Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • JS Menulis
  • Catatan Shalahuddin

Time

  • Catatan Shalahuddin, JS Menulis
  • 2 April 2010, 07.44
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

waktu

06.30, Pagi yang cerah,

Agak berat memang membuka mata di pagi ini, meskipun tadi sempet terbangun tuk shalat shubuh tapi badan ini kembali tergeletak tak berdaya setelahnya.

Aku bingung ingin melakukan apa saja pagi ini. Padahal kemarin begitu banyak agenda yang harus aku ingin selesaikan seakan-akan ingin menambah waktu yang hanya 24 jam menjadi 30 atau bahkan 50 jam sehari. Mungkin tak hanya aku saja yang memiliki keinginan tuk memperlambat perputaran bumi ini, sebagian besar aktivis kampus aku rasa juga memiliki keinginan yang sama. Aneh memang, disaat banyak mahasiswa lain yang bingung mau menghabiskan waktunya untuk apa sedangkan dibelahan bumi lainnya sebagian mahasiswa sampai mencuri-curi waktu tuk beristirahat. Kalau saja bisa aku ingin mereka menyumbangkan waktu hari mereka kepadaku, agar mereka hanya hidup 20 jam sehari sedangkan aku hidup 28 jam sehari. Kan lumayan tuh.

Pernah kejadian aku harus berada di dua tempat yang berbeda pada waktu yang sama. Dan salah satunya gak bisa aku tinggalkan. Salah satu agenda membutuhkan kontribusi pemikiranku tuk menyelesaikan tugas kuliah yang deadlienya esok hari, satunya lagi menuntut kehadiranku walaupun Cuma sekedar menjadi pendengar di organisasi kampus. Dan semuanya memiliki konsekuensi sendiri-sendiri jika aku tak berada disana. Akhirnya aku putuskan tuk menghadiri acara rapat di organisasi terlebih dahulu lalu satu jam kemudian ikut debat materi kuliah di kampus. Ternyata temen-temen yang lain banyak juga yang memiliki nasib yang sama sepertiku dan ada beberapa yang mengikuti jejakku. Hasilnya sudah bisa ditebak, rapat di organisasi gak berjala sesuai rencana hanya sekedar formalitas tanpa adanya konflik yang bersifat membangun. Ini disebabkan karena peserta yang hadir kebanyakan tidak bisa mengikuti secara penuh dan ada pula yang terlambat sampai beberapa jam sehingga mereka hanya sekedar mengikuti saja gak ngerti udah sampai mana berjalan. Sedangkan kerja kelompok di kampus tidak lebih baik. Tugas yang dirjakan hanya sekerdar selesai tanpa ada niat tuk membuat lebih dahsyat. Inilah dampak yang terjadi jika kita melakukan suatu hal setengah-setengah. Hasilnya pun akan setengah-setengah pula. Gak maksimal.

Saya agak risih pula kalau ada temen-temen yang nyindir ” katanya aktivis dakwah, paham islam, tapi kok sukanya ingkar janji. Padahal kan itu ciri orang munafik. Janji jam 7 tapi datengnya jam 8”. Benar juga kata mereka. Kita kan aktivis dakwah, seharusnya meberikan teladan kepada mereka. Menunjukkan Islam kepada mereka, apakah Islam mengajarkan kita untuk ingkar janji, apakah islam menyuruh kita tuk telat dan tidak disiplin, tentu jawabannya tidak.

Benar kata salah seorang tokoh besar islam “tanggung jawab yang ada jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia”. Untuk itu diperlukanlah manajemen waktu yang baik. Karena Kita yang tidak bisa mengatur waktu maka waktulah yang akan mengatur kita. Semua orang di dunia memiliki jatah waktu setiap harinya sama, 24 jam. Trus kenapa ada orang yang begitu sibuk sampai waktu tuk ibadah saja gak ada tetapi yang lainnya sampai punya waktu main glof padahal dia seorang bos besar yang tentunya mengemban tanggung jawab yang besar pula. Jawabannya kembali lagi pada kemampuan orang tuk mengatur waktu. Waktu kok diatur kan emang sudah dari sononya 1 jam sama dengan 60 menit. Terserah kalian mau menyebutnya apa.

Ini ada beberapa tips tuk mengatur waktu yang aku saring dari berbagai buku. Kalau mau lebih lengkap ya beli bukunya langsung.

  1. Klasifikasi agenda-agenda yang dimiliki nebjadi agenda yang penting mendesak, penting tidak mendesak, tidak penting mendesak, dan tidak penting tidak mendesak.
  2. Prioritaskan agenda yang penting mendesak terlebih dahulu laluseterusnya. Jika ada 2 atau lebih agenda penting dan menesak yang terjadi pada waktu bersamaan maka usahakan tuk menunda pelaksanaannya. Seperti ngerjain tugas yang awalnya jam 8 ditunda ampe jam 12. Tentu saja dengan persetujuan yang lain. Jika gak bisa kita terlebih dahulu menyapaikan kepada mereka bahwa kita gak bisa dating jam 8 tapi baru bisa dating jam 8.15 soalnya ada acara samapai jam 8. Setidaknya mereka sudah mengantisipasi ketidak hadiran kita selama 15 menit itu.
  3. Catat. Seharusnya kita memiliki catatan apa aja yang akan kita lakukan. Jangan terlalu mengandalkan kemampuan mengingat otak kita. Setajam-tajamnya otak lebih tajam pensil. {jcomments on}

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin