Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • JS Menulis
  • Hikmah

Apa Untungnya Bagiku?

  • Hikmah, JS Menulis
  • 4 Desember 2007, 22.21
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM
  • 1

Oleh: “Pak Wandi”

(Sempat terhapus dari website JS. Diterbitkan kembali 26 Juli 2019 dengan perbaikan ejaan)

Kalau kita mau merenung sejenak, kita akan menyadari bahwa setiap hari diri kita selalu dihadapkan pada berbagai pilihan yang menuntut adanya keputusan. Dari sejak akan bangun tidur, kita sudah harus memilih akan bangun tidur jam berapa. Ketika mau makan pagi, kita juga dihadapkan akan makan apa. Ketika mau beraktivitas, kita pun harus memutuskan mau melakukan apa. Setiap saat, bahkan setiap detik, kita adalah seorang decision maker.

Dalam hal yang lebih besar, peran kita sebagai decision maker ini semakin nampak dan membutuhkan pertimbangan yang semakin mendalam. Seperti dalam menentukan jurusan kuliah, seperti dalam memilih organisasi mahasiswa yang akan diikuti, atau bahkan ketika memilih pasangan hidup dan pekerjaan. Semuanya membutuhkan pertimbangan dan pemikiran lebih agar dihasilkan keputusan yang bijak.

Dalam setiap keputusan yang dipilih, pasti akan membawa konsekuensi. Ada hak kewajiban, ada untung rugi. Dalam dunia bisnis pun dikenal istilah risk and benefit ratio, sebuah perhitungan yang cermat dengan membandingkan untung dan rugi sebelum suatu keputusan diambil. Dan hal inilah yang harusnya dipakai seseorang sebelum mengambil sebuah keputusan apapun itu bentuknya. Hal pertama yang harus dipikirkan adalah apa untungnya bagiku?

Namun, sebagai seorang muslim, ketika dia harus menghitung-hitung keuntungan apa yang akan diperolehnya dari keputusan yang diambil. Keuntungan akhirat selalu menjadi prioritas pertama dan utama, dibandingkan dengan keuntungan dunia dan keindahan semu yang menyertainya. Ketika dihadapkan pada sebuah pilihan, dia harus bertanya pada hatinya, “apa untungnya bagi akhiratku, atau jangan-jangan ini akan merugikanku di akhirat?”. Ketika dia harus memutuskan, dia harus bertanya, “apakah hal ini akan mengantarkanku ke surga atau malahan akan menjerumuskanku ke neraka?”.

Jika hal ini selalu dilakukan oleh seorang muslim, maka dia akan selalu berada dalam kebaikan kapanpun dan dimanapun dia berada, dalam setiap pilihan yang dibuatnya.

Dan beginilah Allah mengajarkan tentang apa yang menguntungkan bagi diri kita,

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (As-Shaff: 10-12).

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Komentar (1)

  1. Adi (30 Desember 2007) 6 tahun lalu

    Subhanallah, andai semua umat muslim punya priorita akhirat niscaya tidak ada kasus-kasus yang hanya berprioritas dunia , tapi gimana ya caranya??? hanya orang2 terpilihlah yang mampu seperti itu..

    Reply

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Jama'ah Shalahuddin