Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Kabar Terkini
  • Kabar JS

Islamisasi Pengetahuan : Sebuah Pengantar dari Ismail Raji Al Faruqi

  • Kabar JS
  • 10 April 2015, 10.38
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

 

Islamisasi Pengetahuan : Sebuah Pengantar dari Ismail Raji Al Faruqi

Menurut Al-Faruqi, fakta bahwa apa yang dicapai sains modern, dalam berbagai aspeknya, merupakan sesuatu yang sangat menakjubkan. Namun, kemajuan tersebut ternyata juga memberikan dampak lain yang tidak kalah mengkhawatirkannya. Menurut Al-Faruqi,1 akibat dari paradigma yang sekuler, pengetahuan modern menjadi kering, bahkan terpisah dari nilai-nilai tauhid: suatu prinsip global yang mencakup lima kesatuan, yaitu kesatuan Tuhan, kesatuan alam, kesatuan kebenaran, kesatuan hidup, dan kesatuan umat manusia. Jelasnya, sains modern telah lepas bahkan melepaskan diri dari nilai-nilai teologis atau tauhid.
Dalam penjelasannya, Al-Faruqi menekankan bahwasanya perceraian atau pelepasan diri sains modern dari nilai-nilai teologis atau tauhid telah memberikan dampak negatif. Pertama, dalam aplikasinya, sains modern melihat alam beserta hokum dan polanya, termasuk manusia sendiri, hanya sebagai sesuatu yang bersifat material dan incidental yang eksis tanpa intervensi Tuhan. Kedua, secara metodologis, sains modern ini, tidak terkecuali ilmu-ilmu sosialnya, menjadi sulit diterapkan untuk memahami realitas social masyarakat muslim yang mempunyai pandangan hidup yang jelas berbeda dari pandangan hidup masyarakat barat.2

 

Sementara di sisi lain, keilmuan islam yang dianggap bersentuhan dengan nilai-nilai teologis atau tauhid dipandang terlalu berorientasi pada pada religiusitas dan spiritualitas belaka tanpa memedulikan betapa pentingnya ilmu-ilmu social dan ilmu kealaman yang dianggap sekuler. Dalam konsep islamisasi yang digagas oleh Al-Faruqi, prinsip dasar islamisasi ilmu yang digagas ialah meletakkan fondasi epistemologinya pada prinsip tauhid yang terdiri dari lima macam kesatuan.

  1. Kesatuan Tuhan, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, yang menciptakan dan memelihara alam semesta. Implikasinya, berkaitan dengan pengetahuan adalah bahwa sebuah pengetahuan bukan untuk menerangkan ataupun memahami realitas sebagai entitas yang terpisah dari realitas absolut, yaitu Tuhan. Oleh karena itu, islamisasi ilmu mengarahkan pengetahuan pada kondisi analisis dan sintesis tentang hubungan realitas yang dikaji dengan hukum Tuhan (divine pattern).3

 

  1. Kesatuan ciptaan, bahwa semesta yang ada ini baik yang material, psikis, dan spasial (ruang), biologis, sosial, maupun estetis adalah kesatuan yang integral. Masing-masing saling terkait dan saling menyempurnakan dalam ketentuan hukum alam (sunnatullah) untuk mencapai tujuan akhir tertinggi, Tuhan. Dan bersamaan dengan itu, Dia juga menundukkan alam semesta untuk manusia sehingga manusia mampu mengolah dan memanfaatkannya demi kesejahteraan umat.4

 

  1. Kesatuan kebenaran dan pengetahuan, bahwa kebenaran ialah bersumber pada realitas, dan jika semua realitas berasal dari sumber yang sama, Tuhan, kebenaran tidak mungkin lebih dari satu. Apa yang disampaikan lewat wahyu tidak mungkin berbeda apalagi bertentangan dengan realitas yang ada, karena Dia-lah yang menciptakan keduanya.

 

  1. Kesatuan hidup. Menurut Al-Faruqi, kehendaka Tuhan terdiri atas dua macam, yaitu berupa hukum alam (sunnatullah) dan berupa hukum moral yang harus dipatuhi, agama. Kedua hukum ini memiliki konsekuensi bahwasanya tidak ada pemisahan antara yang bersifat spiritual dan material, antara jasmani dan ruhani.5

 

  1. Kesatuan umat manusia. Menurut Al-Faruqi6 , tata sosial islam adalah universal, mencakup seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Kelompok muslim tidak disebut bangsa, suku, atau kaum, tetapi umat. Pengertian umat bersifat trans-lokal dan tidak ditentukan oleh pertimbangan geografis, ekologis, etnis, warna kulit, kultur dan lainnya, tetapi hanya dilihat dari sisi taqwanya.

 

Refleksi

Islamisasi ilmu tentu merupakan sebuah desain besar peradaban islam modern dalam menjawab tantangan sekularisasi ilmu yang terjadi disemua lini keilmuan modern hingga detik ini yang terjadi secara terus-menerus dan berkembang. Wajah peradaban islam sangat menonjol dalam bidang-bidang keilmuan yang mapan yang dibangun oleh semangat keberhutangan seorang hamba kepada Sang Pencipta yang memberikan hidup, kekayaan alam, pikiran, dan banyak lainnya. Tentu wajah peradaban islam yang ingin dikembalikan atau dibangun kembali di tengah mapannya konstruksi keilmuan modern sekuler ala barat memerlukan usaha yang keras serta kehati-hatian dalam menyelesaikan itu semua. Peradaban islam dan ilmunya bukanlah peradaban milik umat islam semata, bukanlah monopoli umatnya Muhammad SAW saja, melainkan adalah sebuah bangunan besar (great world) yang didalamnya bernaung milyaran umat serta keseimbangan alam yang ada didalamnya. Oleh karena itu, proyek islamisasi ilmu merupakan sebuah jawaban atas persoalan pelik dan krisisnya ilmu modern sekuler saat ini yang haus dan rakus, sekaligus menjadi tantangan besar bagi cendekiawan (pemikir) di seluruh dunia islam untuk membawa tatanan dunia global yang sejahtera di bawah bangunan ilmu yang benar-benar sesuai dengan maqamnya.

*Najmi Wahyughifary

Daftar Pustaka :
Al Faruqi, Ismael R. 1955. Islamisasi Pengetahuan. Terj. Anas Mahyudin. Bandung: Pustaka.
Al Faruqi, Ismael R. dan Louis Lamya Al-Faruqi. 1966. Tauhid Dasar Peradaban Islam. Dalam jurnal Ulumul Qur’an. No. 1/VII.
Soleh, Khudori. 2013. Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin