Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Kajian

4 Februari 2024 | Haid dan Hukum-Hukumnya (2)

  • Kajian, Tafsir Qur'an
  • 4 Februari 2024, 23.39
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM
  1. Al-Baqarah : 223

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا۟ حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّكُم مُّلَٰقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (2:223)

Ayat 222 berkaitan dengan haid kemudian ayat 223 lanjut bahasan lanjutannya yang masih ada hubungannya meskipun sebagian bahasannya bergeser ke tema yang lain. Bahasan tema ini dibatasi yang berhubungan dengan haid dan hubungan suami istri.

Orang-orang jahiliyah menjauhi istrinya ketika haid karena menganggap orang yang haid itu najis dan kotor. Padahal dalam Al-Baqarah ayat 222, makna “tidak boleh mendekati” bukan berarti menghindari secara keseluruhan. Rasulullah saw. memberi penjelasan terkait hal ini, yaitu: suami tidak meninggalkan/menjauhi istri secara keseluruhan. Yang dimaksud tidak boleh mendekati adalah berarti tidak boleh menggaulinya. Larangan tersebut tidak bersifat selamanya, setelah istri telah suci dari haid, seorang suami diperbolehkan untuk menggauli istri dengan cara yang baik.

Agama Islam memiliki Al-Qur’an yang mencakup berbagai ilmu dengan penjelasannya yang lengkap, detail, dan beretika, berbeda dengan kitab lain yang tidak lengkap dan memiliki penjelasan yang vulgar.

 

Asbabun Nuzul Al-Baqarah ayat 223

       Riwayat pertama menyebutkan : Ada kompleks yang dihuni oleh Kaum Yahudi yang mana mereka adalah ahli kitab (punya landasan dalam beramal, yaitu Kitab Taurat). Di sebelahnya ada kompleks yang dihuni oleh Kaum Anshar yang musyrik (menyembah berhala). Serta Kaum Quraisy (muhajirin).

Ketiga kaum tersebut memiliki perbedaan kebiasaan atau kepercayaan. Ketika seorang quraisy menikahi Wanita anshar, mereka punya kepercayaan atau kebiasaan. Wanita anshar tersebut pun menolak ajakan suaminya dan di kemudian hari, hal ini menjadi permasalahan yang menyebar, kemudian turunlah ayat ini.

Riwayat kedua menyebutkan, orang yahudi memiliki kepercayaan menggauli istri dengan satu cara, jika menggauli lewat belakang anaknya bisa juling ataupun memiliki kelainan lain. Kemudian turunlah ayat ini yang menyanggah kebiasaan Kaum Yahudi tersebut dan membenarkan kebiasaan Kaum Quraisy. juga masih terdapat riwayat lain.

Kesimpulan: ayat ini menyanggah kepercayaan orang-orang Yahudi (Nasrani) dan Anshar bahwa menggauli istri hanya boleh dengan satu cara dan membenarkan kebiasaan orang quraisy yaitu

فَأْتُوا۟ حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ  

“maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki”. Perintah untuk memprioritaskan amal-amal shalih, bertakwa kepada Allah SWT. dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

 

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا۟ حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Pada ayat 223, disebutkan: Istri-istrimu adalah ladang bagi kalian. Ayat ini memisalkan dengan kata “ladang”. Hal ini menunjukkan adanya akhlak atau etika dalam Al-Qur’an. Disebut ladang karena ada sifat subur. Ketika ada benih, benih itu bisa tumbuh (terjadi pembuahan). Sebagaimana ladang yang harus dijaga, dirawat, diperhatikan, dan diperlakukan dengan baik, maka begitu pula  seorang suami kepada istrinya. Seorang suami menggauli istri tidak boleh melalui dubur, melainkan hartsun (tempat keluarnya bayi).

وَقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُمْ

Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu. Beramallah untuk diri kalian sendiri, sebab amal itu untuk diri sendiri. Ayat ini memiliki makna yang berkaitan dengan Al-Baqarah ayat 110, yang artinya: “semua amalan yang kita kerjakan itu akan kita dapati pahalanya di akhirat kelak.”

Ayat ini menunjukkan adanya skala prioritas, terlihat dari kata  قدّم-يقدّم yang berarti mengedepankan. Rasulullah saw, bersabda   مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ   yang artinya, “dari kebaikan islam seseorang yaitu meninggalkan hal-hal yang tidak ada maknanya” (HR. Tirmidzi). Jadi, yang harus dikedepankan adalah hal-hal yang bermakna yaitu beramal shalih.

وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ

Bertaqwalah kepada Allah SWT. dalam segala hal, dimanapun dan kapanpun, termasuk menggauli istri sesuai dengan yang diperintahkan dan tidak melakukan yang dilarang, dan janganlah sekali-kali melakukan perbuatan dosa.

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّكُم مُّلَٰقُوهُ

Dan ketahuilah bahwa kamu akan menemui Allah. Semua manusia akan dibangkitkan dan bertemu dengan Allah SWT. di akhirat kelak dalam keadaan tidak menggunakan sandal dan tidak menggunakan sehelai benang pun dengan berjalan kaki tanpa ada tunggangan dalam keadaan masih muda.

وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang imannya dapat mengantar mereka mematuhi syariat-syariat Agama Islam. Kabar gembira merupakan balasan yang baik di akhirat kelak.

Tanggung jawab pendidikan orang tua kepada anaknya yang akan menikah adalah mengajarkan anaknya tentang pendidikan setelah menikah. Karena pendidikan terkait kehidupan pernikahan sering dianggap menjadi hal yang tabu dan sensitif. Jika bukam orang tuanya yang mengedukasi, khawatirnya anaknya salah guru atau belajar dari sumber yang tidak tepat. Para sahabat Rasul saw. tidak bertanya hal-hal seperti diatas secara gamblang. Berbeda dengan wanita anshar yang bertanya kepada Rasul saw. karena mau mengetahui ilmunya.

 

Tidak ada Sesi Tanya Jawab.

[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=16uJmIWQzJE&list=PLjoNNiayadaKT4mynuMQluO6NUpLHUL-R&index=25″]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin