Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Opini

DAKWAH KAMPUS (Sebuah Brainstorming)

  • Opini, Uncategorized
  • 16 April 2014, 09.09
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

DAKWAH KAMPUS
Sebuah Brainstorming
Najmi Wahyughifary
Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM 1435 H


JS Editorial

Mendengar istilah ‘ideal’ tentunya yang paling menonjol ialah situasi atau keadaan dimana sebuah instrument ataupun sistem berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan atau yang diinginkan.
Pertama memikirkan kata ‘ideal’, beberapa kata terlintas begitu saja di benak: pengkaderan yang sehat, syi’arnya kuat, manajemennya tepat, fikroh dan orientasinya selamat, rekrutmennya semangat, progresnya cepat, dan jaringannya kuat. Namun naif rasanya menyebut ini sebagai ideal. Pasalnya kadar idealisme itu relatif, tergantung pada bahasawannya. Beda persepsi, beda pula kadar idealismenya. Terlebih tulisan ini menyoal dakwah kampus pada tataran konsep, yang secara prinsipil merupakan kerangka tubuh atas pergerakan dakwah di kampus. Jelas perkara yang tak boleh main-main, bukan? Pun begitu, adalah wajib bagi seorang aktivis dakwah kampus untuk memahami konsep dakwah kampus, sehingga ada korelasi antara pemahaman dan pergerakan.

Oleh karena itu diperlukan suatu konsep yang jelas mengenai bagaimana dakwah kampus yang ideal tersebut. Dari saking banyaknya gagasan-gagasan yang ada di dunia kampus, tentunya aktivis dakwah kampus harus bisa memformulasikan semua ini. Ada banyak analisis yang bisa kita gunakan dalam menyikapi bentuk ideal dakwah kampus tersebut, yang lebih familiar bagi kita tentunya ialah analisis SWOT yang sering kita gunakan dalam berbagai kegiatan di kampus. Maka dari itu, diperlukan suatu analisis yang cocok dan pas bagi dakwah kampus yang ideal ke depannya. Menyoal dakwah kampus ideal yang dalam hal ini, UGM sebagai salah satu universitas terbesar dan berpengaruh di Indonesia yang sering menjadi role model kampus-kampus lain di Indonesia harus memiliki peran yang besar dalam memberikan role model dalam menata dakwah kampus ideal.

Salah satu contoh sederhana yang amat sering kita temui di medan kampus ialah banyaknya berbagai macam pemikiran dan pergerakan (fikroh islamiyyah dan harokah islamiyyah) yang sangat concern dalam isu keumatan. Menyikapi ini, tentu ini adalah sebuah kesempatan yang besar bagi dakwah kampus dalam merumuskan ‘ideal’ itu seperti apa. Ketika ruang dialektika antar pemikiran itu terbuka tentunya akan membuka banyak sekali referensi akan bagaimana pandangan islam dalam menuntaskan berbagai permasalahan yang melanda umat saat ini. Sebagai salah satu bentuk tanggungjawab tertinggi intelektual ialah bagaimana ketika mampu menjawab tantangan zaman serta memberikan solusi yang menyeluruh (kaffah) dalam menyelesaikan berbagai problema maupun konflik yang mendera umat saat ini. Tentu semua sepakat, bahwa islam mampu menjawab semua permasalahan dalam hidup ini. Namun yang jadi permasalahan ialah subjek ‘kita’ yaitu dakwah kampus. Mampukah dakwah kampus berperan besar dan banyak terhadap tanggungjawab ini ? Mampukan dakwah kampus menjadi laboratorium intelektual dalam menyelasaikan berbagai problematika saat ini ? Tentu ini menjadi pertanyaan besar bagi elemen dakwah kampus itu sendiri. Dakwah kampus tentu punya peran besar dan strategis dalam menciptakan kondisi yang ideal itu. Kondisi yang ideal itu seperti apa ? Kondisi ideal ialah saat islam diterapkan diberbagai lini dan sector, tidak ada lagi upaya pemisahan agama dengan kehidupan sosial, tidak ada lagi istilah “agama terpisah dari negara”, tidak ada lagi selentingan “agama hanyalah urusan pribadi” maupun istilah-istilah sekuler lainnya.

Peran besar kita saat ini tentunya ialah kita menghadapi ‘tsunami’ pemikiran yang melanda umat ini secara sporadis. Islam sebagai ajaran yang syumul berhadapan dengan konsep-konsep barat seperti nasionalisme, sekulerisme, liberalisme, demokrasi, kapitalisme, marxisme/komunisme tentu mempunyai tantangan yang berat dan khas. Belum lagi, ketika saudara-saudara kita dibelahan bumi lain harus menghadapi musuh-musuh islam secara fisik dan bertaruh nyawa. Kita, sebagai elemen terpenting dakwah di dunia kampus punya tanggungjawab besar dalam usaha mencapai kondisi “ideal’ tersebut. Dakwah kampus yang ideal ringkasnya ialah saat segenap kekuatan dakwah yang terintegrasi dengan baik, keterbukaan dialektika antar fikroh ataupun harokah islamiyyah (ahlus sunnah wal jama’ah). Kemudian, pengukuhan pemahaman tentang urgensi dakwah serta rapinya kaderisasi. Terkukuhkan semua elemen dakwah kampus dalam semangat persatuan yang tak lagi memandang golongan, jama’ah maupun partai. Mengutip perkataan salah satu pendahulu aktivis islam kampus, Prof. Edi Meiyanto (Guru Besar Farmasi UGM): “Kita tinggikan standar orientasi dakwah kita dalam mencapai kata sepakat, yaitu persatuan. Tak lagi berorientasi kepentingan partai, jama’ah, ataupun kelompok. Semua melebur dalam satu kepentingan, KEJAYAAN ISLAM.”

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin