Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Kajian

Review i-Lecture Ahad Pagi (27 Sep 2015) | Tafsir Qur’an

  • Kajian, Tafsir Qur'an
  • 28 September 2015, 13.59
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

i-Lecture Ahad Pagi | Tafsir Qur’an

Ust. Ridwan Hamidi

27 September 2015

 

As Shoff-5

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

 

Tafsir As Sa’di: Mengapa kalian menyakitiku -dengan ucapan dan dengan perbuatan- sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?. Pengikut nabi musa yang seharusnya mengikutinya justru melakukan pelecehan yang luar biasa kepada Nabi Musa sehingga menyakiti beliau sementara hak semua rasul adalah di hormati, dimuliakan, perintahnya dikerjakan, segera menaatinya. Menyakiti orang biasa saja sudah dosa, apalagi Nabi? Bahkan Rasul yang termasuk golongan ulul ‘azmi, termasuk puncak perbuatan dosa dan sangat tercela.

 

Tafsir Ibnu Katsir: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maksudnya, mengapa kalian selalu menyakitiku padahal kalian tahu bahwa aku telah berkata jujur tentang risalah yang aku bawa kepada kalian. Nabi ingin sekali umatnya mendapatkan kebaikan. Ini merupakan hiburan bagi Rasulullah, Muhammad SAW atas apa yang menimpa kalian dari orang-orang kafir di antara kaumnya ataupun yang lainnya. Dalam ayat ini juga terdapat perintah kepada rasulullah untuk bersabar dan larangan terhadap orang-orang beriman untuk menyakiti Nabi mereka. Sebagaimana difirmankan oleh Allah:

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”

QS Al-Ahzab : 69

 

Dan seluruh nabi dan rasul adalah yang paling keras ujiannya, dicela, dicaci maki, fitnah, pelecehan dsb. Ini dapat menjadi penyemangat bagi para da’i untuk terus bersabar dalam berdakwah, karena memang apa yang mereka hadapi belum ada apa-apanya disbanding ujian dakwah yang dihadapi rasulullah SAW.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin