculnya ria’ dalam beribadah akan membatalkan ibadah jika dilakukan dalam satu kesatuan. Namun, sedekah merupakan ibadah yang bukan satu kesatuan. Ketika niat awal ingin bersedekah dengan uang Rp.50.000. Kemudian justru dalam praktiknya bersedekah Rp.100.000. Maka kedua nilai tersebut memiliki derajat yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi praktik yang dapat dikatakan lebih baik, maka keburukan yang lalu tersebut diganti dengan kebaikan yang diberikan Allah SWT.

 

Tanya: “Bagaimana dengan seorang istri yg lebih besar dari seorang suami, bahkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Jawab : uang istri termasuk sedekah untuk keluarganya, yg memiliki pahala yg dilipatgandakan oleh Allah SWT. Tetap disarankan untuk meminta izin kepada suami walaupun itu uang istri sendiri. Bagaimana hukumnya, perempuan yg merantau. Apakah hukumnya haram atau tidak?”

 

Jawab: “Dalam mahzab hambali, dilarangnya perempuan keluar tanpa mahram. Namun mahzab itu biasanya ada di Arab Saudi. Saat ini, semakin sudah adanya kelonggaran. Sementara itu, dalam  Mahzab syafi’i, mahram lebih kembali ke sebab hukumnya, karena mahram bagi perempuan adalah orang yg dinilai menjaga keamanan dari pihak perempuan.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin