Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Kajian

Rumah Aisyah 2.5: Wanita Muslimah Bersama Kedua Orang Tuanya

  • Kajian, Kajian, Kajian Kamis Sore, Women Institute Indonesia
  • 15 Desember 2020, 10.00
  • Oleh :
Rumah Aisyah Seri 2 - Be an Ideal Muslimah - Fathiah Islam Abadan
Tema : Be an Ideal Muslimah: Upaya Mengenal Diri dan Peran Muslimah
Subtema : Wanita Muslimah Bersama Kedua Orang Tuanya
Pembicara : Fathiah Islam Abadan S.P.
Hari, tanggal : Ahad, 13 Desember 2020
Waktu : 08.30 – 10.00
Tempat : Zoom Meeting

Sesi Pematerian

Orang tua adalah hamba Allah yang nasabnya paling dekat dengan kita, sebab dalam diri kita mengalir darah mereka. Jalan yang haq untuk menggapai ridho Allah melalui orang tua adalah dengan berbakti kepada keduanya (birrul walidain). Selain itu, birrul walidain merupakan perintah dari Allah yang ditempatkan setelah perintah bertauhid, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Isra ayat 23 yang artinya, “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak,…”. Birrul walidain adalah kewajiban yang diturunkan oleh Allah karena kedua orang tua telah merawat kita saat berada dalam kondisi lemah dan tidak bisa meminta pertolongan apa pun. Seorang ibu memiliki keutamaan dibanding ayah karena 3 hal yang tidak dapat digantikan oleh ayah, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Meskipun begitu, tidak ada yang mampu menggantikan peran ayah dan ibu dalam kehidupan, sehingga prioritas ketaatan setelah Allah dan rasul-Nya adalah kedua orang tua.

Birrul walidain merupakan usaha semaksimal mungkin untuk melakukan segala bentuk kebaikan kepada kedua orang tua, baik yang bersifat wajib, sunnah maupun mubah, serta usaha untuk mencegah gangguan kepada keduanya.

Keutamaan dan pahala yang didapatkan dari berbakti kepada orang tua:

  1. Merupakan amal yang paling utama. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan keutamaan birrul walidain di atas jihad.
  2. Ridha Allah bergantung kepada ridha orang tua, serta murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua. Meskipun begitu, ketaatan kepada keduanya harus dalam koridor yang tidak bertentangan dengan syariat.
  3. Menghilangkan kesulitan yang sedang dialami. Ada suatu kisah yang membuktikan bahwa pertolongan Allah datang di tengah kesulitan karena kebiasaan mendahulukan orang tua dibanding keluarga (anak dan pasangan).
  4. Akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur dengan silaturahim. Hendaklah kita mendahulukan untuk bersilaturahim kepada orang tua sebelum keluarga lainnya.
  5. Akan dimasukkan ke surga oleh Allah ‘azza wa jalla. Sebaliknya, salah satu dosa yang membuat seseorang diazab di dunia oleh Allah adalah berbuat zalim dan durhaka kepada orang tua.

Bentuk-bentuk Berbakti kepada Kedua Orang Tua:

  1. Bergaul bersama keduanya dengan cara yang baik
  2. Berkata lemah lembut kepada keduanya dengan perkataan yang mulia dan menyenangkan hati. Serta, tidak mengatakan “ah” atau membentak mereka, terutama ketika orang tua telah lanjut usia.
  3. Bertawadhu’ (rendah hati) dan tidak kibr (sombong) saat meraih kesuksesan di dunia.
  4. Memberi infaq (shadaqah) kepada kedua orang tua
  5. Mendo’akan kedua orang tua, seperti salah satu doa:رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا”Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“.

Bentuk-bentuk Kedurhakaan kepada Orang Tua:

  1. Menimbulkan gangguan kepada orang tua dengan mengatakan sesuatu yang membuat mereka sedih atau sakit hati
  2. Meremehkan panggilan orang tua dan berkata “ah” atau “cis”
  3. Membentak atau menghardik orang tua
  4. Bakhil atau kikir, yaitu tidak mengurus kedua orang tua dan lebih mementingkan orang lain, serta memberi nafkah dengan perhitungan
  5. Bermuka masam dan cemberut di hadapan orang tua, serta merendahkan mereka
  6. Menyuruh orang tua melakukan suatu pekerjaan, kecuali dengan kemauan sendiri
  7. Menyebut kejelekan orang tua di depan umum
  8. Memasukkan kemungkaran ke dalam rumah
  9. Lebih menaati istri daripada kedua orang tua
  10. Malu mengakui orang tua

Amalan yang dilakukan apabila Orang Tua telah Meninggal:

  1. Meminta ampun kepada Allah dengan taubat nasuha jika pernah durhaka kepada mereka
  2. Menshalatkannya dan mengantarkan jenazahnya ke kubur
  3. Selalu memintakan ampunan untuk keduanya
  4. Membayarkan hutang-hutangnya
  5. Melaksanakan wasiat sesuai syariat
  6. Menyambung silaturrahim kepada orang yang keduanya pernah menyambungnya

Apabila Orang Tua Kafir atau Pelaku Maksiat:

Tetap wajib untuk berbuat baik dan bersilaturrahim kepada keduanya, mendakwahkan mereka dengan cara yang lembut dan mulia, serta mendoakan mereka agar memperoleh hidayah.

Sesi Tanya Jawab

  1. Bagaimana keadilan Allah bagi seorang ibu yang hanya memiliki anak perempuan, di mana jika anak-anaknya menikah, maka pengabdian utama anaknya berpindah pada pasangannya.

Jawaban: Keadilan Allah sebenarnya tidak bisa diukur dengan logika manusia karena akal manusia tidak bisa menjangkau ilmu Allah. Seorang istri wajib menaati suaminya dalam perkara yang tidak bertentangan dengan syariat, namun sebagai anak perempuan ia tetap wajib berbakti kepada orang tua dan sebagai mana suaminya juga wajib berbakti kepada kedua orang tuanya. Maka hendak pasangan suami-istri saling mendukung dan tolong menolong untuk berbakti kepada orang tua masing-masing. Jika terjadi pertentangan antara suami dan orang tua dalam hal mubah, muslimah hendaklah berusaha mengkompromikan perbedaan pendapat di antara kedua belah pihak, sehingga ia mampu mempertahankan rumah tangga dengan suami sekaligus menjaga kemuliaan orang tua. Untuk hal-hal yang berkaitan dengan syariat, maka harus mendahulukan yang menjadi keridhoan Allah. Olehnya itu, penting juga mencari pasangan yang sholih dan paham ilmu agama.

  1. Apakah seorang anak bisa membantu mengkhatamkan al-Quran untuk kedua orang tua yang sudah meninggal?

Jawaban: Pendapat terkuat yang diambil Ummu adalah bacaan al-Quran tidak bisa sampai kepada mayat. Tetapi, menghajikan, meng-umroh-kan dan berpuasa untuk menggantikan amalan orang tua diperbolehkan karena terdapat sumber yang shahih. Yang paling utama adalah memohonkan ampun (beristighar) untuk kedua orang tua dalam setiap waktu-waktu mustajabnya doa, seperti saat sholat tahajjud, shaum sunnah, sujud ketika sholat, waktu hujan, dan lain-lain.

  1. Bagaimana cara bersabar terhadap orang tua yang masih menganggap diri kita seperti anak kecil dan bersabar terhadap orang tua yang sudah sepuh sehingga sifatnya kembali seperti anak-anak?

Jawaban: Untuk menambah kesabaran, maka tambahlah rasa syukur kita terhadap kehadiran dan kebaikan orang tua selama ini. Karena jika kedua orang tua sudah meninggal, yang tertinggal hanya penyesalan. Selanjutnya adalah senantiasa mengingat janji-janji Allah dan keutamaan yang didapatkan saat kita mampu bersabar dalam berbakti kepada orang tua.

  1. Bagaimana sikap yang tepat saat seorang mahasiswa sedang dihadapkan dengan sesuatu yang mendesak, tetapi ada panggilan dari orang tua?

Jawaban: Untuk ibadah sunnah, seorang anak seharusnya lebih mengutamakan panggilan orang tua dan untuk hal wajib lebih mengutamakan ibadah wajibnya. Sedangkan, untuk hal-hal duniawi yang sifatnya mendesak, bisa mengomunikasikan dan menyampaikan ‘uzur kepada kedua orang tua dengan cara yang mulia agar mereka ridha dengan apa yang kita lakukan. Jika mampu hendaklah kita menyampaikan uzur sebagai bentuk meminta izin sebelum menunda penunaian terhadap panggilan mereka.

Tags: Kajian muslimah orang tua Rumah Aisyah

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

Jama’ah Shalahuddin Gelar Pelatihan Riset

Kabar JSKabar UGM Minggu, 19 Maret 2023

Riset merupakan hal yang paling mendasar supaya gerak dakwah Jama’ah Shalahuddin tepat sasaran. Untuk itu, Jama’ah Shalahuddin menggelar pelatihan riset untuk anggota yang diadakan oleh Departemen Kajian Strategis pada hari Sabtu (18/3).

Bertempat di Ruang Meeting Masjid Kampus UGM, Pelatihan Riset yang diisi oleh Ahmad Resa, S.Ag (Pengurus Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara) berlangsung pada pukul 08.35 WIB hingga menjelang waktu zuhur.

Kajian Rumah Aisyah 4 sesi 3 dengan subtema Meneladani Keteguhan Iman Asiyah Istri Fir'aun

Rumah Aisyah 4.3: Meneladani Keteguhan Iman Asiyah Istri Fir’aun

KajianKajianKajian Kamis SoreWomen Institute Indonesia Selasa, 12 Oktober 2021

Tema : Kisah Wanita Teladan yang Dirindukan Surga
Subtema : Meneladani Keteguhan Iman Asiyah Istri Fir’aun
Pembicara : Ustadzah Siwi Ummu Nabilah
Hari, tanggal : Ahad, 10 Oktober 2021
Waktu : 09.00–10.35 WIB
Tempat : Google Meet

Sesi Pematerian

Asiyah bintu Muzahim merupakan istri Fir’aun.

Kajian Rumah Aisyah 3 sesi 2 dengan subtema Meneladani Kemuliaan Akhlak Fatimah Az-Zahra

Rumah Aisyah 4.2: Meneladani Kemuliaan Akhlak Fatimah Az-Zahra

KajianKajianKajian Kamis SoreWomen Institute Indonesia Selasa, 28 September 2021

Tema : Kisah Wanita Teladan yang Dirindukan Surga
Subtema : Meneladani Kemuliaan Akhlak Fatimah binti Rasulullah
Pembicara : Ustadzah Siwi Ummu Nabilah
Hari, tanggal : Ahad, 26 September 2021
Waktu : 09.00–10.35 WIB
Tempat : Google Meet

Sesi Pematerian

1.

Kajian Rumah Aisyah 4 sesi 1 dengan subtema Meneladani Pengorbanan Khadijah binti Khuwailid

Rumah Aisyah 4.1: Meneladani Pengorbanan Khadijah binti Khuwailid

KajianKajianKajian Kamis SoreWomen Institute Indonesia Selasa, 14 September 2021

Tema : Kisah Wanita Teladan yang Dirindukan Surga
Subtema : Meneladani Pengorbanan Khadijah binti Khuwailid
Pembicara : Ustadzah Siwi Ummu Nabilah
Hari, tanggal : Ahad, 12 September 2021
Waktu : 09.00–10.35 WIB
Tempat : Google Meet

Sesi Pematerian

Istri nabi disebut ummul mukminin berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 6 yang berbunyi:

َّاَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ وَاَزْوَاجُهٗٓ اُمَّهٰتُهُمْ

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.”

Khadijah radhiyallahu’anha merupakan ummul mukminin yang pertama kali.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada