Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • JS Menulis
  • Catatan Shalahuddin

Vektor Kehidupan oleh Yarabisa Yanuar (DPS)

  • Catatan Shalahuddin, JS Menulis
  • 2 Mei 2015, 07.50
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Vektor Kehidupan

Oleh Yarabisa Yanuar

Departemen Pelayanan dan Syiar

 

Grafik vektor gaya menunjukan beberapa gaya yang bekerja terhadap suatu titik tertentu dan akan menghasilkan sebuah resultan gaya, yaitu jumlah dari berbagai gaya yang bekerja pada titik tadi. Vektor adalah besaran yang memiliki arah, sehingga titik tersebut akan bergerak sesuai resultan gaya yang bekerja pada arah tertentu pula.

 

Perhatikan bahwa sesungguhnya yang terjadi pada titik tersebut sama dengan yang terjadi pada kehidupan manusia. Jika dalam grafik vektor terdiri dari sumbu x dan sumbu y, maka vektor kehidupan juga terdiri dari 2 sumbu, yaitu sumbu x sebagai fungsi waktu, dan sumbu y sebagai besarnya usaha yang seorang muslim lakukan. Besarnya usaha terbagi menjadi usaha positif (amal sholih) dan usaha negatif (perbuatan dosa) sebagaimana sumbu y terdiri dari y positif dan y negatif, tetapi sumbu x negatif tidak digunakan karena dalam kehidupan, waktu tidak pernah bernilai negatif.

 

Sebagaimana dalam sebuah grafik yang terdiri dari 4 kuadran, kehidupan juga memiliki kuadran, tetapi hanya berjumlah 2 buah. Grafik vektor kehidupan adalah usaha dan waktu, dan kehidupan hanya memiliki 2 tempat akhir. Bagi seorang muslim tentu tempat tinggal terakhir manusia adalah surga dan neraka. Yang perlu ditekankan adalah berapa batas waktunya?

 

Banyak manusia, bahkan seorang muslim seolah tertutup matanya mengenai kapan waktu kehidupan ini berakhir. Dan kita semua tahu bahwa setelah kehidupan di dunia ada kehidupan akhirat dengan waktu tak hingga. Tentu jika dibandingkan dengan kehidupan di dunia perbandingannya sangat jauh. Dunia adalah setitik waktu dan akhirat adalah waktu yang tak hingga.

 

Di sinilah grafik vektor akan membuka mata kita semua bahwa waktu kita di dunia ini adalah amat sedikit. Selain itu ada dua kuadran yang akan manusia tempati nantinya, kuadran surga atau kuadran neraka.

 

Berikut gambar grafik vektor kehidupan:

 

 

Selanjutnya resultan dalam sebuah vektor gaya akan ditentukan oleh besarnya gaya dan sudut yang dibentuk oleh vektor gaya terhadap sumbu x atau y sehingga resultan tersebut akan mengantarkan titik kecil tadi ke suatu kuadran. Begitu juga dalam vektor kehidupan, besarnya usaha positif dan negatif akan menentukan besar sudut terhadap fungsi waktu. Usaha tersebut akan menghasilkan resultan yang menghantarkan setitik kehidupan di dunia ke kuadran surga atau neraka.

 

Poin penting dalam vektor kehidupan adalah besar dan arah gaya vektor kehidupan yang hanya dapat ditentukan saat berada di titik kecil kehidupan dunia. Dari setitik vektor gaya dalam kehidupan itulah akan menentukan jalannya resultan kehidupan manusia setelah titik kecil di dunia yang berlangsung selama waktu t = tak hingga.  Demikianlah vektor kehidupan menjelaskan bahwasannya besar dan arah usaha dalam waktu yang amat singkat di kehidupan dunia akan menentukan tempat akhir manusia selama t = tak hingga, yakni masa kehidupan akhirat. Di manakah kita nanti di masa t= tak hingga, kuadran surga ataukah kuadran neraka?

Allah mengingatkan orang beriman untuk mencari bekal akhirat dalam QS Al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Mencari bekal adalah menghasilkan sebesar-besarnya usaha positif saat berada di titik kehidupan dunia sehingga vektor kehidupan akan berjalan ke kuadran surga. Jika terlibat usaha-usaha negatif (perbuatan-perbuatan dosa) tentunya akan menurunkan besar sudut usaha positif terhadap fungsi waktu sehingga ketika usaha negatif tersebut lebih besar akan menghantarkan ke kuadran neraka. Dengan catatan bahwa tauhid adalah penentu yang lebih utama, apakah grafik kehidupan kita di masa kehidupan akhirat akan selamanya berada di kuadran neraka atau tidak?

 

            “… dan sebaik-baik bekal adalah taqwa…” [QS Al-Baqarah :197].

Sebaik baiknya usaha adalah taqwa, dalam setitik kehidupan dunia ini mari kita terus tingkatkan usaha positif kita sebagai penentu perjalanan kehidupan akhirat kita nanti dengan waktu = tak hingga.

 

Wallahu’alam.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin