Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Nasaruddin Umar: Islam Bukan Agama Radikal

  • Ramadhan di Kampus
  • 6 April 2024, 14.16
  • Oleh :

Samudra (5/4) pada agenda kegiatan RDK 1445 H sore ini dibersamai oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., beliau ini merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Tema yang disampaikan pada sore ini adalah mengenai “Peran Moderasi Beragama dalam Membangun Kehormatan Sosial dan Pembangunan Nasional”. Beliau mengatakan bahwa “Moderasi bukanlah tujuan melainkan keharusan/diperlukan, bukan sesuatu yang dilakukan secara terpaksa karena Indonesia merupakan negara dengan banyak keberagaman agama, suku dan budaya”. Moderasi Islam di Indonesia bukan keterpaksaan untuk mereduksi ajaran agama, seperti memaknai dan mengamalkan ajaran Islam yang terlalu ketat. Singkatnya, moderasi adalah berislam dalam titik tengah dan dipraktikkan untuk menyeimbangkan keanekaragaman. Nasaruddin Umar juga menegaskan bahwa Islam itu sendiri merupakan agama yang sudah moderat.

Islam itu sudah moderat dari segi arti linguistiknya atau dari nilai dan norma. Nilai dari Islam terlalu abstrak, namun dilengkapi oleh norma yang mengatur hukum yang konkrit, berada pada titik tengah antara keduanya. Islam sudah moderat, sebab keberadaannya di antara value dan norma. Berbeda dengan agama atau kepercayaan lainnya, Islam tidak terlalu liberal dan tidak terlalu radikal. 

Nasaruddin menegaskan bahwa istilah moderasi Islam ini merupakan keniscayaan dari Islam sendiri, bukan suatu keterpaksaan Islam untuk beradaptasi. Sebagai contoh, jika Islam adalah agama radikal, maka Islam seharusnya tidak memperbolehkan umatnya untuk berbuat dosa sekecil apapun dan harus perfect dalam beragama. Tetapi kenyataannya, hal tersebut sangat kontradiktif terhadap karakter asli manusia yang memiliki nafsu, sehingga tidak ada manusia yang luput dari  perbuatan dosa. Islam bukan agama radikal, hal ini dibuktikan dari sifat Allah yang Maha Pemaaf. Apabila umat Islam dituntut untuk tidak pernah melakukan dosa, maka esensi dari sifat pemaaf dan pengampun yang dimiliki Allah akan hilang dan atau dipertanyakan. Sama halnya dengan esensi surga dan neraka, keduanya merupakan pembuktian dari balasan atas apa yang dilakukan oleh umat manusia saat hidup. Artinya, Islam mengakui sifat ketidakkonsistenan yang manusia miliki. Sama halnya jika Islam adalah agama liberalis, Allah bisa saja menghendaki dunia hanya dengan satu agama, Islam, tetapi Allah tetap menjadikan manusia sebagai makhluk yang berbangsa-bangsa, bersuku-suku dengan beraneka ragam agama.

Nasaruddin Umar memberikan sebuah perumpamaan, ketika di dunia ini hanya ada satu agama, yaitu Islam, maka pemimpinnya ialah khalifah. Maka ketika kekhalifahan umat Islam berpusat di Indonesia, niscaya akan timbul kegelisahan pada diri umat Islam tentang kepada siapa mereka akan meloyalitaskan dirinya. Sebab setiap negara, memiliki pemimpinnya masing-masing. Tetapi dibalik itu, tidak ada larangan dan tetap ada pula negara yang menerapkan hukum Islam, hal inilah yang membuktikan bahwa Islam adalah agama moderat.

Rasulullah saw. banyak memberikan pertimbangan terkait Islam moderat, salah satunya adalah memfungsikan masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah saja. Saat nabi berpindah ke Madinah, bangunan pertama yang ia berdirikan adalah masjid. Kondisi Madinah yang  didominasi oleh Yahudi saat itu, dikejutkan oleh popularitas Rasulullah saw. yang banyak mengislamkan masyarakat sekitar sebab didirikannya masjid sebagai tempat pemberdayaan umat. Nasaruddin menyampaikan, “masjid yang Rasulullah bangun ini kurang lebih 20% digunakan untuk beribadah, sisanya digunakan sebagai pemberdayaan umat” sebagaimana buku yang beliau tulis, Pemberdayaan Umat Berbasis Masjid, masjid digunakan sebagai ruang tahanan, rumah sakit untuk mengobat umat yang turun berperang, tempat latihan berperang, digunakan untuk balai pertemuan, kantor peradilan, sekretariat negara, baitul maal, tempat pertunjukan seni budaya islam, dan di sana juga dilakukan dialog antar agama sebagai tempat meeting point umat beragama. Terakhir beliau menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling berpotensi untuk mengayomi agama islam, karenanya sebagai anak muda dan rakyat Indonesia sudah saatnya kita mengambil alih estafet kepemimpinan peradaban islam di masa yang akan datang. (Hafifah Nur Ainiyah/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif)

 

 

 

[ux_text font_size=”1.55″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=d44kUL9ID3o” height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada