Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Media
  • Buletin Shalahuddin

Enam Prinsip Pendidikan Karakter Islami

  • Buletin Shalahuddin, Media
  • 8 Maret 2013, 14.58
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

pendidikan

Karakter merupakan bagian tak terpisahkan dari individu. Erma Pawitasari, Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor seperti yang dilansir insistent.com menerangkan bahwa karakter identik dengan akhlaq, yakni kecenderungan jiwa untuk bersikap/bertindak secara otomatis. Karakter yang sesuai dengan ajaran Islam disebut akhlaqul karimah atau akhlaq mulia (Mohamed Ahmed Sherif, Ghazali’s Theory of Virtue, 1975). Untuk meraih karakter ini, ada dua jalan yang bisa dilakukan. Pertama, bawaan lahir sebagai karunia dari Allah SWT. Contoh dari kategori ini ialah akhlak para nabi. Kedua, hasil usaha melalui pendidikan dan penggemblengan jiwa (SM Ziauddin Alavi, Muslim Educational Thought in The Middle Ages, 1988).

Untuk menciptakan generasi yang memiliki karakter akhlaqul karimah, ada enam prinsip yang menjadi parameter pendidikan karakter yang baik. Keenam prinsip tersebut antara lain:

1. Menjadikan Allah Sebagai Tujuan

Berbeda dengan masyarakat sekuler yang mengimani “ide ketuhanan”, umat Islam mengimani Allah sebagai Tuhan yang wujud, sehingga ketaatan kepadaNya menjadi mutlak. Masyarakat sekuler tidak ambil pusing apakah yang diimani benar-benar wujud atau sekedar khayalan (Muhammad Ismail, Bunga Rampai Pemikiran Islam, 1993). Ide tersebut diimani karena memberikan pengaruh baik bagi manusia. Meski demikian, konsep tersebut tidak mampu menjelaskan keajaiban yang dialami Nabi Ibrahim ketika menerima wahyu untuk menyembelih putranya.

Islam, disisi lain, mengajarkan agama sebagai penuntun dunia menuju keridhaan Allah. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”[QS. al-Dzaariyaat 56]. Untuk mencapai keridhaan Allah inilah, manusia wajib menghiasi diri dengan akhlak mulia (Sherif, 1975).

2. Memperhatikan Perkembangan Akal Rasional

Akal merupakan modal utama untuk mencapai iman dan keridhaan Allah. Mustahil bagi manusia untuk meraih karakter yang mulia tanpa didasari pemahaman atas perilaku-perilaku yang ada dalam kehidupannya. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tariq ayat 5 (yang artinya): Maka hendaklah manusia memperhatikan (sehingga memikirkan konsekuensinya) dari apakah dia diciptakan?

Pada awal pendidikan, anak-anak memerlukan doktrinasi tentang perilaku yang baik, maupun yang buruk. Metode ini dipilih karena mereka belum mampu memahami alasan pelarangan atau perintah tesebut. Sejalan dengan perkembangan kognitif mereka, pendidikan karakter perlu memperhatikan alasan yang rasional. Rasulullah Saw sering melakukan dialog dengan para sahabatnya dalam rangka mengasah kemampuan akal mereka. Salah satunya tergambar dalam hadist berikut: “Apakah pendapat kalian, jika sebuah sungai berada di depan pintu salah satu dari kalian, sehingga ia mandi darinya sehari lima kali; apakah akan tersisa kotoran pada badannya?” Para sahabat menyahut, “Tidak sedikit pun kotoran tersisa pada badannya.” Nabi melanjutkan, “Demikianlah seperti shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan.” [HR. Muslim]

3. Memperhatikan Perkembangan Kecerdasan Emosi

Emosi merupakan karunia Allah SWT yang mempengaruhi manusia dalam perilakunya. Pendidikan karakter yang baik hendaknya memperhatikan pendidikan emosi, yakni bagaimana melatih emosi anak agar dapat berperilaku baik. Kemampuan kognitif tanpa didukung dengan kecerdasan emosi menyebabkan manusia bertindak diluar nilai-nilai akhlaq dan rasional. Rasulullah SAW mencontohkan pembangunan kecerdasan emosi saat seorang pemuda datang meminta ijin berzina. Beliau memberikan pertanyaan dan penjelasan yang menyentuh faktor emosinya, menuntunnya pada pemahaman bahwa apa yang dilakukannya akan menyakiti orang lain.

4. Praktik Melalui Keteladanan dan Pembiasaan

Manusia merupakan peniru ulung. Tidak mengherankan jika pendidikan karakter yang efektif selalu didasarkan pada keteladanan dan pembiasaan. Dalam mendidik karakter umat Islam, Rasulullah menempatkan dirinya sebagai suri tauladan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-ahzab ayat 21: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

5. Memperhatikan Pemenuhan Kebutuhan Hidup

Orang yang berkecukupan memiliki kecenderungan yang lebih kecil untuk melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu, Islam memerintahkan negara untuk menjamin kebutuhan pokok masyarakat. Rasulullah Muhammad Saw bersabda: “Barangsiapa mati meninggalkan harta, maka itu hak ahli warisnya. Dan barangsiapa mati meninggalkan keluarga yang memerlukan santunan, maka akulah penanggungnya.” (HR. Muslim). Dengan adanya jaminan atas kebutuhan dasar hidup, ummat dapat lebih terkondisikan untuk melakukan perilaku akhlaqul karimah.

6. Menempatkan Nilai Sesuai Prioritas

Kurang efektifnya pendidikan karakter sering disebabkan oleh perbedaan prioritas dalam memandang nilai. Dalam Islam, prioritas perbuatan dibagi menjadi wajib,sunnah, mubah, makruh, dan haram. Penilaian moralitas, sama halnya dengan perkara lain, juga didasarkan pada pembagian prioritas tersebut. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk mengetahui kedudukan tiap-tiap perbuatan sebelum mengajarkannya kepada murid-murid.

Demikian enam prinsip pendidikan karakter. Prinsip-prinsip tersebut perlu dipenuhi untuk menciptakan pendidikan karakter yang ideal dan sukses.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin