Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • JS Menulis

Menuju Peradaban Islam

  • JS Menulis
  • 7 Maret 2010, 20.42
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

(Sempat terhapus dari website JS. Diterbitkan kembali 27 Juli 2019 dengan sedikit perbaikan ejaan)

Islam telah terdengar oleh seluruh masyarakat dunia. Tidak hanya mereka yang beragama Islam saja, tapi Islam sudah dikenal oleh seluruh umat beragama. Berawal pada saat Nabi Muhammad Saw yang menyampaikan risalah nubuwah dari Allah SWT agar menjadikan islam sebagai keyakinan yang utuh dan sempurna, serta menaungi umat manusia sebagai rahmatan lil ‘alamin. Islam memiliki kekuatan yang berbeda dengan aliran/falsafah/agama yang lain, baik dari sisi substantif dan sisi fisiknya. Tidak lain bahwa islam tidak hanya dirasakan keberadaannya sebagai sebuah agama, namun menguat pada keyakinan yang berakar hingga aplikasinya di dunia.

Dari dahulu hingga sekarang Islam tetap pada keasliannya, keaslian yang merujuk pada keyakinan dan ritual ibadah, yang merujuk pada system dan syari’at, serta budi pekerti dan tingkah laku. Konsepsi Islam yang menjadi syamil dan mutakamil menjadikan Islam sangat relevan untuk kebutuhan di segala zaman. Tak lekang tuk digeser oleh keyakinan/aliran/falsafah/agama lainnya. Islam tetap menjadi dien dan juga sebagai dasar hidup setiap umat muslim.

Sejarah Islam pun penuh dengan dinamika. Hubungan erat antara islam dan pemeluknya hingga kini tetap berada pada garis kesejajaran manusia untuk saling memanusiakan. Memanusiakan tidak sekedar dalam pemenuhan kebutuhan fisik, namun lebih kepada penghambaan Manusia dengan Sang Penguasa Manusia. Kebutuhan yang menitikberatkan hal ihwal kenapa manusia diciptakan dan itu semua berada pada Islam.

Konsep Islam sebagai Transfer nilai-nilai Ukhrawi dan maknawi
Ibadah shalat, puasa, zakat, dan sebagainya adalah sebuah kebutuhan yang harus dijalankan umat islam. Bila dilihat memang penuh dengan kegiatan yang menguras fisik dan materi (uang). Dan Allah telah berfirman dalam suratnya,

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah. lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.(At- Taubah : 111)
Landasan manusia dalam menjalankan ibadah tidak hanya sebgai ritual belaka, secara garis masa depan yang diyakini oleh umat islam, Allah telah memberikan janji setelah kehidupan di dunia, bahkan Allah tidak tinggal diam tuk meneguhkan posisi manusia selama ia dalam keadaan beriman kepada Allah SWT, sebagaimana Firman Allah :
Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (surat Muhammad ayat 7)
Begitulah sejarah Islam telah tertoreh pada Umat islam terdahulu yang telah memuncakkan kekuatan Islam tidak hanya sebagai ibadah ritual saja namun memiliki relevansi antara yang dijalankan dengan manfaat yang telah dijalankan.

Islam sebagai Penguat sistem tatanan kehidupan

Sejak manusia dilahirkan, manusia sudah pada kondisi berislam, namun yang menjadikan ia yahudi, nasrani, budha, dan lainnya adalah orang tuanya. Islam merupakan fitrah bagi manusia sejak awal. Fitrah yang tidak hanya menghubungkan dia sebagai manusia untuk memeluk Islam, namun bentuk keyakinan yang terus menjalar dan menyeluruh dari hati hingga perbuatan. Itulah Islam yang dijadikan parameter sebagai Rahmatan lil ‘alamin.

Pada kehidupan manusia pun, Islam tetap mengambil peran yang harus dijalankan manusia sebagai sistem hidup (Minhajul hayah). Sistem yang menaungi seluruh Aspek kehidupan mulai dari kegiatan bermuamalah, bersosial, berbudaya, berpolitik,  dan menimba Ilmu. Sisi kehidupan yang ditransliterasikan kepada nilai-nilai islam sejatinya mampu menopang kemajuan dalam sisi pemikiran dan implementasi. Islam tidaklah sekuler yang dipahami oleh orang-orang SEPILIS, tetapi Islam merupakan bentuk utuh dalam membentuk sebuah tatanan hidup yang seimbang  dan memiliki hubungan erat dengan sistem kehidupan yang dibutuhkan dunia saat ini.

Realitas Umat dalam memandang Islam
Tidak sedikit manusia  yang melihat Islam hanya sebuah agama dan nilai-nilainya dicap tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Pemahaman parsial ini sering terjadi tidak hanya oleh umat agama lain, namun masih banyak terdapat Umat Islam yang memandang dengan pandangan yang sama. Jelas pandangan ini tidak didasari oleh argumentasi yang logis dan kuat, dan pandangan ini adalah usaha untuk melakukan penggembosan agar umat islam tidak langsung keluar dari Islam, namun secara perlahan-lahan akan mempengaruhi pemikiran umat islam agar tidak terlalu yakin dan ragu-ragu dalam mengamalkan Islam dalam kehidupan.

Islam yang dipahami secara tidak sempurna, wajar saja akan menjadi polemik bagi masyarakat dunia. Sebagaimana seseorang yang melihat buah durian yang tebal kulitnya dan tajam durinya disetiap permukaan kulitnya. Tanpa dia sebelumnya tahu bahwa dibalik kulit yang tebal dan duri yang tajam, terdapat buah yang manis rasanya dan wangi aromanya. Begitu pula Islam, bila Islam hanya dipahami bagian syari’at mengenai hukum rajam saja, maka tidak akan ada manusia yang mau menyelaminya tanpa tahu latar belakang adanya hukum rajam.

Belum obyektifnya dalam melihat suatu hal atau permasalahan hanya akan berakar pada kesimpulan saja tanpa ada analisis yang memiliki latar belakang, sebab-akibat, dan pencarian metodologi yang benar dalam melihat permasalahan.

Hingga saat ini, umat manusia belum bisa berpikir kritis dan obyektif karena kekolotan manusia dalam menikmati dunia adalah segalanya tanpa tahu ada apa setelah kehidupan di dunia. Batasan kesadaran manusia hanya berakhir pada perut dan syahwatnya saja. Bila hal ini berkelanjutan maka tidak akan lama, manusia akan cepat pada kebinasaannya sebagai mahluk yang ingkar pada fitrahnya, menyimpang daripada hawa nafsunya. Dan akhirnya, hanya akan memusatkannya pada kesengsaraan dunia dan akhirat.

Kuncinya kembali kepada kesadaran dan memahami kembali dengan parameter pemahaman yang meyeluruh tidak sekedar mengambil seluruhnya. Kembalikan kebenaran Islam pada fitrah manusia yang terpusat hanya penghambaan kepada Allah SWT. Hingga saatnya, bila umat manusia semua beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, akan ternaunginya dunia ini yang menjadikan Islam sebagai Peradaban.

Wallahu ‘alam bisshawab,

Penulis:

Nasrullah

Biro Khusus Kaderisasi  JS  1431 H

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada