Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Kabar Terkini
  • Kabar JS

Konsep Pendidikan

  • Kabar JS
  • 25 November 2007, 06.54
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

(Sempat terhapus dari website JS. Diterbitkan kembali 27 Juli 2019 dengan perbaikan ejaan)

Pendidikan merupakan hal penting dalam penanggulangan kualitas masyarakat Indonesia yang tergolong rendah di mata Indonesia. Pemerhatian dan sumbangsih Pemerintah haruslah besar. Bukan hanya pemerintah saja yang ikut mendukung suksesnya pendidikan di Indonesia.

Jama’ah Shalahuddin mencoba membahas dan menelusuri konsep pendidikan di Indonesia dengan menerbitkan sebuah jurnal Pendidikan Indonesia. Sebagai unit kegiatan mahasiswa di bidang kerohanian Islam, Jama’ah Shalahuddin ingin membukakan mata para civitas pendidikan Indonesia bahwa ada sesuatu yang lain yang memiliki hikmah dan dijadikan sebuah pandangan dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Terlihat sangat terpolakan. Itulah pendidikan Indonesia belakangan ini. Pemerintah menyusun begitu banyak pola dimana guru memiliki peran penting dalam pendidikan ini. Guru menjadi momok yang dipatuhi dan ditakuti serta adanya stagnasi yang membuat paradigma di kalangan siswa bahwa apa yang dikatakan guru adalah benar. Hal inilah yang membuat siswa merasa bosan dengan sistem pendidikan di Indonesia.

Keberhasilan akademik hanya dimiliki orang-orang yang rajin membaca dan memperhatikan guru-guru mereka. Tanpa alih suatu kebiasaan, siswa dituntut melaksanakan segala aktivitas sekolah demi tercapai kedisiplinan dan prestasi yang memuaskan. Mereka melupakan hobinya sejenak dan mulai melaksanakan segala sesuatu yang membosankan. Inilah yang salah dari sistem pendidikan di Indonesia. Peran guru membuat siswa takluk dan terpenjara dalam segala keteraturan.

Mungkin, bagi sebagian besar siswa biasa, mereka merasa nyaman dengan keadaan seperti itu, namun bagaimana dengan siswa yang luar biasa? Yang selalu memiliki cara unik sendiri dalam memahami dan mengaplikasi suatu pelajaran. Adanya sedikit kebebasan yang diciptakan guru dan suasana nyaman dalam kelas dapat membantu adanya keberhasilan yang dirasakan seluruh siswa.

Selain sebuah sistem pendidikan yang terpolakan, masalah biaya pendidikan merupakan sesuatu yang sangat pelik dalam penciptaan keberhasilan pendidikan Indonesia. Istilahnya, berani bayar mahal dapat masuk pada sekolah yang bagus. Pergantian jenjang pendidikan selalu diliputi kecemasan dalam benak para orang tua. Hampir tak terdengar beasiswa yang dijanjikan pemerintah karena ketidakmerataan dan pihak sekolah yang tidak mau tahu.

Jurnal pendidikan ini ditujukan kepada masyarakat umum Yogyakarta bahkan Indonesia yang digunakan sebagai wacana dan fakta sistem pendidikan Indonesia selama ini. Jurnal ini diharapkan mampu sebagai parameter dan mengungkapkan sedikit kebiasaan yang dilakukan oleh para pelaku pendidikan sebagai penulis dalam jurnal ini.
(Tia)

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin