Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis
  • Catatan Shalahuddin

Secercah Cahaya dari Pagutan

  • Catatan Shalahuddin, Kabar JS
  • 6 Januari 2014, 07.55
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

anak pagutan

JSUGM – Ahad, 5 Januari 2014 Suasana baru yang dihadirkan oleh Jama’ah Shalahuddin UGM khususnya oleh Departemen Sosial Masyarakat. Pagi yang nampak cerah dihiasi dengan keceriaan oleh adik-adik dari Desa Pagutan, Kulonprogo, Jogjkarta. Sahabat-sahabat Shalahuddin dengan adik-adik Pagutan nampak membaur tidak ada sekat, mereka bersama-sama seolah seperti keluarga yang saling mengayomi.

Kegiatan Jalan-jalan adik-adik Pagutan membawa spirit tersendiri yang hendak ditanamkan. Sahabat Shalahuddin ingin memberikan sebuah motivasi yang dikemas dengan jalan-jalan dengan tujuan “Membangkitkan Semangat untuk Mewujudkan Cita-cita Anak-anak Pagutan”. Kegiatan ini merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan oleh sahabat Shalahuddin dengan harapan akan semakin massifnya kepedulian sahabat Shalahuddin kepada masyarakat, khususnya anak-anak yang merupakan aset baik bagi masyarakat luas, negara dan agama.

Kegiatan dilaksanakan di Kampus Gadjah Mada. Sahabat Shalahuddin beserta adik-adik Pagutan jalan-jalan di dalam Kampus Gadjah Mada, kemudian mengunjungi beberapa Fakultas yang ada di Universitas Gadjah Mada. Kemudian, mereka menuju sekitar Lembah UGM serta melakukan foto bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan sholat dzuhur berjamaah di Masjid Kampus UGM dan dilanjutkan dengan makan siang bersama, sahabat Shalahuddin dengan adik-adik Pagutan. Suasana makan siang bersama diiringi denga canda dan tawa.

Pasca makan siang bersama, sahabat Shalahuddin bergegas mengarahkan adik-adik Pagutan untuk segera bersiap-siap menuju Taman Pintar Jogjakarta. Adik-adik Pagutan menggunakan mobil Elf bersama-sama, kemudian sahabat Shalahuddin menggunakan sepeda motor. Sahabat Shalahuddin sengaja menjadikan Taman Pintar Jogjakarta sebagai tujuan bagi adik-adik Pagutan dengan harapan adik-adik Pagutan menemukan berbagai macam wahana edukasi. Wahana edukasi tersebut nantinya akan menstimulus kreativitas adik-adik Pagutan dengan harapan memberikan pengaruh pada meningkatnya semangat dalam mewujudkan cita-cita mereka.

Setelah dari Taman Pintar Jogjakarta, adik-adik Pagutan akan langsung kembali ke Desa Pagutan, Kulonprogo. Inti kegiatan ini adalah sebagai wadah bagi sahabat Shalahuddin untuk mengembangkan kreativitasnya dalam megembangkan kemampuan dalam membina dan salah satu cara agar semakin peka sosial. Kemudian, bagi adik-adik Pagutan sebagai wadah untuk menggali semangat mereka, serta sebagai salah satu cara untuk membuka wawasan mereka. Kelak silaturahmi yang terjalin dan kegiatan-kegiatan yang diadakan akan membawa kebermanfaatan bersama-sama. (Wisnu/JS)

 

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada