Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • JS Menulis
  • Cerpen

Dunia Shafeera Chapter 3: Sejuta Luka

  • Cerpen
  • 26 Oktober 2018, 20.36
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM
  • 2

Dunia Shafeera: Chapter 3

Semenjak hari itu, suasana di dalam rumah mulai berubah. Satu tahun berlalu dengan begitu lama dan menjenuhkan sejak pengungkapan isi hatiku kala itu. Semakin hari, semakin banyak ketidaksesuaian antara diriku dan dirinya yang semakin terasa. Pola pikirku dan pola pikirnya bagaikan dua kutub magnet identik yang tidak akan pernah bertemu. Basa-basi yang sederhana tetapi esensial dalam menjaga kelanggengan hubungan menjadi semakin langka di bawah atap kami. Ini adalah sesuatu yang meresahkan, dan walaupun sebenarnya ada segelintir rasa di dalam diriku yang mendorongku untuk pergi saja dari kediaman ini, aku tidak ingin melepas janji suci di hadapan Allah yang telah terikrar dengan begitu saja.

Siang itu aku sedang memilah-milah baju kotor yang hendak aku cuci. Seperti biasa, aku merogoh ke dalam tiap saku pakaian yang ada untuk mencegah kemungkinan tercucinya hal penting yang barangkali lupa untuk dikeluarkan. Saat itu, tibalah aku ke salah satu kemeja yang biasa suamiku gunakan untuk bekerja. Kurogoh saku yang berada di bagian depannya, dan kutemukan uang sebesar Rp5000,00 serta secarik kertas. Untuk memastikan bahwa itu adalah hal yang penting atau tidak, aku pun membukanya.

Siang itu langit cerah, tidak ada tanda-tanda hujan. Tapi sungguh hal itu berbeda dengan suasana hatiku. Itulah yang aku rasakan seketika saat aku membaca kalimat-kalimat yang tertera pada kertas tersebut. Kalimat-kalimat yang menyampaikan ekspresi terima kasih atas makan malamnya. Kalimat saya menyayangi Anda. Kalimat saya ingin bertemu dengan Anda lagi. Tulisannya jelas menunjukkan ciri tulisan seorang perempuan. Astaghfirullah, apa ini?

Aku pun bergegas ke dalam kamar untuk sekedar mencari ketenangan. Baju kotor yang sebenarnya sudah menumpuk kini menjadi perkara yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengetahuan yang baru saja datang kepadaku. Otakku mulai menemukan hubungan-hubungan antara perilaku suamiku dengan secarik kertas tersebut. Akhir-akhir ini ia lebih sering pulang lebih malam daripada biasanya… benarkah ini adalah penyebabnya?

Sakit. Marah. Bingung. Itulah semua yang kurasakan saat ini. Setelah jerih payah dan komitmen yang aku kerahkan demi menjaga rumah tangga ini, mengapa buah yang aku petik begitu busuk? Ayah, Ibu… sebegitu tegakah kalian? Menyerahkanku kepada lelaki yang tidak mengizinkan aku meraih mimpi, yang sebenarnya sama sekali tidak sejalan denganku. Inikah aku? Seorang anak perempuan yang dinikahkan sebagai balasan jasa? Tidakkah aku lebih bernilai daripada ini? Aku tidak ingin menapaki jalan yang terjal ini lagi; aku lelah. Ini bukan dan tidak akan pernah menjadi keinginanku. Namun begitu, kenyataan sedang berjalan, dan inilah adanya. Aku adalah istri yang sedang diselingkuhi oleh lelaki yang tidak pernah menjadi pilihannya…

Tiba-tiba muncul secara terang kenangan-kenangan itu di dalam imaji benakku. Kasih Ayah dan Ibu yang akan selalu membekas, yang tidak akan pernah terbalas. Shaf… lupakah kamu akan semua hal itu? Tidakkah kamu memikirkan perasaan mereka? Kemudian, apakah ini adalah salah mereka? Yang jelas, sepertinya tidak sebaiknya aku menyerah begitu saja–lari tanpa alasan yang jelas secara tiba-tiba, mengecewakan mereka yang telah berharap begitu besar padaku.

Malam itu, aku menangis. Tak kuasa kutahan air mataku yang dari tadi siang kubendung dengan sekuat tenaga. Tidak ada sepotong kata pun yang tertukar semenjak ia sampai di rumah, dan kini satu-satunya komunikasi yang jelas terjadi di antara kita muncul melalui air mata yang kian mengalir di wajahku. “Ada apa, Shafeera? Mengapa kamu menangis?” Akhirnya, suaranya. Entah apa ekspresinya, semua telah kabur dari penglihatan.

“Mas… apakah Mas benci dengan Shafeera?” Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa ragu, tanpa takut. Hanya kesedihan dan kebingungan akan realita. Dia telah berada di sampingku di atas ranjang, tepat saat kami berdua hendak tidur, di sinilah hatiku memutuskan untuk menumpahkan segala rasa. Mengharap semacam iba.

“Aku menemukan sesuatu yang semestinya tidak aku temukan, Mas,” ungkapku, “secarik kertas di kemeja Mas. Maaf. Aku hanya takut, aku tidak mau membuat rusak melalui cucian sesuatu yang berharga. Namun malah aku temukan pesan sayang dari…” Aku tidak berkuasa untuk mengucapkan kata-kata seorang perempuan. Walaupun aku tidak memilih suamiku, tetap saja aku adalah istrinya yang lebih berhak akan kasih sayang itu.

Tidak ada respon. Namun semua yang terbendung sekian lama kini mengalir deras, “Mas, tidak adakah rasa terima kasih Mas kepadaku? Aku yang selama ini membersihkan rumah, memastikan semua tuntas…  semua agar Mas senang dengan Shafeera. Namun, inikah balasan Mas akan semua itu? Mas tidak pernah mengacuhkanku, tidak pernah bertanya perihalku. Lalu sekarang, ini? Tidak ada perempuan yang suka diduakan, Mas!” Tangisku semakin jadi. Tidak kusangka, tiba-tiba ia menamparku dengan keras. Di atas ranjang yang semestinya mendekatkan kita; di bawah atap yang semestinya menjadi sarana ketenangan, ia memukulku.

“Sudah, Shafeera. Semestinya kamulah yang berterima kasih denganku. Apakah kamu benar-benar tidak bisa membayangkan rasa lelah yang setiap hari aku hadapi? Semua itu aku jalani untuk rumah tangga kita. Berhentilah bersikap seperti korban, karena di sinilah aku yang berkorban, bukan kamu!”

Aku pun berkorban, Mas. Mengorbankan perasaanku, idealismeku. Namun sia-sia rupanya. Aku sedih, aku marah; tetapi aku tidak tahu kepada siapa sebenarnya aku merasa seperti ini. Apakah kepada Ayah-Ibu yang mengawali semua ini? Kepada kedua mertuaku? Kepada suamiku? Ataukah, aku kesal dengan diriku sendiri? Ah, aku tidak tahu secara pasti. Yang pasti, malam ini aku tidak akan tidur dengan nyaman. Sejuta luka telah terlanjur merajam dalam hati dan batinku, luka yang entah akan sembuh atau tidak.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Komentar (2)

  1. wahyu sri mulyani 7 tahun lalu

    Yang salah siapa ya?
    hmmm…..

    Reply
  2. Nadya Hafidzah 7 tahun lalu

    Mengharukan, dan menginspirasi ?

    Reply

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin