Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis
  • Hikmah

Kita Masih Teman, Kan?

  • Hikmah
  • 8 Juni 2018, 21.46
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Oleh: Fachrul Budi Prayoga (Fakultas Teknik 2016)

Aku sadar, di sela-sela aku berusaha keras mendapatkan IP terbaikku tiap semester. Berusaha memperjuangkan yang terbaik agar orang tuaku tersenyum. Seringkali, dhuha saat pagi terlewat. Dzikir setelah sholat kadang kutunda. Dimana-mana, ku hanya memikirkan bagaimana tepat waktu untuk ngambis, tapi sering lupa dengan tepat sasaran saat mati nanti.

Aku sadar, di sela-sela event yang kudaftar. Aku masih ingat, mencari relasi dan pengalaman, juga bahkan untuk berkontribusi besar untuk perkumpulan mahasiswa di kampus, menjadi alasanku mengambil semua itu. Tapi seringkali, aku lupa bahwa aku juga semestinya berkontribusi untuk aku juga. Diri ini butuh asupan ibadah, yang mana sering terlambat karena rapat. Yang mana seringkali tidak senyaman bercengkrama dengan Rabb, saat aku tidak sibuk.

Aku juga sadar, di sela-sela diri ini menempa hiburan. Kenapa menempa? Karena aku sering mati-matian memperjuangkan hiburan, tetapi seadanya saat berkomunikasi dengan Rabbku. Saat ingin hiburan, tidak lupa charger kucolok, lalu bermain gadget hingga 4 jam. Tetapi saat isya datang, imam yang membaca surat setelah Al-Fatihah dengan surat yang kurang familiar dengan durasi hanya 4 menit saja, sudah tidak sabar.

Tetapi, untungnya aku berteman denganmu. Aku masih ingat, saat Allah menakdirkan kita bertemu. Aku tidak tahu akan jadi apa kamu, tapi ternyata Allah membuatmu menjadi temanku dalam kebaikan.

Terima kasih banyak, aku masih ingat ketika engkau mengajakku menghentikan sejenak ngambisku saat adzan berkumandang. Mungkin tidak besar, bagimu hanya sepotong kuku yang terlupakan. Namun bisa saja, aku bercerita kepada Rabbku saat nanti di Yaumil Hisab. Engkau pernah menolongku menjadi pribadi yang mendirikan sholat 5 waktu.

Terima kasih banyak juga, mau mengajakku dalam kebaikan saat aku sibuk ngevent. Kamu yang pas itu jadi koorku, memilih menyelenggarakan rapat saat usai sholat 5 waktu. Membuatku mulai membiasakan saat aku menjadi koor di event yang lain, untuk menyelenggarakan rapat di jam setelah sholat. Juga remeh sekali, aku tahu. Tapi Allah membalas kebaikan 10x lipat, beda dengan membalas kejahatan dengan 1x saja.

Izinkan aku berterima kasih sekali lagi, saat kamu meluangkan waktu ketika aku lalai menghibur diri ria. Aku tidak sepeka dirimu saat diri ini memang butuh bercengkrama kepada Rabb. Aku tidak peka, bahwa ketika memang refreshing yang diperlukan, hal pertama yang harus ku lakukan adalah mengajak Rabbku bercengkrama

Teman, memang saat ini, diri ini melenggang bebas menuju arah yang aku buat, begitu juga dirimu. Kita sibuk. Sama-sama sibuk. Bedanya, terkadang aku lupa menghadiri majelis ilmu. Terkadang aku lupa, sholat malam yang seharusnya tidak terlewat.

Engkau masih temanku sekarang. Bolehkah aku meminta satu hal? Saat engkau tidak menjumpai aku di surga nanti… Tolong bilang ke Allah, kalau aku pernah menjadi temanmu.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada