Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Opini

Kebangkitan yang Berkelanjutan

  • Opini, Politik
  • 9 Mei 2010, 13.03
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

bangkit

Seratus dua tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908, berdirilah organisasi Boedi Oetomo. Boedi Oetomo didirikan berdasarkan suatu kesadaran tentang kesatuan kebangsaan untuk menentang kekuasaan penjajahan Belanda yang telah berabad-abad lamanya berlangsung di tanah air Indonesia. Boedi Oetomo pada saat itu, merupakan perkumpulan kaum muda yang cerdas dan peduli terhadap nasib bangsa. Semangat kebangkitan nasional muncul, ketika bangsa Indonesia mencapai tingkat perlawanannya yang tidak dapat dibendung lagi, untuk menghadapi kekuasaan kolonial Belanda yang tidak manusiawi dan tidak adil.

Bangkitnya kesadaran atas kesatuan kebangsaan atau nasionalisme yang lahir pada 20 Mei 1908 menjadi tonggak perjuangan yang terus berlanjut. Berawal dari sana, muncullah Jong Ambon (1909), Jong Java dan Jong Celebes (1917), Jong Sumatera dan Jong Minahasa (1918). Pada tahun 1911 juga berdiri organisasi Sarikat Islam, 1912 Muhammadiyah, 1926 Nahdlatul’Ulama, dan kemudian pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia.

Tonggak perjuangan itu tidak berhenti hanya sampai tahun 1927 atau ketika kemerdekaan telah kita raih, namun kemudian kebangkitan itu berlanjut, hingga sebelas tahun yang lalu. Tumbangnya rezim Soeharto dan bangkitnya reformasi sebagai bukti, kaum pemuda kini masih memiliki rasa persatuan. namun, kenyataannya apa semangat kebangkitan itu benar-benar kita rasakan????? Tidak ada yang memungkiri bahwa kemelaratan, kesusahan, menjamurnya KKN karena kebanyakan mengambil kesempatan dalam kesempitan alias mumpung jadi pejabat, lowongan kerja yang semakin sulit, minimal cari kerja yang layak setelah tamat D3, tetapi jadi anggota dewan yang tamat smu pun bisa, apakah ini yang disebut krisis kepemimpinan? sungguh ironis memang. Jika begitu, apa makna hari kebangkitan nasional itu? “Berusaha menuju Indonesia yang lebih maju “, itu kata pejabat berwewenang saat perayaan hari kebangkitan nasional, tetapi setelah lewat sehari saja, semuanya kembali lagi pada kebiasaan awal.

Sudah saatnya kita butuh pemimpin-pemimpin yang mumpuni. Indonesia ini milik kita, jika bukan kita siapa lagi? Pertanyaannya, siapa yang mumpuni? Bukan masalah siapa yang mumpuni atau dalam kata lain mampu, tetapi rakyat butuh pemimpin yang mendengar tangisan pilu nasib rakyatnya dan mengulurkan tangannya untuk berdiri tegak bersama-sama dalam mengatasi masalah dengan asas kejujuran dan kepercayaan serta kerendahan dan kesederhanaan. Rakyat butuh pemimpin yang memikirkan masa depan anak-anak bangsa, memfasilitasi pendidikan, bukan menjual pendidikan. Rakyat butuh pemimpin yang tidak cerdas kerena intelektualnya, tetapi memiliki hati dan perasaan.

Menurut Barry Z. Posner kepemimpinan dan kredibilitas tergantung pada hati, bukan hanya otak. Kedua hal tersebut seharusnya ada pada setiap pemimpin bangsa ini, punya intelektualitas yang cerdas dan juga punya hati yang ikhlas untuk memimpin bangsa ini lepas dari berbagai permasalahan yang semakin kompleks. Dengan penyatuan dua hal tersebut tentunya akan mampu membentuk pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia menuju kesejahteraan umum, kecerdasan bangsa, dan keadilan sosial sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Munculnya krisis kepemimpinan sebenarnya dapat disebabkan oleh krisis moral bangsa kita, dan hal ini berdampak pada krisis ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan. Indonesia memang berideologi Pancasila akan tetapi kandungannya tidak dijalankan secara murni dan konsekuen. Akibatnya Agama hanya dijadikan tameng untuk kepentingan golongan(sila ke 1), tidak ada lagi kemanusiaan yang adil dan beradap semua hanya mementingkan kelompoknya masing-masing (sila ke 2). Persatuan Indonesia hanya dijadikan slogan nyatanya akibat politik mereka terpecah belah saling menjatuhkan (sila ke 3). buktinya dalam setiap pengambilan keputusan mestinya Anggota Dewan bisa mewakili suara rakyat tapi hanya mewakili suara partai saja dan rakyat hanya dijadikan objek penderita (sila 4), dan keadilan sosial hanya milik mulut dan sebagian kelompok saja bukan seluruh rakyat indonesia (sila 5).

Rasanya sudah cukup mengkritik bangsa ini. Setajam apapun kritik itu jika kita tidak bertindak apa-apa maka sama artinya kita hanya menjelek-jelekkan diri kita sendiri dan membuat kita tidak mampu untuk bangkit. Perubahan itu butuh waktu dan proses. Keterpurukan Indonesia tidak hanya ditimpakan kebeberapa orang atau lembaga, melainkan semua unsur-unsur yang mendukung di dalamnya.

Menilik pada kebangkitan, siapa sebenarnya yang membuat Indonesia tidak bangkit-bangkit dari keterpurukan? kesalahan system di Indonesiakah? Atau pemimpin yang hanya memikirkan dirinya sendiri? Atau bahkan rakyat yang tidak ambil peduli dan ter-main set bahwa Indonesia negara carut marut yang tidak akan bisa bangkit dari keterpurukan? Tentunya kita bukan bagian dari orang-orang yang demikian. Karena setiap masalah ada solusi, tinggal bagaimana solusi itu dapat diwujudkan.

Dalam kehidupan setiap umat dan bangsa, akan ada seorang pemimpin terpilih dan diberikan rahmat oleh Allah terhadapnya, mampu mengumpulkan umat di sekelilingnya dan bangkit bersamanya dengan membawa tugas menghidupkan bangsa dan umatnya dari kelalaian; sosok pemimpin yang mampu membangkitkannya dan membawa kemuliaan jati dirinya.

Di dalam Islam ada solusi yang seharusnya diterapkan di Negara ini. Sebagai golongan mayoritas, harusnya kita bisa mewarnai. Mencetuskan isu persatuan dan kebangkitan ditengah umat lainnya. Menunjukkan jati diri kita dengan kebaikan akhlak dan perbuatan. Masih ada harapan karena Islam menawarkan kesyumulan, konsep yang menyeluruh.Karena Islam mendukung kemuliaan nasionalisme.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia”. (Ali Imaran:110)

Bahwa sistem Islam secara umum adalah yang berhubungan dengan individu, keluarga atau umat; pemerintahannya dan bangsanya, atau hubungan umat yang satu dengan sebagian lainnya, dikumpulkan dan disatukan antara pemahaman dan ketelitian, dan mendahulukan kepentingan dan penjelasannya, dan bahwasanya yang demikian merupakan petunjuk yang paling sempurna dan bermanfaat dari apa yang dikenal oleh manusia tentang sistem yang baru atau klasik.

Dan kita ketahui bahwa jika azam telah benar dan jalan telah terang, dan umat yang memiliki kemauan yang kuat mengambil jalan kebaikan, maka pasti mendapatkan apa yang diinginkan insya Allah, karena itu marilah kita melakukan kebangkitan, dan kelak Allah akan selalu bersama kita.

Oleh : Mayansari
Sekretaris I Departemen Kajian Strategis LDK jamaah Shalahuddin UGM
Mahasiswa Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah MAda

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada