Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • JS Menulis

Rumahku

  • JS Menulis, Karya Seni
  • 9 April 2011, 09.17
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

gubuk_derita

Tak semegah istanah Negara, tak seindah mahligai sang Raja. Hanya beratapkan Rumbia, berlantaikan tanah dan berdindingkan Anyaman bambu.

Jikalau hujan datang, aku kebasahan karena dedaunan rumbia yang mulai rapuh. Jikalau angin berhembus, aku kedinginan karena sulaman bambu dinding rumahku sedikit demi sedikit mulai patah. Meskipun begitu aku tetap bertahan untuk tinggal di situ. Setidaknya itu adalah rumahku. Rumah yang aku bangun oleh jerih payahku sendiri. Bukan dari hasil rampasan hak orang lain.

Namun kini apa hendak dikata. Ketika datang orang-orang berseragam hitam bersama eskavator itu, rumahku kini telah menjadi puing-puing yang menyatu dengan tanah. Ingin aku menangis, namun apa yang hendak ditangisi? Bukankah Laut, tanah dan udara adalah milik mereka? Aku tahu diri. Aku bukanlah penguasa namun dikuasa. Setiap kata yang terlontar dari mulutku tidak akan di dengar. Siapalah aku? Hanya orang kecil yang tidak ada pengaruhnya untuk bangsa ini.

Kini rumahku hanya beratapkan langit, beralaskan tanah. Terkadang aku berada di trotoar dengan sepasang bajuku yang mulai kusam. Kadang pula, untuk berlindung dari hujan aku tidur di emperan toko hingga pemilik toko bangun lalu mengusirku. Inilah aku.. Seorang rakyat yang terlontang-lanting di jalanan mencari setitik haknya yang mungkin masih tersisa. Meskipun aku tak punya hak untuk tinggal di rumahku yang telah dihancurkan olehmu namun setidaknya aku masih mempunyai hak untuk dilindungi sebagai rakyatmu.

Duduk bergoyang-goyang di atas singgasana membuat engkau lupa akan segalanya. Engkau lupa akan mana yang Hak dan mana yang Wajib. Termasuk janji-janji yang pernah terucap di bibirmu dahulu yang meyakinkanku untuk memilihmu menjadi pemimpinku.

Apakah gemerlapnya hiasan istana telah menyilaukan matamu sehingga tak dapat lagi kau melihat betapa banyak orang yang bernasib sama denganku? Ataukah tingginya tahtah telah mengeraskan hatimu, menutupi nuranimu sehingga tak sedikitpun terpikir olehmu bagaimana jika engkau berada di posisiku?

Aku tak berharap banyak darimu. Hanya sedikit hakku yang telah kau ranggut dari diriku. Aku ingin engkau menjaga kepercayaanku pada dirimu. Jangan engkau mengambil hak aku lagi. Sudah terlalu banyak orang yang menderita karena ketidakamanahanmu.

Aku tak mau lagi mendengar janji manis yang berselimutkan kebohangan di balik tutur ramahmu. Namun suatu kalimat pasti untuk engkau kembali membangun rumahku.

Mengapa engkau bertindak tanpa memberi solusi? Mengapa engkau berkata jarang ada yang pasti?

Aku hanyalah satu dari sekian banyak orang yang terampas haknya olehmu. Hanyalah satu dari sekian banyak orang yang mengharapkan rumah tempat mereka berlindung.

Untuk itu, untukmu yang memimpinku… Kembalilah pada tuhanmu. Tahukah kamu suatu ketika semua ini akan engkau pertanggungjawabkan. Termasuk diriku yang terluka oleh kepemimpinanmu.

Ini hanyalah sebuah curahan hati dari orang yang terrampas haknya. Yang tak lagi mempunyai rumah tempat ia berlindung.

Untukmu pemimpinku… Aku tak ingin engakau jadikan namun jadilah rumah tempat aku berlindung dan mengadu apa yang hendak aku adu. Tempat untuk ku curahkan resah dan gundahku serta sakitnya hatiku.

Yogyakarta, 28 Juni 2010.

Suara Rakyat

Ditulis Oleh : Imints Fasta

Jama’ah Shalahuddin UGM, Devisi Pelayanan dan Syi’ar

Ma’had Ali Bin Abi Thalib UMY

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin