Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • JS Menulis

Diskursus ISIS di Era Demokrasi

  • JS Menulis, Kirim Tulisan, Opini
  • 17 Februari 2020, 20.05
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Oleh: Yusufshid

Ada WNI yang gabung ISIS. Mereka membakar paspornya. Tapi kemudian mereka bertaubat. Mereka ingin kembali ke Indonesia. Negara bukan tuhan yang bisa mengetahui isi hati manusia. Yang Negara harus lakukan adalah berusaha memastikan (pertaubatan)-nya. Kemudian memberikan hak-hak warga negara seadil-adilnya.

Seharusnya, sikap Negara kepada Rakyat itu sama seperti sikap Ibu kepada Anaknya. Menyayangi semuanya, tanpa membeda-bedakan.Namun, wajar jika ada sebagian warga Indonesia menolak pemulangan WNI Eks ISIS ke tanah airnya. Hal itu sebagaimana seorang anak protes ke Ibunya, menolak saudaranya yang nakal pulang ke rumah. Anak itu menolak saudaranya pulang karena, pertama dia takut dinakali oleh saudaranya, kedua karena dia ingin Ibunya memberikan reward kepada dirinya yang taat, dan menghukum saudaranya yang nakal.Namun, wajarnya seorang Ibu, ia tetap ingin seluruh anaknya berkumpul di rumah. Ibu yang bijak pasti akan memulangkan anaknya, membinanya agar menjadi baik dan menyayangi saudaranya. Ibu yang bijak juga pasti berusaha memahamkan anaknya yang penurut. Bahwa orang yang nakal itu juga saudaranya. Ibu sayang semuanya. Ibunya hanya mau berusaha bersikap adil.  Tidak membedakan satu sama lain.

Negara wajib mencerdaskan seluruh putra putri bangsa. Negara juga wajib melindungi segenap tumpah darah rakyat Indonesia. Oleh karenanya, dalam negara demokrasi tidak mengenal istilah pemenjaraan dan penjeraan. Yang ada rehabilitasi dan penyadaran. Konsep ini yang sulit dipahami oleh beberapa orang.Konsep pemenjaraan dan penjeraan itu warisan kolonialisme. Di antara bagian dari perjuangan kemerdekaan adalah memerdekakan cara berpikir masyarakat.

Konsep penjajahan itu kalau ada inlander taat diemong. Kalau ada inlander ‘nakal’ dihukum. Alhamdulillah, Indonesia secara de jure menggunakan konsep rehabilitasi, penyadaran dan pembinaan. Adanya Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) bertujuan untuk itu. Meskipun secara de facto masih ada praktik pemenjaraan dan penjeraan. Tapi Insyaa Allah, kita optimis Indonesia ke depan bisa lebih baik lagi. Pun begitu, bagi WNI Eks ISIS yang (seharusnya) dipulangkan negara. Mereka seharusnya direhabilitasi dan disadarkan. Dibina terlebih dahulu oleh negara, untuk memastikan mereka sudah benar-benar sadar dan mampu bermasyarakat kembali dengan warga lainnya.

Beberapa orang berpikir, menyadarkan kembali Eks ISIS merupakan sesuatu yang mustahil. Pun Al-Qaeda. Mereka lupa bahwa ada peran geopolitik dunia yang membidaninya lahir. Ada usaha memojokkan Islam. Ada usaha mempertahankan status quo sebagai ‘polisi dunia’. Ada pula usaha mempertahankan bisnis persenjataan.Sebagaimana pemikiran dan organisasi ‘radikal’ bisa diciptakan, mereka juga bisa ditangkal dan disadarkan. Butuh pendekatan dengan dasar ‘dalil-dalil’ Islami untuk moderasi mereka. Juga butuh pendekatan scientific secara sosiologi untuk membumikannya. Itu semua bisa dilakukan alih-alih deradikalisasi dengan represi yang justru kontra produktif dengan tujuan aslinya.

ISIS dan Al-Qaeda yang identik dengan kekerasan, merupakan citra dari peradaban di awal-awal kemunculan Islam. Lebih dari setengah pasal-pasal konstitusi Piagam Madinah bernada menjamin stabilitas Madinah dari pertumpahan darah. Dan itulah citra peradaban masa itu, yaitu pembunuhan dan peperangan yang dianggap ‘lumrah’.

Pembunuhan, peperangan dan penaklukan dianggap ‘lumrah’ oleh peradaban manusia pada masa itu. Dan Islam hadir dengan perdamaian dan mewujudkannya. Adapun penaklukan dengan ‘pedang’ oleh Islam sejatinya adalah usaha mewujudkan perdamaian guna melawan kezaliman yang lebih kejam. Maka sepatutnya penaklukan itu lebih pantas disebut sebagai ‘pembebasan’.

Peradaban bergulir. Zaman berubah. Dulu, kalangan militer cenderung lebih berkuasa atas kalangan lainnya. Kini kalangan pemodal yang cenderung berkuasa. Kita sedang menuju kalangan intelektual yang berkuasa. Ketika kekuatan fisik bertemu, terjadilah peperangan. Ketika kekuatan modal bertemu, terjadilah transaksi. Ketika kekuatan pikiran bertemu, terjadilah musyawarah. Dengan iklim politik yang demokratis, musyawarah tersebut dapat menelurkan konstitusi yang menjadi dasar berdirinya sebuah negara. Sebagaimana Piagam Madinah yang dicanangkan Rasulullah SAW dan diterima oleh seluruh penduduk Madinah termasuk kelompok-kelompok Yahudi. Piagam Madinah tersebut banyak menjadi rujukan konstitusionalisme pada era modern.

Ilmu pengetahuan semakin berkembang. Kesadaran manusia akan hak-hak asasinya semakin tinggi. Itulah yang membuat peradaban semakin maju. Isi-isi konstitusi pun berubah seiring berkembangnya waktu. Tema-tema kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, hingga kebebasan berpendapat menjadi ‘viral’ di konstitusi negara-negara modern.

Kesimpulan

ISIS yang dicitrakan dengan kekerasan sebenarnya adalah citra dari peradaban lama ketika konstitusi belum lahir, bukan citra Islam. Justru Islam hadir dengan damai dan mewujudkan perdamaian. Diperlukan pemahaman yang mendalam terkait maqosidusy syariah, serta pembacaan penuh kesadaran terkait konteks zaman untuk menelurkan konstitusi yang sesuai dengan tujuan Rasulullah diutus, rahmatan lil ‘alamin. [ ]

Tags: ISIS Keadilan

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada