Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Kabar Terkini
  • Kabar JS

MENGAMBIL HIKMAH DARI PAK RIYANTO

  • Kabar JS, Kabar Terkini, Kabar UGM
  • 2 Mei 2015, 07.39
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

MENGAMBIL HIKMAH DARI PAK RIYANTO

Oleh Defin Merlinesia

 

“Tiap-tiap yang bernyawa pasti merasakan mati.” (QS. Al Imran : 185)

Sebuah kabar duka tiba seiring dengan teriknya matahari pagi.

Rabu, 15 April 2015 pada sekitar pukul 09.35, Departemen Sosial Kemasyarakatan UKM Jama’ah Shalahuddin Universitas Gadjah Mada mendapatkan kabar dari Pak Bari–pegawai Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi DIY-mengenai meninggalnya Pak Riyanto. Pak Riyanto, pemulung yang berhenti bekerja karena mengalami rendahnya Hb (Hemoglobin) sehingga menggelandang di emperan PKKH UGM. Pak Riyanto pertama kali dibawa ke Camp Assessment pada 30 Maret lalu. Kemudian pada tanggal 5 April lalu, pak Riyanto dijenguk oleh rombongan Jama’ah Shalahuddin, BEM KM UGM, dan BEM FTP di Camp Assessment.

Camp Assessment, menjadi tempat terakhir Pak Riyanto menjalani hidupnya karena beliau tidak mempunyai rumah dan saudara yang memperdulikannya. Dinas sosial Sleman pun sudah berusaha mencari saudara beliau, sampai menghubungi dinas sosial Surakarta, tetapi hasilnya nihil. Saudara Pak Riyanto tidak ada yang bisa ditemukan, bahkan salah satu anaknya sudah merantau dan tinggal di Surabaya sebagai TNI dan tidak pernah ada kabar. Bahkan hingga Pak Riyanto meninggal, mungkin anaknya tidak ada yang mengetahui kabar duka ini.

Perwakilan dari Jama’ah Shalahuddin (JS) tiba di makam Suralaya-disebut juga Hafara-sekitar pukul 11.30 bersama ambulan yang membawa jenazah Pak Riyanto. Terlihat wajah beliau pucat pasi ketika kain kafannya dibuka. Tubuhnya kurus tak berdaya, terbungkus kulitnya yang mulai keriput. Pemakaman berjalan lancar, diakhiri dengan doa bersama pihak Dinsos dan perwakilan JS. Kami hanya bisa mendoakan… ”Semoga setiap keringat yang dikeluarkan Almarhum selama berusaha mengais rezeki juga selama sakitnya dibalas dengan pengampunan dosa. Aamiin”.

Kronologis

Pendamping almarhum di Camp Assessment menceritakan kronologi meninggalnya almarhum. Pada pagi hari sekitar jam 09.00 WIB beliau meninggal. Beliau ditemukan sudah tidak bernyawa saat akan sarapan. Saat dicek suhu tubuhnya masih hangat karena baru saja beliau menghembuskan nafas terakhir.

Sebelumnya setiap makan, beliau tidak pernah menghabiskan makanannya. Beliau hanya makan sedikit sekali. Suatu saat beliau menginginkan makan bubur dan permintaan itu dipenuhi. Namun, sama saja, hanya sedikit yang beliau makan. Hal ini menjadi pemicu Hb-nya turun sehingga membahayakan nyawanya.

Selama di mobil dan pemakaman, pendamping Pak Riyanto menceritakan hasil asesmen. Pendampingnya memutuskan untuk memanggil psikolog. Pak Riyanto dengan tatapan matanya yang kosong mau menceritakan masalahnya kepada psikolog. Beliau tak punya harapan lagi untuk hidup. Beliau tidak mempunyai plan-plan ke depan dan mengatakan bahwa hanya ingin sehat dulu.

Sejak 30 Maret Pak Riyanto mulai masuk di Camp Assessment sore harinya telah masuk rumah sakit untuk mengobati Hb-nya yang rendah selama 3 hari, selang seminggu didatangkan psikolog. Hal ini diperlukan untuk mengetahui masalah yang dialami Pak Riyanto sampai bisa menggelandang. Ternyata kakek dari 3 cucu ini mengalami penyesalan yang begitu mendalam. Beliau sangat menyesali perceraian dengan istrinya karena beliau menceraikan saat dalam keadaan marah. Kemudian beliau hanya bekerja serabutan dan sampai ikut rombongan transmigrasi ke Kalimantan. Saat di Kalimantan rombongan tersebut memutuskan untuk kembali ke daerahnya karena takut adanya perang yang sedang berkecamuk.

Akhirnya beliau memutuskan untuk mengais rezeki di DIY. Kalau untuk pulang ke Surakarta, beliau sudah tidak memiliki rumah, dan saudaranya tidak ada yang memperdulikan. Beliau memanfaatkan KTP-nya untuk bisa menyewa becak. Hingga suatu saat beliau kemalingan tas yang berisi dua barang berharganya yaitu KTP dan uang sebesar Rp50.000.

Kejadian ini membuat beliau semakin kesulitan. Beliau akhirnya menjadi pemulung/tukang rosok pada saat harga rosok sedang anjlok. Beliau tidak bisa menyukupi kebutuhannya. Ditambah lagi sakitnya membuat dia lemah dan hanya bisa berbaring di emperan PKKH UGM.

Ketika sudah tua, beliau baru menyesali segalanya. Beliau menyesali masa mudanya tidak dimanfaatkan dengan baik. Jika dia tidak menceraikan istrinya maka saat seperti ini dia masih ada yang merawat, tinggal dalam sebuah rumah bersama keluarga, dan setidaknya ada keluarga yang memakamkan jenazahnya saat beliau sudah dipanggil sang Pencipta. Sebenarnya beliau mempunyai kakak dan adik berjumlah empat orang, tetapi tidak ada satu pun yang peduli bahkan sudah hilang kontak.

 

Pelajaran bagi yang masih hidup

Kondisi psikis yang buruk sangat mempengaruhi kesehatan. Pak Riyanto tidak mempunyai nafsu makan dan harapan hidup karena penyesalannya yang begitu mendalam. Kita sebagai manusia yang masih bisa mendapatkan nikmat sehat psikis dan sehat fisik harusnya banyak mensyukuri nikmat, bukan malah kufur nikmat. Pelajaran bagi kita bahwa manfaatkan masa muda sebelum masa tua, sehat sebelum sakit, dan hidup sebelum mati. Seperti disampaikan dalam sebuah hadist, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim)

Dengan rahmat dan pertolongan Allah, tergeraklah Jama’ah Shalahuddin untuk menolong Pak Riyanto. Jika saat itu Pak Riyanto tidak segera dilaporkan ke Dinsos dan mendapatkan penanganan di rumah sakit, mungkin beliau bisa meninggal di emperan PKKH UGM dan tidak ada yang memakamkan dengan layak. Kinerja Dinsos Sleman termasuk tim yang berada di Camp Assessment sangat baik. Penanganan gepeng (gelandangan, pemulung, dan pengemis) seperti Pak Riyanto sangat baik, walaupun akhirnya beliau dipanggil oleh Yang Kuasa.

 

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin