H.O.S TJOKROAMINOTO

GURU PARA PENGGERAK

Oleh : Fakhirah Inayaturrobbani -Departemen Kajian Strategis JS UGM-

” Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid , sepintar-pintar siasat…”

 

Ia terdiam sejenak menatap seluruh muka para hadirin, lalu kembali melanjutkan, ”…Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang disebabkan hanya karena susu. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya, dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya adalah penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri… tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita, mengatur hidup kita tanpa partisipasi kita….”[1]

Ribuan peserta vargedering perdana Sarekat Islam menyimak dengan seksama sebuah orasi yang disampaikan oleh seorang pemuda berperawakan sedang namun bersuara baritone yang berat dan besar itu. Tanpa bantuan pengeras suara sekalipun, suaranya mampu menggema ke seluruh ruangan sekaligus menyusup ke dalam hati para peserta vargadering kongres perdana Sarekat Islam di Bandung (1912).

Pemuda itu bernama Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, lahir di desa Bakur, Madiun Jawa Timur 16 Agustus 1883 (ada yang menulis beliau lahir 20 Mei 1883 dan sebagian menulis lahir tahun 1882)[2]. Sang Raja Tanpa Mahkota, merupakan julukan yang diberikan kaum Belanda karena kiprahnya dalam membela dan menggerakkan kalangan pribumi. Ia merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara putra dari Raden Mas Tjokro Amiseno, seorang Wedana Kleco dan cucu R.M Adipati Tjokronegoro bupati Ponorogo. Lahir dari kalangan kaum priyayi tak membuatnya terlena. Ia bahkan melepas gelar kepriyaiannya dan lebih memilih menggunakan gelar Haji-nya.

Pada tahun 1912, ia bergabung dengan Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H.Samanhudi, kemudian Tjokro muda menjabat sebagai ketua pada tahun 1913 menggantikan H. Samanhudi sekaligus mengubah namanya menjadi Sarekat Islam. Hal itu disebabkan oleh gagasan Tjokro untuk memperluas haluan Sarekat Dagang Islam yang hanya bergerak dalam bidang social-ekonomi dan hanya menanungi pribumi, menjadi berhaluan politik, social, ekonomi dan agama.

Selain itu, orang juga menyebutnya dengan Gatotkoco Sarekat Islam, karena di bawah kepemimpinannya Sarekat Islam berkembang pesat, menjadi organisasi politik dengan anggota terbanyak di Indonesia pada masanya, yaitu sekitar 2,5 juta anggota aktif. Hal tersebut membuat Belanda tidak lagi meremehkan Sarekat Islam.[3]

Tujuan Tjokro muda mendirikan Sarekat Islam juga untuk menangkal Krestenings-Politiek (Politik Peng-kristenan), kecurangan, penindasan yang dilakukan Belanda dan Eropa serta ambetener-ambtener (antek-antek) dari kalangan bumiputera.

Bapak Kos dan Guru Bangsa

Kiprahnya dalam membangun bangsa memang kadang disisihkan, Sarekat Islam diletakkan dalam urutan ke sekian setelah Budi Utomo yang banyak berasal dari golongan elit bangsawan, dan Pemuda Indonesia (PI), yang berasal dari kalangan berpendidikan tinggi.[4] Padahal, ia merupakan seorang guru bangsa. Awal mulanya pada tahun 1912, HOS Tjokroaminoto memutuskan untuk menetap di Surabaya dan mendirikan kos-kosan bersama istrinya[5]. Disinilah awal mula ia menyampaikan pemikiran-pemikirannya dalam agama, politik dan kebangsaannya. Soekarno, Muso, Alimin, Kartosoewirjo, Buya Hamka, Abikoesno, dan banyak lagi tokoh bangsa yang pernah tinggal di kos-kosan Tjkro dan belajar padanya. Kelak banyak diantara mereka menjadi para penggerak bangsa, sebagai Soekarno yang Nasionalis, SM Kartosuwirjo pendiri DI/NII dan Muso Alimin pendiri Partai Komunis Indonesia.

Selain itu, Serikat Islam juga merupakan tempat berkumpulnya para tokoh Islam terkemuka, sebut saja KH Ahmad Dahlan, Agus Salim, AM Sangadji, Mohammad Roem, Fachrudin, Abdoel Moeis, Ahmad Sjadzili, Djojosoediro, Hisamzainie, dan lain-lainnya. Orang-orang inilah yang juga kelak menjadi generator negri, pemikir dan bahkan pemimpin Indonesia. Oleh sebab itu, ia juga dijulugi sebagai bapak Politik Umat Islam di Indonesia.[6]

Perjuangan dan Pemikiran Tjokro

Perbedaan ideology yang dianut para muridnya, menimbulkan pertanyaan bagaimana sejatinya dasar dan arah cita-cita Tjokro.

Tjokro sangat percaya bahwa Islam semata yang mampu memamkmurkan suatu negri.[7] Ia menyampaikan, “….bahwa Negara dan bangsa kita tak akan mentjapai kehidupan jang adil dan makmur, pergaulan hidup jang aman dan tenteram, selama keadilan sosial sepandjang adjaran-adjaran Islam belum dapat berlaku atau dilakukan mendjadi hukum dalam Negara kita, sekalipun sudah merdeka…”

Gagasannya tentang Islam juga disampaikan dalam keterangan pokok Sarekat Islam pada kongres Nasional kedua di tahun 191, “…agama Islam itu membuka rasa pikiran perihal persamaan derajat manusia sambil menjunjung tinggi kepada kuasa negeri” dan “bahwasanya itulah {Islam} sebaik-baiknya agama buat mendidik budi pekertinya rakyat….”[8] Dalam beberapa literatur mengatakan dari gagasan inilah Kartosuwirjo terinspirasi untuk membuat Negara Islam Indonesia.

Dalam pidatonya yang lain di kongres Central Sarekat Islam (CSI), yang juga merefleksikan gagasannya, Ia berorasi,“….tidak mengharapkan sesuatu golongan rakyat berkuasa di atas golongan rakyat yang lain. Ia (Islam) lebih mengharapkan hancurnya kuasanya satu kapitalisme yang jahat (zondig kapitalism), dan memperjuangkan agar tambah pengaruhnya segala rakyat dan golongan rakyat…di atas jalannya pemerintahan dan kuasanya pemerintah yang perlu akhirnya mendapat kuasa pemerintah sendiri (zelf bestuur).”

Dalam perjalanan perjuangan politiknya ia juga pernah membentuk Komite Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) atas kesedihannya melihat kehormatan Islam diinjak-injak, serta guna memantik rasa kebanggan Indonesia dengan menggencarkan gagasan soal pemerintahan sendiri (zelfbestuur). Ia juga memimpin surat kabar internal SI Oetosan Hindia, selain itu surat kabar Bendera Islam bersama Agus Salim, Soekarno, Mr. Sartono, Sjahbudin Latief, Mohammad Roem, AM Sangadji serta aktivis Islam dan Nasionalisme[9]. Selain itu, ia bekerja sama dengan Agus Salim dan Kartosoewirjo dalam membuat harian Fadjar Islam. Gagasannya juga dituangakan dalam dua bukunya yaitu Tarich Agama Islam serta Islam dan Sosialisme.

cokro

 

Gambar 1: Surat Kabar Bandera Islam

Militansi perjuangannya atas nama Islam juga menjadikan Belanda mencoba merangkulnya dengan menawarkan jabatan sebagai volksraad atau dewan rakyat. Namun hal ini ditolak beberapa anggota SI yang lain dan Tjokro juga dipenjara selama 10 tahun (1912-1922). Hal yang wajar bagi para pejuang syariat di Nusantara.[10]

Tjokro mampu menggugah masyarakat dengan perjuangan meraih kemerdekaan Nusantara dengan retorika politiknya yang cerdas dan ideology Islam yang dipegang teguhnya. Ratu Adil, Guru Bangsa, Raja Tanpa Mahkota, Gatotkoco, Bapak Politik Umat Islam dan Guru Para Pemimpin adalah sedikit gelar yang disematkan banyak orang kepada Tjokro, dari kawan maupun lawan.

Kekhilafahan Turki Ustmaniy dan HOS Tjokro Aminoto

Dua tahun (1926) sebelum kongres pemuda Indonesia pada tahun 1928, beberapa tokoh agama nasional berangkat untuk menghadiri sebuah kongres Mekah (1926). Surat Kabar Bandera Islam dalam Perjuangan Khilafah (1924-1927) juga memperlihatkan bagaimana hubungan antara Kekhilafahan Turki Ustmaniy dengan pejuangan kemerdekaan Indonesia.[11]

Sebelumnya pada pertengahan tahun 1924, Ulama Al-Azhar, Kairo, Mesir mengirimkan sebuah undangan untuk menghadiri Kongress Khilafah kepada perkumpulan Ulama Islam Indonesia, yang salah satu penerimanya adalah HOS Tjokroaminoto dan beberapa ulama lainnya, dan meminta Indonesia untuk megirim delegasi.[12]

ccccGambar 2: Pemberangkatan HOS Tjokroaminoto menuju Kongres di Mekkah tahun 1926. 

 

Telaah Kritis Islam, Sosialisme, Dan Hos Tjokroaminoto

Adanya beberapa ranah yang terdapat dalam Islam namun juga terdapat dalam sosialisme dianggap HOS Tjokroaminoto sesuai dengan mirip dengan sosialisme. Walaupun pada dasarnya hal tersebut tidak dapat menisbatkan bahwa Islam adalah sama dengan sosialisme. Islam merupakan agama kehidupan yang unik. Dan sekaligus menjadi dasar ideologi para pengembannya. Adalah dangkal jika menarik kesimpulan bahwa apa yang diperjuangkan HOS Tjokroaminoto merupakan sosialisme komunisme bukan Islam. Pada banyak fragmen kehidupannya sejatinya Islam yang menjadi landasan perjuangannya.

Patut ditinjau secara kritis melalui latar belakang sejarah lahirnya buku Sosialisme dan Komunisme. Yang mereka hadapi adalah kapitalisme. Sehingga, isu sosialisme terlihat seksi digunakan sebagai posisi oposan.

Bagaimana beliau dapat mengambil keterkaitan antara Islam dan sosialisme?

Sebab, Islam sejatinya punya aturan yang khas dan unik. Ia bertentangan dengan kapitalisme dalam banyak sisi, baik dasar maupun cabang. Ia menentang riba (woeker) dan itu berbeda secara fundamental terhadap sistem ekonomi kapitalisme yang berbasis riba. Dalam konsep muamalah Islam, Tjokro melihat bahwa praktik kapitalisme adalah penumpukan modal dan barang yang serakah dan sia-sia. Dan itu haram dalam Islam.

Tjokro dalam tulisannya menganggap Nabi Muhammad gigih memperjuangkan sosialisme Islam, karena Islam mengajarkan keperluan seseorang hendaknya bertakluk kepada kekeluargaan dan keperluan banyak orang tidak individu semata. Pencapaian Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin menjadi misi kerasulan Muhammad, yaitu meletakkan semangat keadilan dan kemanusiaan yang meniscayakan hadirnya sistem yang mensejahterakan.

Namun, dalam beberapa literasi lain, Tjokro juga menelaah bahaya dari sosialisme itu sendiri.

Kesimpulannya, jika menelaah lebih dalam semangat pemikiran HOS Tjokroaminoto, Ia meletakkan Islam sebagai unsur fundamental sebuah negara. Islam (yang dalam hal ini menurut Tjoro condong pada sosialisme) merupakan bentuk aktif yang digagas Tjokro guna mengentaskan manusia dari pemiskinan yang digerakkan oleh sistem.

Pada akhirnya ada tiga ‘anashir[13] sosialisme Islam ala H.O.S Tjokroaminoto. Pertama, kemerdekaan (vrijheid-liberty. Kedua, persamaan (gelijk-heid-eguality), dan ketiga, persaudaraan (broederschap-fraternity)[14]. Bagi Tjokro, Islam adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipersatukan, sebagai dasar kebangsaan Indonesia.

Wallahualam bishhowab.

 

Fakhirah Inayaturrobbani

16 April 2015 M / 27 Jumada al-Tsani 1436 H

[1] Pidato HOS Tjokroaminoto pada Kongres Sarekat Islam pertama (1916) di Bandung. Lihat Sang Raja Tanpa Makota, https://serbasejarah.wordpress.com/2009/04/24/sang-raja-tanpa-mahkota-hidup-dan-perjuangan-tjokroaminoto/ diakses 13 April 2015 pukul 09.32.

2 Ibid

3 Hasnul Arifin Melayu, Islam and Politic in the Thought of Tjokroaminoto (1882-1934), Institute of Islamic Studied, Mc.Giil University, Juni 2000.

4 Imam Anas Hadi, Implementasi Pemikiran HOS Cokroaminoto tentang Pendidikan Kebangsaan di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, Sinopsis Tesis Program Magister IAIN Walisongo, 2012.

5 Kisah Tiga Murid Tjokroaminoto, diakses dari http://m.merdeka.com/peristiwa/kisah-3-murid-tjokroaminoto-soekarno-semaoen-kartosoewirjo.html, pada tanggal 9 April 2015, pukul 10.09.

6 ibid

7 ibid

8 Ibid

9 St Sularto, Haji Agus Salim (1884-1954): Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2004.

10 Sumarno, Perjuangan bernegara demokrasi H.O.S. Tjokroaminto : Telaah historis pemikirannya dalam Pergerakan Nasional Sarekat Islam 1912-1934, Tesis, Universitas Indonesia, diakses dari http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=71992&lokasi=lokal pada tanggal 11 April 2015.

11 Septian A.W, Peran Surat Kabar Bandera Islam dalam Perjuangan Khilafah 1924, Universitas Indonesia, 2013.

12A Martin van Bruinessen, Muslims of The Dutch East Indies and The Caliphate Question, Studia Islamika Vol. 2 no.3 hal.8, Jakarta, 1995.

13 “anashir” merupakan kata serapan dari bahasa arab, ‘unshur’ yang berarti komponen atau saripati.

14 Hasnul Arifin Melayu, Islam and Politic in the Thought of Tjokroaminoto (1882-1934), Institute of Islamic Studied, Mc.Giil University, Juni 2000.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Haji Oemar Said Tjokroaminoto: Guru Sang Penggerak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *