Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • JS Menulis
  • Catatan Shalahuddin

Kami Tunggu Kedatangan Kalian !

  • Catatan Shalahuddin, JS Menulis
  • 7 Januari 2012, 13.15
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

jihad

Kini, ditengah-tengah terpuruknya umat Islam di bumi ini, dan kemunduran umat ini kita saksikan di setiap langkah kaki kita berpijak. Benar kata Rasulullah SAW, suatu saat nanti Islam di akhir zaman diantara orang-orang kafir bagaikan makanan yang berada disebuah wadah yang diperebutkan oleh orang-orang yang kelaparan. Dan begitu juga umat Islam sendiri bagaikan buih dilautan, banyak tetapi tidak berdaya. Di bumi jihad palestina kita menyaksiakn sendiri bagaimana kaum kafir zionis la’natullah ‘alaihim jami’an yang penduduknya hanya segelintir orang mampu menyiksa, merampas dan membunuh di tengah-tengah bangsa arab yang mayoritas kaum Muslimin.

Maka sekarang ! Kami semua sedang menunggu tibanya hari dimana para aktivis muslim, terkhusus para syabaab, datang dengan ghirah yang membara memperjuangkan Islam dari keterpurukan tersebut. Kami menunggu hari semacam hari dimana Abu Bakar saat terjadi murtad massal, semacam hari Khalid saat perang Yarmuk, semacam hari Sa’ad saat perang Qadishiyah, semacam hari Muhammad Al-Fatih saat penaklukan konstantinopel, dan semacam hari Shalahuddin al-Ayyubi saat menduduki kembali Palestina dalam perang Hithin.

Kami ingin –walaupun sesaat ketika ruh kami telah sampai di tenggorokan- mata kami merasakan sejuknya menyaksikan khilafah Islamiyah, telinga kami mendengar merdunya panji-panji Islam berkibar di Timur dan Barat. Dan badan kami merasakan payungnya yang teduh memenuhi dunia dengan keadilan, kesejahteraan, kebenaran dan petunjuk. Kami sungguh ingin menyaksikan saat Khilafah memandang awan lalu berkata, “Wahai awan, pergilah ke Timur dan ke Barat dan segala penjuru yang kamu sukai, niscaya kamu pasti akan menjumpaiku disana.”

Kami memimpikan suatu hari seperti harinya Shalahuddin al-Ayyubi menaklukan Yerussalem. Saat beliau dengan jiwa kepemimpinannya mampu untuk menyatukan umat Islam yang dahulunya tercerai berai menjadi sebuah kekuatan maha dahsyat nan kokoh yang tidak terkalahkan oleh pasukan salib waktu itu.

Kami benar-benar merindukan suatu hari saat Allah lewat tangan Sultan Muhammad Al-Fatih menundukkan Konstantinopel atau Istambul. Beliau berhak menyandang pujian Nabi dalam hadits yang terkenal:

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ اْلأَمِيرُ أَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Panglima perangnya adalah sebaik-baik panglima, dan pasukannya pun sebaik-baik pasukan. ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 4/335)

Kami menunggu hari semisal hari-hari itu dengan sangat cemas dan gelisah.

Sesungguhnya kemenangan Islam adalah harapan tertinggi yang menjadi cita-cita seseorang, supaya matanya menjadi sejuk di dunia karenanya.

Hari ini kita merasakan bahwa yang dimaksud dengan kebaikan di dunia yang termuat di dalam firman-Nya

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً

Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat. (al-Baqarah : 201)

Hanyasanya itu adalah kemenangan Islam dan dien ini ~sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama~. Sungguh, kebaikan yang tak tertandingi. Kebaikan yang menepis segala kelesuan, kegundahan, dan kesedihan, meski salah seorang dari kita mesti kehilangan keluarga, anak, harta, atau kedudukannya di jalan ini.

Kami benar-benar merindukan hari-hari semisal hari kala Allah memenangkan dien-Nya, memuliakan wali-wali-Nya, dan hizb-Nya melebihi kerinduan kami kepada istri-istri kami, anak-anak kami, bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, hal mana kami sudah tidak berjupa dengan mereka selama bertahun-tahun.

Kami benar-benar merindu sejuknya mata kami oleh hari semacam hari ‘Uqbah bin Nafi’, saat ia tegak di atas pelana kudanya, menceburkan kudanya di tepian Samudera Atlantik seraya berkata,”Demi Allah, sekiranya aku tahu bahwa di seberang sana ada daratan, niscaya aku akan berperang di sana di jalan Allah!”

Lalu ia menatap langit seraya berkata, “Wahai Rabbku, jikalau bukan karena lautan ini, niscaya aku akan ke seberang sebagai mujahid di jalanmu” (al-Kamil fit Tarikh, Ibnul Atsir 3/42)

Kami benar-benar menunggu hari-hari itu.

Adakah kalian memenuhinya?

Adakah kalian mengabulkannya?

Oleh : Ibnu Chaldun (Mahasiswa Teknik Nuklir 2008)

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin