Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Adiwijaya: Perubahan Itu Tergantung pada Mindset

  • Ramadhan di Kampus
  • 24 Maret 2024, 14.51
  • Oleh :

Pada hari ke-13 Ramadan, tepatnya Sabtu, 23 Maret 2024, Masjid Kampus UGM mendatangkan Prof. Dr. Adiwijaya, S. Si., M.Si., selaku Rektor Telkom University sebagai pembicara Samudra Ramadhan di Kampus 1445H. Tema yang diangkat kali ini adalah “Evolusi Teknologi Komunikasi Seluler dalam Perkembangan Pendidikan.” 

 

Prof. Adiwijaya membuka diskusi dengan menjabarkan mengenai evolusi teknologi tidak pernah bersifat segera berubah. Sering kali, perubahan tersebut terjadi di balik layar, di mana kita mungkin tidak merasakannya secara langsung. Namun, satu hal yang pasti, ia akan tetap berubah dan akan terus berubah menyesuaikan kebutuhan manusia. Salah satunya ialah teknologi. Teknologi selalu hadir dalam genggaman kita dan kita bawa kemana pun itu. Di tengah maraknya perkembangan teknologi inilah, mahasiswa dituntut untuk tetap kritis dan bijak dalam menyikapi perkembangan tersebut.

 

Rektor Universitas Telkom itu juga menekankan pentingnya beradaptasi tanpa larut dalam arus teknologi, tetapi tetap memiliki pedoman yang jelas, yaitu Alquran dan sunnah. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri. Mengingatkan kita akan pentingnya ikhtiar dan iman dalam setiap langkah yang diambil karena semua orang pasti memiliki mimpi.

 

Indonesia memiliki mimpi besar untuk menjadi negara maju dengan ekonomi yang kuat. Namun, tantangannya juga besar, terutama terkait dengan indeks pembangunan manusia yang masih rendah dan indeks inovasi global yang masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Di sinilah peran penting anak muda yang harus siap menghadapi revolusi industri, terutama di era digital ini.

 

Dalam konteks evolusi teknologi seluler, Prof. Adiwijaya menggarisbawahi bahwa perkembangannya dari 1G hingga 4G lebih menitikberatkan pada komunikasi antarmanusia. Namun, dengan kehadiran 5G, komunikasi telah berkembang lebih jauh, bahkan sampai pada titik di mana kita dapat berkomunikasi tidak hanya dengan manusia, tetapi juga dengan teknologi itu sendiri, atau juga dengan AI (Artificial Inteligent) atau kecerdasan buatan. Menghadapi semua itu, beradaptasi merupakan kunci keamanan di tengah evolusi teknologi. “Selama kita beradaptasi, maka kita akan aman,” ujarnya.

 

Prof. Adiwijaya juga sempat menayangkan sebuah video yang dapat kita ambil Pelajaran berharga bahwa masa depan tidak menunggu, melainkan kita yang menciptakannya. Semua ini didasarkan pada kebutuhan manusia, dan kegagalan untuk beradaptasi adalah kegagalan bagi kita. 

 

Kemudian ia juga menjelaskan perbedaan antara digitisasi, digitalisasi, dan transformasi digital. Digitasi merupakan kegiatan mengubah semua file menjadi bentuk digital. Digitalisasi hampir sama seperti digitisasi, hanya saja usahanya juga dilakukan secara digital, sedangkan untuk transformasi digital merupakan pembangunan sebuah kultur digital.

 

Oleh karena itu, teknologi juga memiliki dampak tersendiri bagi manusia, yakni kemungkinan menjadi tak terbatas, berdampak pada ekonomi, adanya pabrik data, adanya AI, serta banyak solusi berbasis AI. Untuk menanggulangi hal tersebut supaya berakhir ke arah yang lebih baik, Prof. Adiwijaya memberikan beberapa saran. Saran pertama adalah harus ada keseimbangan ekonomi, kemudian sebagai anak muda harus bisa berinovasi, dan yang ketiga adalah diadakannya pendidikan mengenai etika dan regulasi digital.

 

Pentingnya pendidikan tidak hanya sebatas pengetahuan teknologi, tetapi juga pembentukan karakter dan sikap yang kritis, inovatif, serta patuh terhadap regulasi. Sebagai penutup, Prof. Adiwijaya menyampaikan pelajaran dari Lukman kepada anaknya, yang menjadi pedoman bagi kita dalam menjalani kehidupan yang berdampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. 

 

Pelajaran tersebut terdapat di QS. Luqman ayat 13-19 dengan isi sebagai berikut:

  1. Jangan mempersekutukan Allah;
  2. Berbuat baik kepada orang tua;
  3. Sadar bahwa manusia berada dalam pengawasan Allah;
  4. Mendirikan salat;
  5. Berbuatlah kebaikan;
  6. Jauhilah kemungkaran;
  7. Sabar menghadapi cobaan dan ujian;
  8. Jangan sombong tetap rendah hati; dan
  9. Lembutkan suara.

(Hanung Maura/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

 

[ux_text font_size=”1.5″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=3QF5yrievXM&list=PLZabby1QT-cdBaI2pPGNVEtt3MmMZX4zl&index=9″ height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada