Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Opini

Transisi Demografi, Pendidikan dan HAM

  • Opini
  • 23 Maret 2017, 03.01
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

oleh : Risyad Muhammad R (Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin)

Perubahan struktur kependudukan semakin lama kian tak terkendali. Pasalnya, seperti yang disebutkan oleh Om Blaker (1947) bahwa ada lima tahapan transisi demografi yang akan terjadi dalam sebuah negara/wilayah, posisi Indonesia sudah berada pada tahap tiga. Dalam tahap ini, angka kelahiran dan kematian di Indonesia sudah cenderung menurun. Yogyakarta adalah salah satu kota yg dapat dijadikan contoh dengan angka TFR yang rendah yakni antara 1,6 dan 1,8 saja.

Dari masa ke masa, kebijakan pemerintah memang memiliki kekuatan dalam mengontrol stabilitas angka kelahiran dan perkembangan kependudukan. Dampak yang akan terjadi nantinya justru berkebalikan dengan usaha pemerintah yang pernah dilakukan. Apakah masyarakat sadar akan proyeksi masalah yang mungkin terjadi ?

Kata kedua dalam judul tulisan ini adalah pendidikan. Mengapa pendidikan? Orang berpendidikan sering dikaitkan dengan pangkal yang mengarah ke jarum kesadaran. Ketika menyoroti masalah kelahiran, terucaplah kata ‘wanita’. Kesadaran seseorang dalam berpendidikan atau berkarir demi kemapanan masa depan sudah dimiliki oleh banyak wanita di Indonesia pada era modern ini. Ketika dahulu wanita hanya sebagai ‘konco wingking‘, sekarang, tak lagi mengherankan kursi pemerintahan, manajer perusahaan, dosen universitas ramai ditempati oleh para wanita. Tak beda dengan pria, kesadaran berpendidikan pada wanita pun membuat perubahan kultur. Apa salah satu dampak besar pada masalah di atas? Tak lain adalah penundaan usia pernikahan yang semakin marak.

Kesadaran masyarakat akan pendidikan menimbulkan perencanaan dengan konsep berpikir jauh kedepan. Masyarakat semakin menyadari angka kemiskinan yang selalu meningkat. Mudah ditemui banyak keluarga dalam kategori miskin yang memiliki banyak anak. Di sisi lain, orang yang katanya ‘berpendidikan’ atau berkesempatan melanjutkan sekolahnya hingga jenjang yang tinggi memilih untuk meniti karirnya dahulu hingga mapan. Oleh karena itu, kemunduran usia perkawinan tak dapat terelakkan.

Kondisi kemunduran usia perkawinan telah menjelma sebagai budaya baru yang disebabkan oleh transisi demografi yang terjadi. Terkadang, dapat disadari bahwa hal kontradiktif dilakukan oleh orang-orang berpendidikan. Hal-hal itu tentu tidak memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Kembali menilik tahapan yang dipaparkan oleh Om Blaker di awal tadi. Seharusnya, kondisi tersebut menjadi refleksi bagi kelompok yang mengklaim dirinya sebagai kaum berpendidikan dan terpelajar, bukan justru mengilhami sikap pragmatis, “Ya, saya sadar. Ya sudah, memang begini adanya”. Sungguh hal yang menggelikan.

Lalu, apakah boleh ada sedikit asumsi di sini ? Menjamurnya orang-orang berpendidikan dan sadar akan masa depan membuahkan penundaaan usia perkawinan. Tak lain dan tak bukan didalangi oleh motif usaha demi kepastian kemapanan di masa depan.

Penundaan usia perkawinan jelas berpengaruh kepada variabel selanjutnya, yakni kelahiran. Banyak faktor yang berdampak pada sedikitnya kelahiran. Salah satunya adalah umur fisik yang terlanjur tua sehingga dapat membahayakan kondisi kesehatan. Parahnya, ada yang sampai mengeluarkan statement, “Banyak anak itu menyusahkan, makin banyak uang keluar, ribet kalau berpergian” dan seterusnya. Kondisi inilah penyebab berkelanjutannya penurunan angka fertilitas yang terjadi di Indonesia dan beberapa negara lain.

Masuk kata ketiga menyangkut persoalan HAM. Apakah kebijakan pembatasan kelahiran bagi keluarga tergolong miskin bisa dilakukan pemerintah ? Apakah kebijakan batas minimal harus mempunyai tiga sampai lima anak yang ditujukan kepada keluarga menengah ke atas terlepas dari masalah-masalah kelahiran bisa diterapkan ? Dan apakah dua pertanyaan tadi merupakan pembahasan yang sudah mengarah ke pelanggaran HAM ? Dalam hal ini, peran kebijakan pemerintah untuk mengatasi dampak bonus demografi sangatlah besar, yakni terkait solusi dari angka usia non produktif/tua yang jauh lebih tinggi dibanding usia produktif.

Bagaimana islam menjawab sekian banyak permasalahan dengan berlandaskan pedoman yang sudah pasti kita yakini?

Alqur’an adalah sumber solusi, mari kita berefleksi. Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada