Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Opini

Anggota DPR RI Ngegemesin Dech!!

  • Opini, Politik
  • 14 Mei 2010, 18.57
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

dpr-ri

Melihat polah tingkah para wakil rakyat akhir-akhir ini memang semakin lucu dan menggemaskan. Bagaimana tidak? Kerja belum beres,.malah emang ga pernah beres kali ya?! Tapi udah minta ini, minta itu.. hmm… Isu yang sedang hangat dibicarakan adalah rencana pembangunan gedung DPR di Senayan yang dianggarkan 1,8 triliyun. Isu tentang anggaran fantastis ini memang belum merupakan suatu hal yang pasti,namun hal yang perlu diperhatikan adalah urgensi dari pembangunan gedung yang katanya sudah miring 7 derajat itu. 7 derajat??? Apa sih yang perlu dikhawatirkan. Mereka,yang menyebut dirinya wakil rakyat terkesan begitu lebay menanggapi kemiringan gedung yang hanya 7 derajat itu.

Mari kita tengok apa saja fakta dibalik isu ini. Yang pertama adalah alasan rencana pembangunan gedung. Menurut Sekretaris FPPP, Muhammad Romahurmuziy, menilai anggaran Rp1,8 triliun untuk realisasi grand design kompleks DPR RI terlalu besar. Setjen DPR harus menjelaskan rincian angka Rp1,8 triliun tersebut. Ia menjelaskan, dengan kebutuhan standar luas ruangan setiap anggota DPR yang representatif untuk bekerja dengan dilengkapi ruang tamu serta ruang untuk staf ahli yang direncanakan tujuh orang, dibutuhkan luas ruangan 62,5 meter persegi untuk setiap anggota. Artinya, lanjut Romi, untuk 560 anggota DPR bersama anggota fraksinya diperkirakannya sekitar 35 ribu meter persegi. Sedangkan harga bangunan mewah per meter persegi, lanjut Romi, bisa mencapai Rp 15 juta.

“Artinya total yang dibutuhkan untuk merealisasikan bangunan dengan kapasitas seperti itu hanya Rp525 miliar. Kalau angka Rp1,8 triliun itu sangat besar,” tukasnya. Perhatikan, dengan angka 525 milyar ,seharusnya sudah bisa mencukupi. Lalu angka 1,8 triliyun itu dari mana ya?? Kita lanjutkan pencarian faktanya. Masih menurut sekretaris FPPP, Mengenai kebutuhan gedung baru tersebut, lanjut Romi, memang dibutuhkan bagi DPR, karena gedung yang ada sekarang sudah melebihi kapasitas hunian. Gedung Nusantara I, kata dia, dibangun untuk anggota dewan periode 1992-1997 dan saat ini masih digunakan oleh anggota dewan periode 2009-2014.

“Gedung ini tidak didesaign untuk jumlah yang sekarang. Kalau dulu anggota dewan berjumlah 500 dengan masing-masing asisten pribadi satu orang dan dua orang staf. Kalau sekarang jumlahnya sudah 560 dengan rencana satu orang anggota dewan dilengkapi 7 staf ahli,” paparnya. Baiklah,kita minimal tahu bahwa ada peningkatan jumlah anggota dewan, yang melebihi kapasitas hunian. Resiko juga sih, siapa suruh jadi anggota dewan? (lho!).

Perihal kapasitas hunian ini juga diperkuat oleh Priyo Budi Santoso wakil ketua DPR RI, Menurutnya, gedung Nusantara I sudah melebihi kapasitas karena selain dihuni anggota dewan, juga ada staf dan lain-lain. ”Jadi kami ambil kesimpulan,diperlukan renovasi total dan rencananya dibangun gedung baru disekitar gedung sekarang, ”papar politisi Golkar ini. Kemudian isu tentang kemiringan gedung 7 derajat, mari kita lihat komentar lugu dari salah satu anggota dewan yang menanggapi soal ini, Anggota DPR dari Fraksi Golkar Gandung Pardiman misalnya, dirinya tidak ingin mati konyol di gedung dewan yang konon sudah miring itu.

“Kaitannya dengan gedung yang miring, saya tidak mau mati konyol. Meski berdoa, tapi tetap saja saya tidak mau mati konyol,” kata Gandung disambut tawa ratusan anggota DPR di rapat paripurna DPR,Senayan,Jakarta,Senin(3/5/2010).Gandung pun terus melanjutkan interupsinya yang dibungkus dengan bahasa yang lucu. “Kalau itu rubuh tenan (jatuh beneran), sungguh-sungguh, apa kata dunia,” imbuhnya yang lagi-lagi disambut tawa. “Saya tidak mau sok,”timpalnya.

Apakah anda juga ingin tertawa membaca komentar dari wakil rakyat ini? Tidak mau mati konyol, Begitu khawatirnya mereka dengan 7 derajat, sedangkan ketika gedung sekolah dasar di pelosok desa miring 180 derajat, siswa-siswanya masih menyebut gedung itu sekolah mereka. Terkadang wakil rakyat kita lebih lugu dan lebih lucu dari anak-anak SD. Sama sekali tidak ada rasa empati pada rakyat, dan terlalu memikirkan kesejahteraan diri sendir

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin