Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Kajian
  • Kajian Kamis Sore

Safari Dakwah Jama’ah Shalahuddin x Dompet Dhuafa 03 Oktober 2024 | Peduli Bersama: Membangun Masa Depan Anak-Anak, Wanita, dan Penyandang Disabilitas Palestina

  • Kajian Kamis Sore
  • 3 Oktober 2024, 18.00
  • Oleh : nastitimoorya2006

 

Pembicara : Sayyidah Fatma Al-Ghussain

Penerjemah : Ustadzah Isyfi

Sesi 1 | Penjelasan

Sayyidah Fatma Al-Ghussain salah seorang muassasah asli warga Ghaza, berhasil meninggalkan gaza saat tahun 2000-an ketika infansi dan tinggal kini tinggal di Kanada. Beliau fokus menjadi aktivis kemanusiaan.

 

Hanya bulan lalu, 15 saudara beliau yang masih di Palestina syahid. Sesungguhnya yang kita lihat di sosial media itu merupakan sebagian kecil sekali yang membagikan kejadian yang terjadi di Ghaza. Penjajahan dilakukan di Palestina itu sudah sangat jauh sebelumnya, bukan dari 7 Oktober. Penjajahan sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, 60 tahun kira-kira sudah berlalu. Bukan hanya sekedar penjajahan fisik saja, semua hal yang menunjang kehidupan dibatasi oleh Israel. Sudah 20 tahun lalu air sudah tidak bisa dikonsumsi di Ghaza, hanya 4 jam listrik di gaza.

 

60 tahun berlalu warga Palestina dalam penjara raksasa. Mereka tinggal di alam yang terbuka, tetapi sesungguhnya itu adalah penjara yang sangat besar sekali. Bahkan saudara disana tidak bisa shalat di Masjid Al-aqsha. Kejadian terbaru memang perang ini dimulai pada 7 oktober, sejak hari itu hingga sekarang ±5000 jiwa meninggal dunia, diantaranya perempuan dan anak anak. Hanya ditahun ini 25.000 anak anak sudah syahid, 3.000 diantaranya anak dibawah 1 tahun.

 

Tidak ada satupun tempat yang aman di Ghaza. Israel meminta warga Palestina pindah dari bagian utara ke bagian selatan Ghaza. Tetapi justru yang Israel katakan itu tempat yang aman ternyata disitulah Israel melakukan bantaian. Tidak pandang bulu mereka membombardir kawasan tersebut. Ketika Israel menghancurkan rumah saudara kita disana, akhirnya mereka tinggal di kemah. ±1 juta sudah tinggal dikemah-kemah tersebut. Kondisi musim hujan di Palestina diiringi salju, dan ini sangat dingin. Parah lagi mereka tinggal ditenda yang tidak layak. Tidak sampai disana, Israel selanjutnya membakar saudara kita yang ada di dalam tenda pengungsian.

 

Sayyidah Fatma Al-Ghussain bercerita, ketika mereka meminta anak-anaknya untuk membeli sesuatu di warung, yang pulang bukanlah barang yang dititipkan tetapi potongan-potongan tubuh. Senjata yang digunakan untuk membunuh warga Palestina adalah senjata yang dilarang oleh PBB. Senjata tersebut sudah dilarang untuk semua peperangan tetapi tetap digunakan oleh Israel. Atau Ketika seorang ibu keluar dari rumahnya dan anak-anak tinggal dirumah, bisa ada 2 kemungkinan yang terjadi yaitu pertama rumahnya kokoh serta anak yang dalam kondisi baik sedang menunggu ibunya pulang tetapi sang ibu meninggal dunia atau yang ke-dua yaitu ibunya selamat membawa barang yang akan dibawa ke rumah tetapi rumahnya sudah hancur dan anak-anaknya meninggal dunia dibawah reruntuhan bangunan.

 

Jika search di google madrasah tabi’in, kita bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi disana. Terjadi ketika setelah shalat subuh, seharusnya ada Halaqah Al-Qur’an. Tentara Israel datang. ±120  orang-orang datang ke masjid itu syahid. Setelah terdengar kabar orang-orang yang ada di masjid itu syahid, orang-orang sekitar datang ke masjid untuk mendapati kondisi keluarganya itu bagaimana. Bangunan sudah runtuh dan potongan-potongan badan dikumpulkan sampai membentuk gunungan. Sampai-sampai petugas disana bertanya kepada yang mencari keluarganya, “Berapa berat keluargamu (anakmu)?”. Lalu petugas mengambilkan potongan tubuh yang tidak dikenali tersebut sebanyak berat yang dikatakan oleh keluarga yang syahid tadi untuk dikuburkan oleh keluarganya. 

 

Mungkin kita pernah melihat seorang bapak-bapak yang mengangkat tangannya membawa selembar akte kelahiran. Pada hari itu bapak tersebut mengurus akte kelahiran anaknya yang kembar setelah sekian lama sudah menikah dan baru dikaruniai anak. Saat akte kelahiran sudah jadi dan sang bapak pulang kerumahnya, ia mendapati anak dan istrinya meninggal dunia.

 

Mungkin kita juga pernah mendengar berita rumah sakit di palestina sudah dihancurkan, salah satunya Rumah Sakit As-Syifa dari Indonesia. Kondisi peperangan saat ini tersisa 2 rumah sakit,  ±seratus ribu saudara di kota Ghaza terluka dan banyak yang tidak bisa dirawat dengan baik. Tidak mungkin saudara di kota gaza banyak yang dipulangkan dari rumah sakit dengan kondisi luka luka yang tidak terawat. Mereka yang bertahan mungkin bisa pulang lalu sembuh sendiri atau harus diamputasi. Banyak dari anak kecil setiap hari lebih dari 10 anak di amputasi dari bagian tubuhnya.

 

Saking banyaknya kejadian, Sayyidah Fatma Al-Ghussain sampai bingung cerita apa lagi yang harus disampaikan. Apakah harus menceritakan banyak wafatnya anak-anak karena luka yang tidak bisa diobati? aau bercerita perempuan hamil disana mendapatkan tempat yang tidak layak untuk melahirkan, walaupun tempat sekecil mungkin. Atau wanita yang tidak mendapatkan kebutuhan hidup, bahkan mereka memotong rambut keluarga mereka karena tidak ada sampo yang bisa membersihkan rambut mereka. Bahkan untuk kebutuhan kamar madi bisa mengantre 2 sampai 3 jam.

 

Kondisi saudara di Palestina yang kakinya retak sampai berbau. Pilihannya hanya ada 2, sembuh dengan sendirinya atau meninggal diamputasi. Kondisi sekolah dan kampus di bulan gaza, bulan September mulai. Di 7 oktober tidak ada kehidupan sekolah di Ghaza. Bahkan ada yang melanjutkan diluar kota Ghaza, tetapi orang tua mereka tidak bisa mengirimkan biaya untuk mereka sekolah, sehingga terhenti pendidikan sekolahnya. Kita berharap dengan bantuan kerjasama Dompet Dhuafa yang diberikan bisa membantu warga di Ghaza.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada